26 November 2018

ALIRAN RASA Game Level 3

Awalnya, jujur, saya bingung dengan tantangan meningkatkan kecerdasan anak di game level 3 Bunda Sayang ini. Bingung karena suami bolak-balik Temanggung-Banjar, sementara anak saya juga masih usia 22 bulan. Mau bikin proyek apa ya yg mengasah kecerdasannya? Kecerdasan apa yang harus saya stimulasi lebih di usia nya ini. Lama tidak menulis, saya melihat postingan teman saya yang lebih dulu sudah menentukan proyek keluarganya. Pun saya menyimak diskusi di grup, membaca materi beberapa kali. Pesan penting yang saya tangkap dari fasilitator saya adalah, buatlah proyek keluarga yg melibatkan anak utk meningkatkan kecerdasannya, meski proyek itu simpel, tidak apa-apa, pasti nanti ketemu polanya.

Ada beberapa yang benar-benar membuat suatu 'proyek', melibatkan suami dan anak seusia TK-SD, dan menghasilkan karya. Saya pikir, memang sih Fathan, anak saya, sudah bisa diajak bikin ini itu, tapi masih saja saya ragu. Akhirnya, karena memang saya sedang meniatkan untuk menyapih Fathan dalam waktu dekat, saya putuskan untuk mengerjakan proyek berjudul "Weaning with Love" menyapih dengan cinta.

Waktu terus berjalan, dan memang mengalir begitu saja. Tidak setiap hari rencana saya berhasil. Pun tidak setiap hari kecerdasan anak saya kelihatan bertambah. Yang ada, dalam proses penyapihan kemarin, kami banyak melibatkan emosi. Konsep Weaning With Love yang kami jalankan juga tidak sesuai teori kebanyakan. Kami masih menerapkan cara menyapih orang-orang terdahulu dengan 'memaksa anak tidak mau menyusu' dengan cara yang kurang sesuai teori WWL dimana harusnya anak diajak berdialog hingga mau total meninggalkan aktivitas nenennya. Awalnya memang ingin begitu, tapi ternyata saya dikejar waktu, saya harus cepat-cepat menyapih Fathan karena kondisi kami yg sudah kami ceritakan di postingan2 kami di blog.

Jadilah Fathan berhasil disapih dalam kurun waktu satu minggu. Selama proses menyapih, kecerdasan yang ingin saya tingkatkan adalah kecerdasan intelektual terutama verbal dan kecerdasan emosi, untuk tidak selalu harus bersama saya. Alhamdulillah, sekarang, setelah selesai tantangan level 3 dan setelah selesai proses sapih, Fathan makin menunjukkan kecerdasannya.

Sebagai contoh, saat dulu dia lapar, ya dia tinggal bilang "Ibuk, mimik..". Lalu kini, dia bisa membedakan haus dan lapar. Dia akan lari ke dapur untuk minta dibuatkan susu, atau teh, atau jika hanya ingin minum air putih, ya dia bilang "mik putih..". Atau ketika lapar, dia akan mencari camilan atau makanan, sambil bilang "maem, nandi maem..". Atau saat ingin makan camilan, dia bilang "wafer.. roti..".. Atau saat dia mengantuk, dia bilang "bobook, kamar..". Yang saya pikir, kecerdasan verbalnya sudah ada peningkatan, sudah lebih spesifik dalam mengutarakan keinginannya.

Pun begitu dengan kecerdasan emosinya. Saat awal-awal proses menyapih, saya juga sering mengajaknya ngobrol. Bahwa,
"nenen Ibu sudah tidak enak buat Fathan", atau
"Fathan nenennya sudah ya, gantian sama adek, ini ada adek di perut Ibu..nanti kalau perut Ibu sudah besar, insyaallah adek lahir, owek-owek, terus nenennya buat adek.."
Lalu kini, dia pun sering bilang "adek, adek," sambil menunjuk perut saya.. Meski kini dia juga masih posesif, apa-apa masih harus dengan saya, tapi insyaAllah dia makin terlihat dewasa. Tidur sudah tidak harus nenen, tidak harus digendong, saat terbangun malam pun sudah tidak terlalu rewel. Saat bangun tidur juga langsung bangun, tidak banyak merengek, meski kadang saat dia masih capek, dia hanya ingin berguling-guling dulu di kasur, baru mau bangun dan turun dari kasur beberapa saat setelahnya.

Tugas saya selanjutnya, meski game level tiga sudah selesai, adalah bahwa saya masih harus memantau dan meningkatkan kecerdasannya. Yang berarti juga, kecerdasan saya juga harus ditingkatkan.

#KuliahBundaSayang
#AliranRasa
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

17 November 2018

Rewel Semalam



Saya pikir, setelah melewati malam pertama tanpa nenen dengan lumayan tenang, maka malam berikutnya akan makin tenang, hanya akan rewel sedikit seperti malam sebelumnya. Ternyata tidak, Fathan terbangun jam 10, menangis tidak mau ditenangkan. Saya gendong, salah, dia maunya tiduran sambil nenen. Lalu saya biarkan, saya tawari lagi UHT dan wafer. Dia masih belum mau. Akhirnya saya gendong, dia menunjuk-nunjuk luar, minta keluar.

Ah iya, karena saking keras suara tangisnya, Ibu saya sampai masuk kamar, ingin ikut menenangkan Fathan. Kebetulan suami saya masih belum sampai rumah, masih di Banjarnegara.

Melihat Ibu saya, suara tangis Fathan malah makin kencang, di tidak mau digendong Mbah, maunya Ibu! Jadilah saya keluar kamar bersamanya, menghidupkan semua lampu. Ibu menyalakan televisi, Fathan bisa ditenangkan, anteng melihatnya, minta saya duduk menghadap tivi dan dia tenang di pangkuan saya, sampai akhirnya mau tidur, tapi tidak mau tidur di kamar. Kebetulan kami memang menyediakan kasur di ruang tengah, jadilah dia terlelap di situ.

Saya berniat membersamai Fathan tidur di ruang tengah. Sambil menunggu kabar suami, karena beliau bilang malam ini mau pulang. Sampai jam 12 malam, saya belum bisa tidur. Lima menit berselang, suami datang.

"Loh tidur di sini? Pindah kamar aja yuk, kasihan Fathan dingin.." pinta suami

Baiklah saya pindah ke kamar. Dan memang, langsung bisa tidur. Jam dua Fathan terbangun, menangis lagi. Karena waktu terbangun jam 10 tadi dia belum mau minum, pasti jam 2 ini dia lapar. Benar saja, saat saya sodorkan wafer dan UHT, dia mau makan dan minum,, glundang-glundung, tertidur kembali.

What a Weaning With Love! Meski metodenya berbeda dengan ibu-ibu modern kebanyakan yang sungguh-sungguh menerapkan WWL, bukan berarti kami tidak menyapih dengan cinta, karena bentuk cinta pada masing-masing keluarga itu unik, tidak harus sama :).

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

16 November 2018

UHT Tengah Malam

Setelah sehari tidak nenen, lalu terbangun malam masih nenen. Hari berikutnya saya niatkan untuk benar-benar lepas nenen. Kami siapkan kesukaan Fathan saat ini, susu UHT dan wafer. Tidur jam setengah delapan di gendongan saya, Fathan terbangun jam 11, mencari nenen dan menangis. Saya tawari UHT belum mau, malah tertidur kembali saat saya usap-usap punggungnya.

Jam satu malam terbangun lagi, menangis lagi, lalu saya bujuk dia untuk minum susu UHT dan makan wafer. Dia malah langsung minta dibukakan wafer saja, baru mau minum susu. Setelah itu, dia melihat album foto yang siang tadi kami lihat bersama. Lalu dia tertawa-tawa melihat fotonya sendiri.

"Mipat, mipat..", katanya, 'mripat', saat melihat fotonya dengan matanya yang bulat.

Aah, Fathan, orang-orang saja gemas lihat matamu saat melolo begitu. Ternyata kamu baru sadar kalau matamu bulat, nak!

Setelah tertawa-tawa, dia balik lagi lembaran albumnya, dan melihat foto saat dia tidur wakty bayi dulu. Dan malah lalu dia minta berbaring..

"Bobok, kene.." bobok sini, katanya.

Dan malam itu kami bisa melewatinya, semalam tanpa nenen Ibu lagi. Semoga malam-malam berikutnya makin mudah..

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

15 November 2018

Menyapih adalah Pembiasaan


Beberapa kali saya mendengar cerita orang-orang tua menyapih. Saran mereka macam-macam. Ada yang harus di hari 'weton' ibunya agar anak tenang, jangan di hari 'weton' anaknya, nanti rewel ga selesai-selesai. Ada juga yang harus pergi ke dukun untuk dapat 'obat' agar proses menyapihnya mudah. Yang paling umum sih, ya menyediakan semua kesukaan anak saat dia pengen nenen, intinya mengalihkan perhatiannya. Kini, saya juga sering mendengar dari ibu-ibu muda modern, sebaiknya menyapihlah dengan cinta, dengan sering mengajak anak ngobrol tentang penyapihan, dengan membacakan doa pada anak, dan tidak memaksa anak.

Saya juga sangat ingin menerapkan WWL yang sesungguhnya. Tapii ternyata keadaan saya megharuskan untuk segera menyapih Fathan. Ya sudah, seperti cerita dalam postingan saya sebelumnya, saya terpaksa mengoleskan jahe pada puting saya, dan mengalihkan perhatian Fathan saat ingin nenen. Satu hari berjalan, aman. Malam menjelang, Fathan masih rewel saat mau tidur,  jadilah saya dekap, saya timang-timang, akhirnya tertidur. Saya pikir, insyaallah Fathan akan mengerti seiring berjalannya waktu dan bagaimana saya membiasakan untuk sudah tidak memberinya nenen lagi. Tiap kali melihat dia terlelap, saya kasihan, tapi saya yakin, dengan pengalaman ini, semoga menjadikan dia makin dewasa, makin cerdas dan mandiri.

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Pedes


Suami membelikan jajanan macam-macam sebagai pengalih perhatian Fathan ketika tidak boleh nenen. Saya sebenarnya sangat ingin menerapkan Weaning With Love yang sesungguhnya, tanpa ada pahit-pahit, pedas-pedas, atau apalah untuk menggambarkan 'nenen Ibu sudah tidak boleh lagi diminum'. Tapi pengalaman sebelumnya, saat saya ingin menyapih yang pertama kali, saya menghindar dari Fathan dan dia dibawa Bapaknya, kadang Mbahnya, lalu saat bertemu saya, saya menolak untuk menyusui, saya bilang, "Gantian sama adik, ya.." Fathan jelas sekali terlihat tidak terima.

Maka kini, selain saya sounding terus saat dia nenen, saya juga menyiapkan mental saya. Juga menyiapkan apapun, sebisa mungkin Fathan segera disapih. Demi kesehatannya, saya, dan adiknya yang masih di dalam kandungan.

Dengan amat sangat terpaksa, saya mengikhlaskan Fathan merasakan sedikit 'pedas' saat ingin nenen. Saya memarut jahe dan mengolesi sedikit pada puting saya saat dia mau nenen.

"Pedes, hahah.." kata Fathan sambil geleng-geleng. Dan dia tidak mau.

Lalu saya beri dia susu UHT, dan dia mau minum. Selain itu juga camilan, apa saja, biskuit, wafer, bolu, gethuk, juga mainan mobil-mobilan, puzzle karpet, dan lainnya.

Karena Bapaknya sedang ada di rumah, akhirnya dia ditimang-timang Bapaknya sampai tertidur jam 9 pagi. Jam 10 sudah terbangun, minta nenen lagi, tapi dia sadar, dia bilang "Pedes" sambil menangis..

Lalu kami bawa ke luar kamar. Di depan, Ibu dan Bapak saya sedang bersiap pergi kondangan. Akhirnya Fathan diajak ke kondangan, tanpa saya. Sementara mereka kondangan, suami saya juga bersiap untuk pergi ke Banjarnegara, jual ikan. Jadilah saya sendiri di rumah.

Sepulang kondangan, seperti biasa Fathan sudah ceria, lupa kalau dia butuh nenen. Begitu terus sampai malam menjelang. Tiap kali lihat saya dan pengen nenen, dia bilang "Pedes..hahah".

Kasihan sebenarnya, tapi sekali lagi, demi kebaikan bersama, insyaallah..
Lalu tibalah waktu tidur malam, menjelang tidur dia sangat ingin nenen, tapi dia sendiri tahu kalau nenen Ibunya pedes. Ya sudah agak rewel sedikit. Lalu saya ajak gendong, saya timang-timang saat dia sudah ngantuk sekali. Dan tertidur.. Saya taruh di ranjang.

Jam 11 malam dia terbangun, saya sodorkan nenen saya yang sudah dioles jahe sebelum tidur. Ternyata dia tidak merasa pedas, ya sudahlah, saya mengalah untuk malam ini. Dan bertekad malm berikutnya sudah tidak ada aktivitas nenen lagi. Bismillah..

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

11 November 2018

Menguras Energi


Pulang dari Semarang, di hari berikutnya, saya merasa sangat lelah. Rasanya ingin tidur saja. Fathan sudah tidur dari jam sembilan, masih saya nenenin. Jam sebelas, saya masih menemaninya di tempat tidur. Dia terbangun, minta nenen lagi, saya kira akan bangun, ternyata tidur lagi. Saya beranjak dari tempat tidur untuk makan, tapi tidak seenak biasanya. Saya rasa terlalu lelah. Akhirnya jam 12 saya tidur menemani Fathan. Hujan turun. Lengkap sudah suasana siang ini. Fathan masih tertidur. Jam satu saya beranjak untuk shalat dzuhur. Gantian Bapaknya menemani Fathan yang masih belum mau bangun.

Akhirnya dia bangun jam dua. Alhamdulillah setelah saya sudah lumayan segar. Langsung saya tawari dia makan. Lalu dia makan sambil bermain karpet puzzle favoritnya. Jam tiga Mbah Yayi pulang, membawa nasi kuning sisa lomba menghias tumpeng Hari Guru pagi tadi.

Setelah mandi, Fathan makan nasi kuning, lumayan banyak. Tidak 'nembung' nenen.

Baru malam hari menjelang, saat dia sudah ngantuk sekali, dia minta dikelonin di kamar, minta nenen. Setelah dia tertidur, saya merasa sangat lemas kembali. Tengah malam, saya utarakan niat saya pada suami untuk betul-betul menyapih Fathan. Adik Fathan yang sedang tumbuh di dalam rahim, ditambah Fathan yang aktivitasnya sudah sangat banyak, belum saat dia masih minta nenen, benar-benar menguras energi saya. Padahal kadang saya dilanda rasa mual, yang tidak memungkinkan banyak makanan masuk seperti saat tidak mual..

Bismillah, pagi hari menjelang, kami sudah akan menyiapkan keperluan menyapih Fathan..

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Ke Semarang


Hari ini, jadwal saya bimbingan tesis di Semarang. Setelah kemarin janjian dengan dosen pembimbing, beliau siap menerima mahasiswa maksimal jam 9 pagi. Jadilah saya bersiap sepagi mungkin dari Temanggung. Sampai Semarang pukul 8 lebih, saya hubungi dosen saya lagi. Alhamdulillah menunggu sebentar dan akhirnya bimbingan hingga pukul setengah sepuluh.

Selesai bimbingan, kami memutuskan untuk makan, lalu lanjut silaturahmi ke guru ngaji saya dulu, yang juga mentaarufkan saya dan suami waktu itu.

Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Fathan menyusu saat berangkat dari Temanggung, tertidur sampai Ungaran. Lalu bangun, minta minum air putih. Sepanjang menunggu saya bimbingan, dia aman bersama Bapaknya. Minum air putih, makan bolu, mangga, dan camilan lain. Sampai selesai di tempat guru ngaji saya pun, dia sama sekali tidak minta nenen. Dan karena saking ngantuknya, keluar dari guru ngaji, naik mobil, langsung tertidur.

Sebenarnya Fathan sudah tidak terlalu bergantung dengan ASI saya, dia sudah kenyang kalau makan dan minum macam-macam, tapi dia merasa aman dan nyaman dengan aktifitas nenen. Maka saat dia ngantuk dan ingin bersama saya, dia pasti minta nenen. Padahal kalau sedang tidak dengan saya, dia bisa saja tertidur di gendongan Baoak atau Mbahnya.

Di tengah perjalanan pulang ke Temanggung, kami berhenti di Sumowono untuk shalat ashar. Fathan terbangun, sekalian ikut ke Masjid. Cuci muka, main-main sebentar. Lalu kami mampir ke warung, beli jus dan sup buah untuk teman perjalanan. Di jalan, Fathan ingin duduk sendiri di depan, menemani Bapaknya, jadilah pakai jaket, kaos kaki, duduk di depan dengan mengencangkan sabuk pengaman. Saya memang sedang agak tidak enak perut, maka saya biarkan saja.. Melihat pemandangan begitu saja, saya masih trenyuh. Masih sering tidak menyangka kalau Fathan sudah bisa dibiarkan sendiri, tidak harus menempel Ibunya. Tapi saya menenangkan diri, membiarkan dia belajar mandiri, melatih kecerdasan emosinya saat jauh dengan saya.

Tapi hanya sekitar 15 menit, dia kedinginan, saya tidak tega, akhirnya saya peluk, saya nenenin lagi sambil dipijat punggungnya. Setidaknya, Fathan sudah seharian bersama saya tapi tidak 'nembung' nenen, insyaallah hari-hari berikutnya akan lebih mudah untuk disapih..

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

8 November 2018

Ditinggal Setengah Hari


Hari ini, jadwal saya mengikuti tes CPNS di Magelang. Jadwal tes jam 4, tetapi saya harus sudah di sana maksimal jam 3 sore untuk registrasi. Kami putuskan untuk tidak membawa serta Fathan. Karena pasti akan sampai rumah malam-malam, dan dia sudah keseringan kami ajak bolak-balik Temanggung-Semarang.

Pukul 12 siang, saya dan suami bersiap untuk pergi. Fathan sudah dibawa Ibu saya main ke tetangga. Saya shalat, makan, dan menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa. Jam 1 kurang kami berangkat. Saya meyakinkan diri dan suami, Fathan akan aman bersama Mbah Yayi dan keponakan kami.

Alhamdulillah saya menjalani tes dengan lancar, meskipun belum lolos di tahap tersebut. Setidaknya jadi lega, dan mantap melanjutkan apa-apa yang harus diselesaikan. Setelah shalat maghrib, kami keluar dari kompleks gedung tes. Karena lapar, kami putuskan untuk makan dulu sebelum sampai rumah yang jaraknya kurang lebih satu setengah jam.
"Fathan sudah bobok, ngga rewel" begitu bunyi WA dari Ibu.
Alhamdulillah, saya makin tenang.

Sampai rumah sudah sekitar jam setengah sembilan malam. Saya tengok, Fathan sudah pulas tidur bersama Mbah, di kamar depan, kamar yang biasa Ibu saya tempati saat istirahat siang.
"Ga rewel Pak, Buk tadi?"
"Nggak. Nggak nanyain segala malah.." kata Bapak saya
"Trus ini bobok digendong?"
"Iya mimik susu trus bobok.. Jam setengah tujuh tadi wes.."
"Ooh.."
"Coba biar tidur sini. Ibu sudah siapin susu sama air anget. Nanti kalo kebangun biar mimik susu ini.." ujar Ibu
"Gapapa Buk?"
"Ora popo, jajal ya.. Nek rewel ta balikin.."

Jam setengah sepuluh, saya dan suami sudah mau istirahat.
"Itu Fathan beneran gapapa di sana sama Mbah?" tanya suami
"Iya, nanti kalo rewel kan dibawa ke sini.."

Sepuluh menit kemudian. Fathan menangis. Lalu Ibu memangkunya, memberinya susu. Dia mau minum, karena tidak lihat saya. Tapi Ibu sepertinya tidak tega.
"Ibuuk.." Ibu memanggil saya, menirukan Fathan.
"Iyaa.." saya beranjak ke depan
"Sek sek.. Jangan nongol dulu coba.." kata Bapak

Saya hanya mengintip, dan Fathan sedang minum susu sama Mbah, tapi tampangnya sama sekali tidak ikhlas, hehe..
"Wes, Buk.." kata Ibu
Akhirnya saya nongol di depannya.
"Ibuk sekolah ya.." kata Ibu lagi..
"Emoohh.. Ibuuk.." lalu Fathan menghambur pada saya, saya sodorkan cangkir minumnya, dia sudah tidak mau.
"Mimik,, kamar.." tanda dia sudah sangat ngantuk, minta nenen di kamar.

Aahh. Belum tega rasanya melepas sapih Fathan. Apalagi saat dia tidur malam. Saat siang, dia sudah mulai terbiasa untuk tidak nempel terus pada saya, bisa dicarikan alternatif. Tapi saat malam, hanya Ibunya yang mampu meredam rewelnya. Tekad saya masih tetap untuk WWL, kapanpun saat kami berdua siap, insyaallah kami menyapih dengan cinta.

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Belajar Alfabet


Dulu ketika masih awal-awal belajar jalan, kami memboyong Fathan ke Semarang untuk ikut saya menyelesaikan penelitian. Kami membawa serta mainan Fathan, salah satunya poster-poster gambar hewan, buah-buahan, dan huruf hijaiyah. Karena tinggal di lingkungan mahasiswa, teman main Fathan tidak banyak. Kami sering berduaan di kamar kos, mainannya ya itu-itu saja. Tapi ketika kami kembali ke Temanggung, Bapak Ibuk senang karena ternyata di usia Fathan yang baru satu tahun lebih sedikit, sudah bisa mengerti beberapa gambar. Sudah bisa mengikuti saya menyanyi huruf hijaiyah a la Upin dan Ipin, meski ikut di pengucapan 'ya' saja, huruf terakhir.

Kini, ketika hampir menginjak usia dua tahun, Fathan sudah sering di rumah. Mainan favoritnya adalah karpet puzzle pembelian kakak saya bertahun lampau. Fathan suka sekali menyusun angka dan huruf-hurufnya, SETIAP HARI. Karena memang kami tidak banyak membelikan mainan, jadi ya itu-itu saja mainannya. Sambil menata, sambil saya tunjukkan,
"Ini eN, eN.."
"Endi eN, endi eN?"
"Kalo ini eFF, eFF.."
dia menirukan, "eFF..", sambil air liurnya muncrat-muncrat! Hehe..
Kadang juga saya ajarkan pelafalan a, be, ce, de,, dia malah tertawa. Sepupunya, terpaut usia 11 bulan lebih tua, belum bisa mengucap huruf 'S', maka saya bersyukur karena Fathan sudha sangat jelas melafalkan huruf 'S'.

Saya bersyukur karena Fathan termasuk anak yang mudah diajari. Tapi juga mudah menerima larangan sebagai perintah. Maka sebagaimana dia belajar, saya juga belajar mencari celah bagaimana mengatasi keaktifannya dengan tanpa melarang macam-macam.

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

6 November 2018

Kecerdasan Bahasa


Tidak dipungkiri, saat-saat Fathan bersama saya adalah saat yang sangat berharga. Sering saya ingin menyambi menyusui dengan membuka HP, membalas chat, atau sekedar baca-baca. Tapi, suami juga sering mengingatkan,

"Fathan dicuekin Ibu, ya? Ibu, Fathan kan pengen sama Ibu,, jangan lihat HP terus mbokan.." dengan lembutnya.

Lalu saya sering menyesal. Iya ya? Kesempatan emas menyusui itu hanya berlangsung dua tahun, selebihnya sudah bukan kewajiban lagi, Fathan akan sudah asyik dengan dunianya. Dan kini, ketika anak masih menyusu, harusnya kita sebagai Ibu tidak menyambi apapun. Saat menyusui adalah saat emas untuk bisa mengajarkan anak bicara, untuk memperkuat bonding Ibu dan anak, dan yang lebih penting lagi, menyusui adalah kegiatan ibadah, melaksanakan kewajiban sesuai tuntunan Al Quran.

Maka lalu, sering saya disadarkan oleh anak tetangga saya, ada yang sehari-hari diasuh oleh neneknya, karena Ibunya bekerja, berangkat pagi pulang sore. Waktu bersama Ibunya sangat pendek, dan nuwunsewu karena neneknya kurang telaten mengajak si anak 'ngobrol', jadilah usia dua tahun lebih, belum bisa bicara seperti teman-teman sebayanya. Bahkan dengan Fathan pun masih lebih cerewet Fathan.

Hal tersebut jadi penyemangat bagi saya untuk lebih intens melatih Fathan berbicara. Selain saat menyusu, saya berusaha untuk ngobrol apa saja dengan Fathan. Mengajaknya menjemur pakaian, membiarkan makanan atau minuman tergeletak di meja, lalu ternyata saat dia pengen, dia bilang sendiri, "Maem, maem, bukaak.." atau "Mimik, susu" dengan pelafalan S yang sangat jelas.

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

5 November 2018

Harus Ikhlas dan 'Benar-benar Cinta'

Hari ke 2

Weaning With Love, yang saya tahu, adalah menyapih dengan cinta. Bukan dengan nenen Ibu dikasih pait-pait, merah-merah, dan atau 'memaksa' anak yang belum siap sapih, segera disapih. Dan pekan lalu kami pernah begini, memaksa Fathan untuk berhenti nenen. Seharian sudah kami menawarkan Fathan minum susu dari cangkir atau gelas. Tiap kali ingin nenen saya, saya kasih kunir agar dia merasa tidak enak. Dan waktu itu Fathan seharian beraama Bapaknya. Tiap kali pulang dan lihat saya, seperti patah hati, "Ibu sudah tidak sayang aku lagi, kayaknya", mungkin itu yang Fathan pikirkan.

Bagaimana pun, kami menghabiskan hari-hari selalu bersama. Dimana ada Ibu, di situ ada Fathan. Dan kami harus dipisahkan karena masalah pernenenan, sungguh kami seperti putus cinta.

Dan saat malam menjelang, Fathan masih sangat ingin menyusu. Tapi kami larang. Dan khirnya dia tertidur saat saya timang-timang. Tapi waktu hampir tengah malam dia terbangun, dia sudah tidak bisa dirayu lagi. Dia hanya ingin nenen.

Saya juga masih belum rela, masih belum ikhlas. Saya tidak mengalami tegang perut, saya baik-baik saja hamil sambil menyusui. Maka malam itu penyapihan masih gagal. Dan hari-hari selanjutnya, masih ada sesi nenen sebelum tidur, selalu.

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

2 November 2018

Family Project : Weaning With Love

Ikut Kelas Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional, membutuhkan semangat yang selalu membara. Tantangan-tantangannya semakin bikin semangat. Diawali dengan Komunikasi Produktif, kemudian Melatih Kemandirian, dan kini kami masuk di level 3, Melatih Kecerdasan Anak. Jujur, di level ini, saya makin merasa bodoh. Banyak sekali ilmu yang masih harus saya pelajari, sebelum saya mengajari anak saya. Padahal anak saya terus bertumbuh setiap hari, dan selalu ada kecerdasan baru yang ditunjukkannya. Apakah saya yang mengajarkan semuanya? Ternyata tidak! Karena Allah memberi kemampuan bagi tiap anak untuk mampu belajar lewat perantara apapun di sekitarnya. Tapi tetap, kita sebagai orangtua wajib mengarahkan, agar anak kita tumbuh menjadi manusia cerdas yang bermanfaat.

Kecerdasan yang harus kami latihkan antara lain :
✅Kecerdasan Intelektual
✅Kecerdasan Emosional
✅Kecerdasan Spiritual
✅Kecerdasan Menghadapi Tantangan

Dan dalam memenuhi semua itu, tugas di level 3 ini adalah agar kami sekeluarga memilih satu partner menjalani tantangan, dan menentukan satu proyek yang akan kami jalani berkaitan dengan beberapa kecerdasan tersebut. Selain panduan dari materi level 3 Kelas Bunda Sayang ini, saya juga sempat mendapatkan salinan Permendikbud No. 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Poin-poin kecerdasan yang menjadi panduan di Permendikbud tidak berbeda jauh dengan yang ada pada materi Kelas Bunda Sayang, ada 6 poin yaitu, nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Dan dalam panduan Permendikbud ada rincian-rincian per usia anak, dari 0-5 tahun.

Dari kedua pedoman materi tersebut, saya ingin mengajarkan semuanya, ya! SEMUANYA. Tapi saya pikir, saya tidak akan ngoyo. Saya berencana membuat sebuah proyek agar Fathan, anak saya, bisa mencapai beberapa kecerdasan yang sesuai dengan usianya kini, yang sudah mencapai bulan ke-21.

Proyek yang akan kami jalani adalah "Weaning With Love", atau " Menyapih dengan Cinta". Mengingat sebentar lagi usianya akan genap dua tahun, dan kini usia kehamilan saya sudah masuk minggu ke-7, saya harus lebih rajin sounding tentang WWL ini pada Fathan. Meski alhamdulillah saya tidak merasa kencang-kencang di perut selama menyusui Fathan, tapi (mohon maaf) p*ting saya rasanya perih ketika proses menyusui. Dan ini lumayan mengganggu.

Sebenarnya minggu lalu kami sudah ingin menyapih Fathan, tapi ternyata saya belum benar-benar siap. Malam hari saat dia ingin menyusu, dan kami tawarkan susu dari cangkirnya, dia menolak, dia menangis, berontak. HANYA INGIN MENYUSU PADA IBU!. Okelah, saya malah ikut menangis, dan akhirnya luluh setelah seharian saya tidak menyusui nya.

Bismillah, semoga WWL kali ini berhasil.. Lalu bagaimana hubungannya dengan kecerdasan anak yang akan kami ajarkan, tunggu saja ya di tulisan-tulisan saya nanti.. Hehe..

#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

26 Oktober 2018

Aliran Rasa : Melatih Kemandirian


Alhamdulillah saya bisa 'menyelesaikan' Tantangan Melatih Kemandirian kemarin. Dibanding gane pertama 'Komunikasi Produktif', penyetoran tulisan kali ini mengalami peningkatan, meski hanya dua biji. Hehe. Tapi saya merasa berhak untuk memnerikan reward pada diri saya, agar semangat dan selalu istiqomah menjalankan peran menuju Ibu Profesional.

Awalnya, saya ingin melatih beberapa aspek kemandirian bagi Fathan, anak saya. Yang terdiri atas toilet training, makan sendiri, membereskan mainan, dan belajar memakai sandal jepit. Tapi untuk poin toilet training, saya masih belum bisa melakukan, jadi saya ganti dengan membiarkan Fathan tidak selalu bersama saya, Ibunya. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, dan masih tetap saya latihkan hingga sekarang, setelah tugas setor-menyetor selesai.

Bagi saya, melatih kemandirian membutuhkan banyak syarat. Tapi satu syarat penting bagi saya adalah, mulai saja! beranikan diri, tega.. Selain itu, tentu diperlukan penerapan Komunikasi Produktif yang benar.

Usia Fathan kini hampir 21 bulan, bagi sebagian orang, usia tersebut masih tergolong terlalu kecil untuk dilatih mandiri. Tapi bagi sebagian yang lain, melatih mandiri sudah bisa dimulai, bahkan dari usia yang lebih kecil dari 21 bulan. Sekecil apapun kemandirian yang kami ajarkan, insyaallah akan membuat anak kami kuat, serta mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi. Apalagi kini insyaallah saya sedang menjalani kehamilan meski baru 6 minggu, dengan Fathan dibiasakan mandiri dalam beberapa aspek, semoga nanti bisa menjadi contoh baik untuk adik-adiknya.

#AliranRasa
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

20 Oktober 2018

Tidur 'sendiri'

Masih dalam rangka "Tidak harus bersama Ibu", saya sedang melatih Fathan untuk tidur sendiri. Maksud saya, tidak harus nenen dan bablas tertidur dengan masih menempel saya. Dua malam ini, Fathan minta nenen sebelum tidur, tapi saat sudah puas, dia lepas nenen dan berpaling dari saya, memilih guling-guling di kasur.

Beberapa waktu lalu juga sudah sering begitu, tapi lalu saya mengelus punggungnya agar tertidur. Kalau sekarang, saya temani saja di sampingnya tanpa saya elus punggungnya. Dan saat dia sudah kenyang dan mengantuk, akhirnya mau saja tertidur lelap.

Kadang ada rasa tidak tega karena dia masih sangat kecil bagi saya, dia belum sapih. Tapi, melatih kemandirian tidur sendiri insyaallah akan ada manfaatnya untuk Fathan.

#Harike12
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Makan Tidak Harus Nasi, Bu

Hari ke 11

Susah-susah gampang memang, ketika anak menolak makan nasi. Seolah-olah dia tidak akan kenyang. Tapi alhamdulillah, saya sekarang mau menurunkan standar, tidak mudah sensi saat anak tidak mau makan nasi. Kalau kemarin-kemarin, saya gorengkan nasi dan Fathan mau makan. Sekarang saya berpikir juga, kalau kebanyakan nasi goreng juga tidak baik.

Akhirnya hari ini saya masak jagung, dicampur wortel dan triwis (bagian kubus yang tumbuh setelah panen), lalu saya gorengkan telur dadar. Dan saya sodorkan nasi, sayur, telur di hadapan anak saya. Alhamdulillah dia lahap, lahap makan telur, wortel dan jagung. Nasinya tidak disentuh. Selain itu, ternyata Bapak saya mengukus ubi, jadilah setelah selesai makan besar, anak saya 'ngemil' ubi. Bagi saya, it's oke, yang penting kenyang dengan makanan bergizi. Seolah Fathan ingin menyampaikan, "Makan itu tidak harus dengan nasi, Ibu..". Iya nak, Ibu tahu, tapii... :D

#Harike11
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Tidak Selalu Bersama Ibu (2)

Hari ke 10

Pagi ini saya beranikan cek kehamilan pribadi dengan test pack, setelah saya mengalami keterlambatan haid selama satu minggu dan badan rasanya nano-nano. Kemarin saya bilang ke Ibu saya kalau saya telat datang bulan, lalu Ibu bilang, "Jangan-jangan hamil lagi?".. Tapi pagi itu saya cek, garisnya masih satu, artinya masih negatif.

Dan hasil dari cek pagi ini adalah, ada satu garis tegas dan satu garis samar-samar, hamil lagi kah saya? Kalau memang iya, alhamdulillah. Iya, alhamdulillah meski anak saya masih 20,5 bulan dan masih menyusu. Alhamdulillah meski saya masih harus bolak-balik Temanggung-Semarang untuk mengurusi kuliah saya. Alhamdulillah masih diberi kepercayaan oleh Allah untuk merawat janin di dalam rahim.

Pagi-pagi, saya beritahu suami lewat SMS, dan beritahu Ibu agar Ibu mengerti. Alhamdulillah beliau menasehati saya untuk merawat pemberianNya. Saya sengaja memberi tahu Ibu, karena saya sangat membutuhkan bantuan beliau saat-saat saya harus mengurusi kerjaan rumah, menyicil tugas akhir, dan yang terpenting, merawat Fathan, di saat Ibu tidak bekerja.

Tapi ada satu yang sedikit mengusik saya, Ibu bilang, "Fathan segera disapih aja..". Mungkin itu bentuk kasih sayang beliau pada kami bertiga. Agar kehamilan saya lancar, Fathan juga terpenuhi nutrisinya. Hmmm, seharian ini, setelah betul-betul tahu saya hamil, saya sering merasa perut saya kencang-kencang saat menyusui Fathan. Tapi tidak mulas. Ah, semoga hanya asumsi saya saja.. Beberapa hari ke depan saya berencana memeriksakan kehamilan ke bidan atau dokter, semoga masih bisa memenuhi kewajiban saya, hak Fathan, dalam memberi dan memperoleh ASI.

Bagi saya, menyapih Fathan adalah juga melatih kemandiriannya untuk tidak selalu bersama saya. Pagi tadi sudah saya latih untuk jalan-jalan bersama Ibu dan kakak ipar saya, lalu siang setelah tidur, dia jalan-jalan sebentar bersama Bapak saya. Pelan-pelan, semoga kemandirian emosi dan sosialnya terlatih.

#Harike10
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

18 Oktober 2018

Tidak Selalu Bersama Ibu..

Beberapa hari lalu saya sakit karena kelelahan perjalanan darat dari Banjarnegara-Temanggung-Semarang-Grobogan-Semarang dan Temanggung lagi. Badan terasa panas, tapi saya kedinginan. Hidung berair terus-terusan. Akhirnya saya minta ijin suami untuk masih menemani saya dua hari lagi, juga mengurus anak. Dua hari saya hanya ingin tiduran, yang mengurus keperluan anak, semuanya suami, saya hanya menyusui dan kadang bermain ringan sebentar.

Selain karena sakit, saya sengaja membiarkan Fathan tidak all day long bersama saya terus. Karena beberapa bulan ke depan, saya berencana masih harus bolak-balik Temanggung-Semarang tanpa membawa Fathan. Saya biarkan dia bersama Bapaknya, atau juga Mbahnya agar saat saya tinggalkan seharian kapan hari nanti, dia sudah terbiasa.

Tapi alhamdulillah, hari ini sudah lebih baik. Bapaknya pun sudah berangkat kerja lagi ke Banjarnegara. Dan Fathan, sore ini sedang asyik jalan-jalan bersama Mbahnya.

#Harike9
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

11 Oktober 2018

Ketemu Adik Bayi

Hari ke 8
Hari ini saya mengajak Fathan menengok sepupunya, keponakan saya, yang lahir prematur pada bulan Juli lalu. Alhamdulillah dia sudah besar untuk ukuran anak yang lahir dengan BB 1,4 kg. Di usianya yang 3 bulan ini, beratnya sudah 4,3 kg.

Yang menarik perhatian saya adalah selalu, Fathan masih asing dengan adik bayi. Tidak seperti saat melihat anak di atas usianya, Fathan tidak begitu tertarik dengan adik bayi. Mungkin karena belum bisa diajak lari-lari. Haha. Saya merasa perlu juga mengajarkan dia mau momong adik bayi. Agar nanti saat dia punya adik, dia tidak asing dengan bayi, juga agar memperkecil kemungkinan sibling rivalry. Saat saya berusaha memperlihatkan video perkembangan janin sampai lahir, dia juga belum tertarik.

Mungkin nanti ketika saya sudah hamil, berapapun usia Fathan, akan saya ceritakan tentang perkembangan janin hingga lahir. Hal ini menurut saya akan sangat penting bagi perkembangan kemandirian emosi dan sosialnya. Bahwa kami, sebagai orangtuanya, insyaallah akan memiliki anak-anak lain selain Fathan, yaitu adik-adiknya. Agar Fathan mu berbagi. Mengajari dia mandiri, mau momong, juga adalah wujud kasih sayang kami..

#Harike8
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

10 Oktober 2018

Mandiri Emosi dan Sosial

Hari ke 7

Awal mendapat tantangan Melatih Kemandirian, saya menuliskan list tugas bagi Fathan, tapi ternyata semuanya masih berkenaan dengan diri Fathan sendiri. Ada empat poin dalam list yang saya buat, toilet training level 1, memakai sandal jepit, makan sendiri, dan membereskan mainan. Tapi lalu, setelah mendapat materi camilan di tengah-tengah masa menjalani tantangan, ada poin yang lebih penting untuk diajarkan pada Fathan. Yaitu tentang mandiri emosi dan sosial.

Beberapa kali saat Fathan bertemu sepupunya yang sama-sama laki-laki dan ternyata lebih 'gagah' dibanding dia, Fathan selalu merasa kalah. Didorong, dia menangis mencari saya atau Bapaknya. Rebutan mainan, dia teriak minta tolong pada saya atau Bapaknya. Beberapa waktu lalu saya turun tangan menolong karena sepupunya main tangan dan membahayakan. Tapi pada beberapa waktu, saya pikir seharusnya dia sudah bisa belajar membela diri. Kalau ingin mempertahankan mainan, ya harus kuat, pikir saya.

Yang saya amati dari 'selalu hadir'-nya saya dalam mengatasi beberapa masalah Fathan, menjadikan dia selalu ingin ditemani. Yaa nggak papa sih, toh saya Ibunya. Tapii, saya menganggap kemampuan mandirinya sedikit berkurang. Kemarin-kemarin ketika saya tinggalkan dan dia bersama Mbah atau Bapaknya, dia biasa saja, merengek sebentar di awal, selanjutnya asyik bermain. Begitu pula ketika ditinggal Bapaknya kerja, dia santai saja sama saya. Tapi karena beberapa hari ini saya dan suami banyak waktu bersama, dia seperti mengharuskan kami berdua ada terus di sampingnya. Bapaknya ke kolam, ditangisi sampai kejer, padahal ada saya. Saya ke toilet untuk buang hajat juga digedor-gedor, padahal sudah bersama Bapaknya.

Hari ini masih gagal saat melatih dia mandiri emosi dan sosial. Dibandingkan dengan sepupu-sepupunya, Fathan kurang bisa dititipkan pada saudara yang jarang bertemu. Selalu hanya sebentar, langsung mencari saya atau Bapaknya. Sepertinya ini memang 'kesalahan' kami, terlalu sering membersamainya haha. Karena kondisi saya yang masih kuliah, kadang kami di Semarang, beberapa hari, lalu pulang ke Temanggung, lalu ini beberapa hari di Banjarnegara. Fathan terlalu banyak gonta-ganti orang dekat. Dan saat sudah dekat, harus pergi lagi. Bismillah lah, saya tidak mau memaksa, tapi ingin mengajarkan dia untuk mampu cepat beradaptasi pada orang dan lingkungan baru, serta menjadikan dia pribadi yang lebih berani membela diri.


#Harike7
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

9 Oktober 2018

Burung Dara Mainanku

Hari ke 6

Kemarin-kemarin saya menulis tentang latihan Fathan untuk memakai sandal jepit dan makan sendiri, kali ini akan saya tuliskan tentang bagaimana Fathan bermain. Kalau bicara perihal mainan, kadang pandangan saya adalah pada mainan2 plastik yang warna-warni. Padahal, bagi anak seusia Fathan, semua bisa jadi mainan. Ingat beberapa bulan lalu Fathan asyik sekali bermain bulu burung dara, diterbangkan dan dicari-cari. Atau kali lain, dia mainan daun dan dia jatuhkan ke aliran sungai kecil di dekat rumah kami. Iya, begitu, murah tapi seru dan tidak harus dibereskan, paling cuci tangan setelahnya, atau ganti pakaian jika terlalu kotor dan basah.

Seperti hari ini, di tempat mertua saya tidak banyak mainan (di rumah kami juga begitu sih, tidak begitu banyak mainan, iyaa yang tidak begitu banyak saja beresinnya capee minta ampun karena habis beres, disebar lagee..). Maka mainan di sini salah satunya adalah kelinci dan burung dara, selain ikan air tawar di kolam untuk dilihat-lihat dan kucing untuk dielus-elus.




Melihat dan memberi makan burung dara, membuat Fathan sedikit anteng. Fokus di situ-situ saja. Kebetulan mertua saya punya warung kelontong. Sering sedia beras jatah ataupun jagung untuk pakan burung dara. Awalnya lari-lari ingin menyusul Bapaknya di kolam, tapi lalu saya ajari untuk memberi pakan burung dengan beras, ambil di karung dalam warung. Awalnya saya yang mengambil lumayan banyak, lalu dia mengambil dari tangan saya. Lama-lama, dia datang sendiri ke warung, ambil beras, tercecer di lantai, disebar seenak hati. MasyaAllah, anak kecil memang peniru ulung. Strategi saya kurang tepat, harusnya saya ambilkan di wadah kecil tanpa Fathan harus tahu kalau saya ambil di karung, jadilah maka jadilah begini.
"Dodoh, dodoh.." cara kami memanggil burung dara agar mendekat.

Saya tidak enak hati sama mertua melihat beras tercecer di lantai, jadilah saya ajari Fathan untuk membereskannya, mengambil sapu dan memberikannya pada burung dara. Meski agak ngeyel tidak mau menyapu, saya nyerocos saja..

"Ini kasihan Mbah kalo kebanyakan di lantai berasnya, dodoh nya juga sudah selesai makan, ituu sudah kenyang mereka, sudah terbang lagii"
"Tebang, wuuushh.." sambil memancungkan bibir mungilnya.

#Harike6
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Jijik? Pakai Sandal..

Hari ke 5

Fathan termasuk anak yang tidak suka berkotor-kotoran, kalau sedang ingat. Tapi kalau sedang asyik ya lupa, sampai selesai bermain dan sadar kalau tangan dan kakinya kotor, dia akan teriak-teriak minta 'diwijiki'. Menyodor-nyodorkan kaki dan tangannya untuk sehera dibersihkan.

Hari ini kembali membersamai Bapaknya mengurus ikan. Beliau mengambil benih ikan dari petani dan mensortirnya, memilih yang sesuai pesanan pelanggan. Fathan sangat ingin membantu, padahal basah-basahan, amis-amisan. Dia keasyikan. Dan saat ingat dia tidak pakai sandal, langsung dia sodorkan tangan dan kakinya minta dicucikan.

"Wijik, wijik" katanya..

Setelah cuci tangan dan kaki, saya ganti bajunya yang basah, saya pikir dia sudah puas, ternyata balik lagi merecoki Bapaknya. Langsung saya bilang,

"Sandalnya mana Fathan? Yok dipake, basah itu sama Bapak.."


Dan dia pakai sandal, bermain lagi. Ganti baju lagi...

#Harike5
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Fathan dan Lidahnya

Hari ke 4

Mengajari anak untuk bisa makan sendiri memang gampang-gampang susah.. Pernah membaca di salah satu artikel tentang MP-ASI, bahwa kegiatan makan anak selain untuk memenuhi gizi bagi tumbuh kembangnya, juga melibatkan berbagai macam keterampilan berkaitan dengan perkembangan motoriknya. Antara lain koordinasi tangan dan mulut, perkembangan indera pengecap, dan kemampuan reflek mengunyah, memindah-mindahkan makanan di dalam mulut menggunakan lidah juga perlu dilatih. Maka dari itu salah satu faktor pentingnya adalah perlu adanya peningkatan tekstur makanan dari semi cair - kental - kasar- hingga sama persis dengan makanan orangtuanya. Selain tekstur, rasa makanan juga harus diperhatikan, kalau yang saya tahu, pada masa-masa awal MP-ASI dianjurkan untuk tidak banyak memberi bumbu pada makanan, agar anak kita tahu rasa alami sebuah makanan.

Hari ini, bangun tidur siang, Fathan saya ambilkan bubur kacang hijau, makanan kesukaan Bapaknya. Karena Fathan sudah umur 20 bulan, tekstur dan rasanya sudah sama dengan kami. Dia langsung reflek menyendoki sendiri. Sesekali dia mau mengambil dengan tangan, tapi karena tahu hal itu akan susah, dia lanjutkan makan dengan sendok.

"Enak!" katanya, satu kali menyendok, lanjut sendok-sendok selanjutnya.

Bubur kacang hijau yang saya buat, lumayan banyak airnya, sengaja karena konsumennya banyak, mertua, dua kakak ipar dan keluarganya dan keluarga kecil kami. Maka saat Fathan makan, konsekuensinya adalah belepotan, baju, celana, tikar tempatnya duduk, karena kami tidak punya high chair/booster chair khusus batita makan.

Semakin belepotan, saya selalu makin geregetan untuk menyuapinya saja, tapi Fathan tidak mau, dia tarik kembali sendoknya. Memang harus ekstra sabar dalam mengajari makan. Karena saat dia muncul selera dan ingin makan sendiri, lumayan banyak yang masuk mulut alhamdulillah.

"Wis, ampung..." tanda dia sudah kenyang.

Selesai makan, saya bersihkan sisa makanan di wajah, tangan, kakinya, di tikar, lalu ganti bajunya, semuanya.. Repot? Iyaaa, tapi kalau hal ini membuat Ibu terlatih sabar dan anak belajar mandiri, kenapa tidak? Semangat, Ibu!

#Harike4
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

6 Oktober 2018

Sendal Jepit Pertamaku

Fathan, seperti kebanyakan batita, suka sekali jalan-jalan. Kalau dalam satu hari kurang porsi jalan-jalan, hampir dipastikan malamnya akan susah diajak tidur, terus saja jalan muter-muter kamar, kadang minta keluar, lalu nenen lagi, lalu bangun, jalan-jalan lagi seantero ruangan. Maka seringnya, saya dan suami, juga mbah-mbahnya, kalau sedang longgar, mau saja menemaninya menjelajah sana-sini. Seperti hari ini, dari sejak bangun tidur pagi, Fathan sudah diajak keluar lihat ikan oleh Bapaknya. Saya bersyukur jadi bisa pegang kerjaan lain, tapi ternyata cuma sebentar karena air di kolam menyusut padahal suami sedang memijahkan ikan lele. Jadilah saya membersamai Fathan bermain lagi, karena dia sudah terlanjur dibawa keluar rumah oleh Bapaknya pagi-pagi.

Meski tidak bisa pegang kerjaan di pagi hari, ini adalah momen bagi saya untuk melatih Fathan memakai sandal jepit nya.

"Ayo pake sendal jepitnya kalo mau jalan-jalan.."

Dan kami menjelajah kolam yang satu ke kolam yang lain dengan harus memutar satu RT. Tapi dia tidak lagi meminta sandalnya dilepas. Beda dengan hari kemarin,

"Copot, copot," kata Fathan kemarin.

Hari ini berjalan lancar, pagi jalan-jalan, lalu sarapan, mandi, main sebentar, tidur lagi. Bangun tidur, kami mengupas mangga, dia makan sendiri lumayan banyak, lalu kami main lagi menyusul Bapaknya yang masih asik di kolam. Setelah dari kolam, kami ke kebun untuk memetik kelapa muda dan menikmatinya. Sorenya setelah mandi dan tidur sebentar, Fathan kembali jalan-jalan ke mushola, 'meninjau' Bapaknya yang sedang membantu mengecor mushola, masih dengan sandal jepit nya. Meski saat berjalan, jari-jari kakinya masih mencengkeram sandal karena takut lepas, setidaknya hari ini berhasil tidak dicopot di tengah jalan.. Besok kami siap belajar lagi..

#Harike3
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

5 Oktober 2018

Makan saat Lapar

Hari ke 2
Bagi seorang Ibu, perkara kegiatan makan anak adalah hal yang maha penting. Karena berkaitan dengan kesehatan, kebugaran, tumbuh kembang dan pada suatu titik, akan memunculkan kemandiriannya.

Saya adalah salah satu yang pernah mengalami ketidakmandirian dalam hal makan. Saat sekolah sampai SMP dulu, saya sering makan sambil nonton TV, atau menunggu diperintah Ibu baru makan, yang parah adalah sampai perut saya sering melilit, karena jadwal makan saya yang berantakan. Baru ketika kuliah dan waktu makan saya sedikit teratur, saya menyadari bahwa saat masa-masa sekolah dulu, saya sedikit kesulitan mengenali rasa lapar, saya belum mengerti jika makan adalah kebutuhan, meskipun Ibu sering mengatakan pada saya kurang lebih begini :
"Makan, Rul. Jangan sampai sakit perut lagi. Tanggung jawab sama kesehatanmu sendiri"
Atau Bapak, yang juga pernah mengidap sakit maag, "Bener ya kata Nabi, makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang. Kalau sarapan, porsinya ya buat 'sarap', jangan kebanyakan"

Dulu, saya lebih merasa bahwa saya melakukan apa-apa saat saya mood. Termasuk makan. Kalau saya pengen ya saya makan, kalau tidak ya nanti dulu. Dan sekarang saya bersyukur karena telah menikah dengan laki-laki yang menyadarkan saya tentang kesehatan melalui makanan, lebih tepatnya, menguatkan saya untuk lebih perhatian dengan asupan makanan, tentang waktu dan variasinya.

Suami saya sering menyampaikan, "Meski belum terlalu lapar dan tidak terlalu selera, sebaiknya makan teratur, biar sehat, sekarang kamu sudah jadi Ibu.."

Dan kini, saya sering sewot saat anak saya belum mau makan. Saya ingin menerapkan waktu makan agar dia disiplin. Ketika saya makan, saya ajak dia untuk juga ikut makan. Tapi beberapa hari ini, karena kami sedang berada di rumah Mbah yang banyak orang membagi makanan di jam-jam mendekati waktu makan, seringnya dia tidak mood untuk makan besar. Jadi lalu saya biarkan dia tidak makan dulu,  lalu beberapa waktu kemudian dia sendiri yang minta makan, menunjuk-nunjuk meja makan.
"Fathan mau maem?" saya jumput sedikit nasi dan menyuapkan padanya, dia tertarik. Lalu makanlah dia, dan saya ambilkan sendiri. Saya minta duduk dan makan sendiri. Alhamdulillah hari ini dia sarapan sendiri. Sementara makan siang dan sore masih lebih banyak saya suapi karena banyak godaan untuk main.

Ada beberapa hal yang saya pelajari agar anak saya mau anteng makan sendiri. Salah satunya adalah memunculkan mood nya untuk makan. Hal ini bisa disiasati dengan beberapa cara :
1) biarkan dia lapar dan hanya makan besarlah solusi penghilang laparnya;
2) kondisikan lingkungan yang mendukung untuk makan, hindari gangguan-gangguan seperti TV, mainan, atau lainnya;
3) buatlah makanan yang menarik dan mudah untuk dia ambil sendiri baik pakai sendok maupun tangan kosong.
Sederhana saja keinginan saya, minimal saat Fathan sudah usia sekolah, dia tahu bagaimana rasanya lapar dan mampu mengatasinya.

#Harike2
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

4 Oktober 2018

Melatih Kemandirian part 1

Hari 1

Alhamdulillah masuk di Tantangan 10 hari Level 2 di Kuliah Bunda Sayang IIP, tugas kami kali ini adalah untuk Melatih Kemandirian. Di IIP ini, membernya tidak hanya emak-emak, tapi ada juga gadis, atau pasangan-pasangan yang belum dikaruniai anak. Khusus untuk emak-emak yang sudah beranak, game Melatih Kemandirian ini diminta melibatkan anak, anak sebagai aktor utama untuk dilatih beberapa hal mengenai kemandiriannya. Dalam waktu satu bulan, kami diminta melatihkan minimal 1 latihan, maksimal 4 latihan per minggunya. Bagi anak saya, Fathan, yang kini sudah masuk usia 20 bulan, rencana kami adalah melatih beberapa hal :
- Toilet Training level 1
- Berjalan memakai Sandal Jepit
- Membereskan mainan
- Makan sendiri
Hari ini kami sedang berada di rumah mertua saya di Banjarnegara, kurang lebih akan kami jalani hari-hari di sini maksimal satu minggu. Saya sempat berdiskusi dengan suami, latihan apa yang kira-kira tepat bagi Fathan sekarang..
"Oke! Toilet training aja, udah pinter kok dia,, pokoknya tiap bangun dan mau tidur, diajak pipis dulu. Kamu semangat ya!"
Toeng,, saya jujur belum begitu siap untuk toilet training yang harus ngepel-ngepel begitu, maka saya meringankannya dengan memberi judul tantangan 'Toilet Training level 1', dimana saya meniatkan untuk membimbing dia pipis ketika akan dan bangun tidur, dan mungkin nanti sounding2 mengajarkan bagaimana bilang 'Ibuk, pipis' jika terasa kebelet. Tapi tetap saya pakaikan clodi di kesehariannya.. Untuk hari ini, tantangan ini masih gagal, hehe..
Tantangan lain adalah memakaikan dia sandal jepit untuk jalan-jalan di kampung. Hal ini karena, beberapa tetangga kami yang dulu ada di usia Fathan sekarang, sudah banyak yang mahir berjalan-jalan pakai sandal jepit. Sementara Fathan masih pakai sepatu sandal terus. Sudah dibelikan sandal jepit oleh Bapaknya, tapi sepertinya terlalu berat untuk dia pakai jalan-jalan, karena masih latihan, jari jempol dan telunjuk kakinya terlalu kencang menjepit, jalannya susah, dan sering minta dilepas.  Dan akhirnya hari ini kami belikan lagi sandal jepit dari karet yang ada penahan di bagian belakang, ringan dipakai dan terbantu dengan penahan di belakang. Alhamdulillah durasi jalan dengan sandal jepit tadi lumayan lama, meski masih minta dilepas karena Fathan terlalu heboh saat berjalan. Besok lanjut latihan lagi.

Untuk makan dan membereskan mainan, hari ini juga masih failed, belum selesai makan, sudah mau lari-lari mainan sama sepupunya. Mainannya karena barengan dengan sepupu, ya tergeletak saja di ruang tengah rumah mertua..

#Harike1
#Gamelevel2
#Tantangan10hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

28 September 2018

Aliran Rasa Komprod by Nurul Arifah

Alhamdulillah telah berhasil menyelesaikan tantangan 10 Hari Bunda Sayang. Meski benar-be ar mepet 10 hari menyetor tulisan. Tapi insyaallah selebihnya, di luar 10 hari tersebut, saya sedang berusaha konsisten menerapkan ilmu mengenai Komunikasi Produktif, baik dengan pasangan, anak, orangtua, tetangga, bahkan pelanggan saya di online shop. Dari ilmu yang saya peroleh, penerapan Komunikasi Produktif akan dapat berjalan lancar jika kita juga membereskan komunikasi dengan diri pribadi kita.
Beberapa kali saya mengalami 'miss communication' dengan pasangan saat kami tidak sedang dalam posisi psikologis yang sama. Ada kalanya beliau berposisi sebagai orang tua dan saya sebagai anak, atau sebaliknya. Dan bagi kami, komunikasi terkait hal-hal seperti ini serasa harus diulang, diremedi, hingga ketemu waktu yang tepat untuk berada pada kondisi psikologi yang sama. Dalam banyak hal, komunikasi akan produktif saat posisi psikologis kami sama-sama dewasa, logika masuk, emosi stabil. Namun, adakalanya bagi saya, tidak harus selalu pada psikologi sama-sama dewasa untuk mencapai komunikasi produktif, pada saat tertentu, kami memposisikan diri seperti anak-anak, dimana kami menikmati saling bercanda, saling mengejek, dan kesenangan2 kecil lain, dalam tubuh kami yang sudah dewasa. Dan hal tersebut bisa membuat kami makin kompak sebagai suami-istri, sebagai teman bermain bagi anak kami. Selain berada pada kondisi psikologis yang sama, komunikasi produktif dengan pasangan memang seharusnya memenuhi beberapa kaidah sesuai yang pernah saya peroleh di dalam materi kuliah Bunda Sayang.
Kaidah-kaidah tersebut adalah :
1) Clear and Clarify; 2) Choose the Right Time; 3) Kaidah 7-38-55; 4) Intensity of Eye Contact; 5) I'm responsible for my communication result.
Indah dan menyenangkan memang jika bisa berkomunikasi mengacu pada kaidah-kaidah tersebut. Untuk itu insyaallah saya sedang berusaha terus menerapkannya bersama pasangan.
Begitu pula berkomunikasi dengan anak. Sebelum ikut tantangan Bunda Sayang ini, saya berbincang dengan anak sekemampuan saya. Tapi yang saya rasakan, banyak tidak produktif nya. Seperti misal saat saya ingin dia berhenti melempar mainan, akan lebih efektif jika saya mengalihkan fokus saya dan anak pada 'bagaimana agar dia melakukan sesuatu yang lebih baik dari sekedar melempar mainan'.
Seruan saya dari "Jangan dilempar-lempar mainanya, nanti hilang",
Menjadi "Yuk ditata yuk, sini Ibuk ajarin".
Maka anak akan fokus pada menata mainan, bukan melemparnya. Aktivitas tersebut memakai beberapa kaidah dalam berkomunikasi dengan anak, yaitu 1) Fokus pada solusi, bukan masalah; 2) Kendalikan Intonasi dan Suara Ramah; 3) Ganti perintah dengan pilihan; 4) Keep information short and simple.
Bisa juga ketika sudah teralih perhatian dari 'melempar' ke 'menata', kita gunakan kaidah komunikasi selanjutnya : berikan pujian yang jelas; ganti kata 'tidak bisa' menjadi 'bisa'.
Sama halnya saat berkomunikasi dengan pasangan, bersama anak juga harus pintar-pintar mengendalikan emosi. Tidak cepat sewot ketika anak belum mengerti apa yang kita sampaikan, sabar dalam mengajari anak berkomunikasi, apalagi seperti saya yang menghadapi anak usia 20 bulan yang belum pandai mengungkapkan keinginannya.
Alhamdulillah dengan belajar Komunikasi Produktif ini, saya makin mampu menata diri dalam menyampaikan sesuatu, setidaknya pada pasangan dan anak dulu. Baru nanti, semoga bisa memperbesar kemampuan saya kepada masyarakat yang lebih luas dan bermacam latar belakang.

22 September 2018

Choose The Very Right Time

Hari ini mau mengirimkan laporan tulisan Komunikasi Produktif yang edisi bahagia ah. Gara-gara kemarin mengirim yang edisi curhat akibat pikiran semrawut.

Jadi, setelah menulis dan mengirim T10, siang setelah shalat Jumat, suami menelepon saya dan kami berhasil ngobrol dengan baik. Saya rasa kemarin telah menggunakan kaidah 'Choose the right time', serta kaidah '7-38-55' sehingga hati saya tenang, jadi merasa ringan menjalani setengah hari berikutnya. Selain fokus pikiran, seperti yang saya tuliskan kemarin, tenangnya hati juga sangat mempengaruhi produktivitas komunikasi, yang lalu berdampak pada produktifnya kegiatan.
"Lagi apa yang?"
"Lagi buka2 web, Mas.."
"Buka web apa? Cari jurnal?" beliau tahunya saya nyicil tesis lagi, tapi lalu saya beranikan diri untuk mengatakan,
"Mmm, ngga, buka web CPNS.. Hehe..,"
"Oh ya..? Trus gimana?"
"Temanggung ada lowongan lho Mas, buat S1 Peternakan, dan PERIKANAN!"
"Waah, ya daftar, daftaar," dengan intonasi yang menyenangkan
"Serius?"
"Iya, bismillah ya, coba aja.."
"Iya baru resmi buka tgl 26 minggu depan.."
"Oh yawes disiapin aja syarat2 nya mulai sekarang.. Tetep usaha, siapa tahu keterima, kalo misal ngga keterima ya udah, ga usah ngoyo.."
"Iya Mas.. Yo alhamdulillah kalo dirimu membolehkan. Ada lho buat S1 Perikanan jugaa.."
"Waah, aku banget dong ya.. Hahaha.."
"Ya gimana, mau sekalian? Wkwk.." masih dengan suara yang membahagiakan
"Ngga lah, kamu aja ya.."
Dan lanjut obrolan lain.. Ngobrol di telepon juga harus memakai kaidah 7-38-55 seapik mungkin, meski tidak bisa sesempurna ketika berhadapan langsung, tapi cukup melegakan.. Kaidah 7%, bicara saja dengan kata-kata yang baik, lalu ditambah 38%, intonasi harus ditekankan, terlebih ketika bicara di telepon, harus diterapkan sebaik mungkin. Yang agak sulit adalah kaidah 55%, bahasa tubuh, mungkin bisa diterapkan dengan video call jika sedang jarak jauh.

Obrolan kami singkat, tapi bagi saya, perbincangan tadi adalah di waktu yang sangat tepat. Dulu, awal menikah, suami saya kekeuh kalo saya tidak boleh kerja yang terikat. Tapi waktu terus berjalan dan pemikiran beliau melunak. Banyak sih pola komunikasi yang harus diterapkan terutama terkait keputusan2 besar bagi rumah tangga kami, karena suami adalah penentu kebijakan sementara saya dan anak harus ikut apa kata suami, kecuali pada hal-hal yang buruk.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

21 September 2018

Fokus Pikiran, Produktif dalam Berkomunikasi

Masih tentang pendaftaran CPNS. Tapi kali ini berkaitan dengan komunikasi saya dengan anak. Suami saya masih di luar kota dan kami belum bisa telponan. Pagi sampai menjelang siang ini. Menunggu anak tidur, saya berniat ingin ngobrol we time sama suami.
Tapi apaa yang terjadi saudaraku..? Pikiran saya sudah melayang,
'habis anak tidur, mau coba buka portal sscn, ada apa saja yang bisa saya cek'
Atau,
'bisalah nyicil baca2 materi tes CPNS, kemarin dikirimi kakak di WA, belum saya baca detail.'
Atau,
'Ah, pokoknya tesis juga harus dicicil. Ohiya, TOEFL juga paling lambat setidaknya awal bulan depan sudah beres, lalu fokus siapkan CPNS. Apalagi? Ah, hasil analisis sampel di UGM belum keluar, kapan ya kira-kira?..'
'Saya belom mandi, sudah mau jam 10'
'Dan inii, anak biasanya jam setengah 10 sudah habis energi dan siap tidur siang, kenapa masih on terus..'
'Suami, apa kabar di sana, terakhir telepon kemarin siang, kangen...'
"Pyak.." tiba-tiba anak menumpahkan minuman ke meja.
Buyarlah segala lamunan..
"Fathan anak pinter, jangan ditumpahin minumnya.. Ayok dilap dulu"
"Woo.."
"Fathan belum ngantuk? Bobok yook Ibuk capek.." kebetulan saya juga entah kenapa merasa sangat lelah.. Kadang begini memang kalau paginya tidak segera mandi, lesunya terasa sampai siang hari..
Kembali dia mengacak-acak seisi rumah. Lalu saya ajak ke kamar untuk nenen, setelah nenen, malah segar lagi. Acak-acak lagi seisi kamar.
"Fathan... Ayok bobook.. Than, kalo Ibuk jadi PNS gimana? Nanti Fathan ada yang momong, terus kalo Ibuk pulang, Fathan sama Ibuk lagi, gitu ya..?" akhirnya saya dekap dia sambil tiduran, dia balas memeluk, menendang, ada saja polahnya.
Sampai satu jam, baru dia lelah dan tertidur.
Saya rasa hari ini komunikasi kami kurang produktif, karena pikiran saya yang bercabang kemana-mana. Saya kurang 'Keep Information Short and Simple', kurang 'Eye Contact' dan kurang sebagainya. Menyeramkan. Lalu saya mencoba untuk relax, mandi biar segar, dan menata pikiran, fokus dengan apa yang sedang saya hadapi saat ini. Karena bagaimanapun, komunikasi produktif juga berasal dari pikiran yang tertata, tidak awut-awutan, ya kan? Bismillah, semoga diberi petunjuk baik sama Allah, menjalani hari dengan penuh semangat.

#hari9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

๐Ÿ“šSerba-serbi pendaftaran CPNS..๐Ÿ“š


๐Ÿ‘ฉ : Mas ada bukaan CPNS lagi
๐Ÿ‘จ : Iya, buat perikanan juga banyak.. Terus?
๐Ÿ‘ฉ : Daftar? Buat peternakan cuma dikit, dan gatau Temanggung ada apa ngga, sampe hari ini belum nemu pengumuman yg bener..
๐Ÿ‘จ : Terserah.. Kalo aku sih masih pengen kita besarin usaha bareng.. Tapi kalo kamu tetep pengen nyoba, ya silakan..
๐Ÿ‘ฉ : Haha bingung akunya..
๐Ÿ‘จ : Yang penting bukan karena desakan keadaan dan paksaan orang lain. Harus dari kamu sendiri dan pertimbangannya matang..
๐Ÿ‘ฉ : Iya sih..
๐Ÿ‘จ : Kalo aku udah ga pengen jadi PNS,, udah pengen gedein usaha aja. Lebih nyaman. Kayak kalo gini, ini naudzubillah deh, kalo misal aku harus pindah ke lain hati dari kamu ke yang lain.. Aku ga mau lah..
๐Ÿ‘ฉ : (diem, antara bingung mau jawab apa dan tersanjung ๐Ÿ˜)

Sebenarnya dialog tentang PNS ini sudah berulang kali kami adakan. (Halah koyok TV berita aja ngadakan dialog). Dan masih itu2 saja pembahasannya.. Tapi biar deh, biar clear dan terklarifikasi. Kalo ditanya orang juga biar makin mantap menjawab..

Prinsip kami sekeluarga sih, terserah mau bekerja di ranah apa, yang penting profesional, tekun, sungguh-sungguh. Ibu pernah bilang, semua pekerjaan itu mulia, asal halal, tidak merugikan orang lain, dan serius menekuninya.

"Arepo dadi bakul lele, nek tenanan yo ono kasile. Arepo dadi PNS, nek ora tenanan, yo bubar kabeh, gawean ora beres, keluarga yo kacau.."

Dan dari Institut Ibu Profesional, saya belajar bahwa jadi apapun, seorang Ibu tetaplah Ibu, yang juga harus bersikap profesional. Bekerja 'hanya' jadi Ibu Rumah Tangga, bukan karena malas terjun ke ranah publik, tapi bagaimana berusaha sungguh-sungguh berperan di dalam rumah, membentuk keluarga yang baik dan berpengaruh baik. Pun ketika memutuskan untuk bekerja di ranah publik (entah jadi PNS atau kerja kantoran lain), bukan karena malas dipandang 'hanya IRT biasa' yang kerjaannya remeh temeh, tapi memang karena panggilan jiwa untuk berkontribusi pada masyarakat luas, menjaga agar ilmunya bermanfaat, dengan masih menjaga keharmonisan rumah tangga dan baiknya tumbuh kembang anak-anak.

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

17 September 2018

Katakan yang Saya Inginkan, bukan yang tidak..

Menarik sekali ketika berbicara bersama anak usia 19,5 bulan yang bahasanya masih sederhana. Saat kita ingin A, dia bilang "Emooh". Saat kita larang B, dia segera melaksanakannya. Terbolak-balik.

Dan dari belajar materi Komunikasi Produktif, saya jadi bisa memilah-milah bagaimana gaya komunikasi yang baik dengan anak. Meski banyak gagal dan sering emosi, tapi semua ini proses. Dan saya berusaha menikmatinya.

Seperti hari ini, saat anak saya mainan karpet puzzle. Hobi melemparnya masih diteruskan. Karpet puzzle yang kami punya adalah karakter angka, lengkap dengan keterangannya. Misal 1-one. Jadi ada potongan2 puzzle yang kecil-kecil yang rawan hilang. Dan karena usia puzzle ini sudah 10 tahun, warisan dari kakak saya, maka sudah ada beberapa potongan yang hilang.

Dan ketika pagi ini Fathan melempar potongan huruf dan angka, saya bilang
"Fathan, jangan dilempar, nanti pada hilang.."
"Ilang??..." pluk, dia lempar lagi
"Fathan.. Hayo.. Eh yuk ditata lagi yuk, dipasang-pasang yuk puzzle nyaa.."
"Nandi??.. (Dimana)"
"Sinii.."

Akhirnya dia berhenti melempar, dan mulai fokus memasang-masang puzzle lagi.
Dari sini saya belajar, bahwa anak kecil cenderung melakukan apa-apa yang kita larang. Pada beberapa hal, sebagai umat muslim dan sesuai yang pernah saya tahu, saya meyakini bahwa penggunaan kata 'jangan' itu masih diperbolehkan, karena dalam kitab suci kami ada contoh penggunaan kata 'jangan'. Tapi dalam beberapa hal lain, kita dapat mengganti kata 'jangan' dengan kalimat ajakan untuk melakukan sesuatu yang berlawanan. Atau kalau dikaitkan dengan materi Komunikasi Produktif, saya belajar beberapa hal, yaitu :
- Mengatakan yang saya inginkan, bukan yang tidak saya inginkan.
- Fokus pada Solusi, bukan Masalah
- Gunakan suara ramah

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Fokus pada Solusi bukan Masalah


Kurang lebih dua minggu yang lalu, Fathan mengalami terkilir di kaki yang mengharuskannya digendong beberapa hari karena kakinya jadi bengkak. Alhamdulillah di hari ketiga setelah jatuh, bengkaknya berkurang dan dia mau belajar jalan pelan-pelan meski kakinya masih kaku. Setelah dipijat beberapa kali, akhirnya dia aktif lagi jalan dan setengah berlari tanpa harus diawasi ketat lagi.
Tapi hari ini ketika dia aktif-aktifnya berjalan, dia tersandung karpet saat ingin menuju Mbah Yayi meminta makanan.
"Innalillahi.." ujar saya, agak keras. Dia sepertinya kaget lalu menangis.
Dan dia menangis, sambil jejeritan. Saya takut kalau kakinya terkilir dan bengkak lagi.
Lalu saya bopong dia, saya ajak ke dapur lihat jeruk, lihat rengginang, ke kamar mandi beresin bekas mandinya. Tapi dia masih menangis. MasyaAllah..
"Eh yuk bikin wedang jeruk yuuk, manis loh jeruknya.."
"Huaaaa...."
Saya berusaha untuk tidak menyinggung tentang kakinya, karena dia pasti menangis lebih kencang. Lalu saya fokuskan ke hal lain, sesekali saya nasihati dia agar hati-hati berjalan.
"Fathan kan tadi mau minta rengginang nya Mbah Yayi ya..? Inii di sini, buka toplesnya.."
"Hiks hiks.." sudah mereda..
Lalu saya usap kakinya untuk mengecek apakah kaku atau bengkak lagi, dia malah menangis lagi. Oke, alihkan lagi.
"Nenen Ibuk ya," lalu dia nenen dengan masih agak mengeluhkan kakinya.
"Ayo jeruknya diminum.." Ibu saya menawarkan, tapi dia menangis lagi..
Dan dengan amat sangat terpaksa, saya mengalihkan untuk menonton kartun di TV :(, tidak apa-apa lah ya. Saya menonton Hachi, menunjukkan lebah dan burung. Dan alhamdulillah setelah beberapa lama dia berhenti menangis dan mau berjalan lagi. Sebenarnya selain menonton TV, saya bisa ajak dia keluar rumah. Tapi saya pikir, saya ingin menenangkan dia dulu di dalam rumah, agar ketika keluar sudah ready main, tanpa ada pertanyaan retoris dari tetangga. 'Kenapa menangis?', yang kadang hanya untuk bahan cerita saja bagi mereka, hihi.. eh astaghfirullah, tidak boleh suudzon, tapi realistis. Sudah, fokus saja pada solusi, bukan masalah, ya.. Wkwk..
#hari6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

14 September 2018

GANTI KATA 'TIDAK BISA' MENJADI 'BISA'


Fathan, anak saya usia 19 bulan, sedang sangat suka melempar apapun. Mainan, pakaian, bahkan makanan. Sering saya larang, diulanginya lagi. Untuk hal ini, saya belum berhasil mengajarinya tidak sembarang melempar-lempar. Maka kali ini saya akan ceritakan hal lain, tapi masih berkaitan dengan lempar-melempar.
Beberapa kali, Fathan melempar mainan, terutama bola, lalu menggelinding di bawah kolong meja atau kursi. Dan dia berulang kali merengek minta diambilkan.
"Hayo siapa tadi yang lempar? Yuk ambil sendiri" ucap saya.
"Aaaa.. Mundhut.. Mundhut.." dia minta ambilkan dengan bahasa jawa halus yang sering kami ucapkan ๐Ÿ˜…
"Ayo Fathan coba, gini caranya" saya tengkurap dan menjulurkan tangan ke kolong untuk menunjukkan cara mengambil mainannya
"Aaa..."
"Ayoo, bisa-bisa, Fathan kan pinter" bujuk saya semnari memujinya
"Aaah.." dia menunjukkan gestur takut terbentur meja, saking seringnya terbentur.
"Sini Ibuk jagain biar ga kena meja," bujuk saya lagi
"Bisa.." akhirnya dia mau mencoba
"Yaak, pinteer loh Fathan loh.. Yee.."
"Yee..." lalu dia kegirangan.
Saya berusaha mengajarkan dia untuk melakukan sesuatu yang kiranya dia bisa lakukan di usianya, tidak selalu membantu agar dia tahu bahwa dia bisa. Tapi selalu, harus dalam pengawasan.

#hari5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

13 September 2018

I'm Responsible on My Intonation :D

Masih dalam rangka berjauhan dengan suami. Bagi banyak pasangan suami istri, LDR adalah suatu kondisi yang harus dinikmati. Biasanya karena tuntutan pekerjaan. Saya pun begitu, meski tidak dalam waktu yang lama. Paling tidak, seminggu ditinggal suami dua sampai empat hari, sisanya kami bersama-sama. Tapi mungkin yang membuat kami berbeda dengan pasangan lain adalah, komunikasi jarak jauh kami yang hanya bisa via telepon. Karena suami saya belum punya WhatsApp atau aplikasi lain yang memungkinkan kami melakukan lebih dari sekedar SMS atau telepon, video call, misalnya.. Tapi alhamdulillah hal tersebut tidak mengurangi kemesraan kami ๐Ÿ˜…. Pagi ini juga kami berbincang via telepon untuk menanyakan kabar satu sama lain.
"Assalamualaikum Mas.."
"Waalaikumsalam.. Lagi apa?"
"Lagi mainan sama Fathan.. Mas lagi apa?"
"Sarapan.."
"Pagi amaat" waktu menunjukkan masih jam 6 kurang
"Lhaa ya wong lagi duduk di dapur, Mba Wasri masak udah mateng semua ya makan"
Pekerjaan suami mengharuskan beliau rutin ke tempat mertua saya, dan di sana ada kakak ipar sekeluarga yang menemani mertua. Jadilah kalau sedang di sana, hidupnya terjamin juga alhamdulillah..
"Mas Bapak bikin tape singkong banyak, sayang ya kemarin lupa dibawain..saking banyaknya sekarang juga masih"
"Oh iya to? Ya wes gapapa.. Dibikin apa gitu kalo masih biar Fathan makan juga.."
"Iya apa ya. Kemarin Mba Atik (sepupu saya) juga bikin prol tape, tapi pake telur.."
"Ya coba cari resep yang ga pake telur. Kasihan Fathan nanti gatel lagi.."
"Iya Mas aku udah coba cari resep sih.. Udah nemu. Coba nanti ya.."
"Iya.. Pokoknya Fathan dipantau ya, jangan makan telur sama susu dulu.."
"Iyaa.."
Anak kami alergi telur dan susu formula. Tiap kali saya atau dia makan, kulitnya gatal bersisik, jadilah tiap kali saya ingin bikin-bikin makanan terutama cake, saya sibuk cari resep-resep 'eggless' dan mengadaptasinya..
Alhamdulillah hari ini terwujud membuat 'prol tape' ala ala, bermodal bahan seadanya dan dikukus, tidak dipanggang seperti lazimnya. Tapi alhamdulillah anak saya doyan.
Saya memasaknya ketika anak tidur. Dan alhamdulillah pas matang ketika dia bangun. Lalu saya tawari dengan suara semenarik mungkin.
"Fathan, Ibuk bikin makanan lhoo.. Enaaak, angeet.. Ayoo turun.." dia masih gulang guling di atas tempat tidur..
"Eehh eehh.." tanda minta dimanja..
"Ayook, bopong ya.. Lihat sudah mataang looh, nunggu adem.. Yuk kita balik yuukk,, gini-gini, pluk! Whoaaa... Anget-angeet"
"Whaaaa... Enak-enak.." dia kegirangan
"Iyaa enaak, diiris ya, taruh sini, ambil sendok dulu.."
"Aaah, aah, maam, nak, nak.." masih panas, dia memaksa ingin makan. Saya gemes, tapi senang karena dia tertarik.
Satu suap, sukaa. Suapan berikutnya dan seterusnya tidak sabar untuk terus. Efek lapar bangun tidur. Alhamdulillah pagi sampai siang hari ini aman, senang sentosa ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„
#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

12 September 2018

Clear, Clarify, Control the Emotion..

Berjauhan dengan suami, kadang bisa bikin gemes kalo pola komunikasinya kurang apik. Setelah ditinggal berangkat kerja kemarin, seperti biasa suami santai saja tidak mengabari jika sudah sampai lokasi a.k.a rumah mertua saya. Biasanya, beliau langsung sibuk kerjakan ini itu sesuai rencana. Kadang saya maklumi, dan saya biasa saja kalau saya juga sudah sibuk dengan urusan saya. Tapi kadang juga suami ingin segera berkabar, sementara saya sibuk urusan ini itu dan entah meletakkan HP dimana, atau saya pergi ke luar bersama anak dan sengaja tidak membawa HP karena main ke tetangga2, agak gimana gitu kalau 'ngadep' HP sementara saya jarang2 ketemu tetangga, nanti dikira nggayaa..

Untuk kasus kali ini, alhamdulillah kami dalam kondisi hati yang stabil, penuh cinta karena pola komunikasi yang cukup sehat akhir2 ini. Tanpa dikabari, saya husnudzon saja bahwa berarti suami sudah sampai lokasi dengan aman. Hanya waktu malam saya sms, sepertinya hanya dibaca dan tidak ada telepon dari beliau. Barulah pagi hari berikutnya, beliau menelepon kami saat kami sarapan.

"Assalamualaikum Mas.." sapa saya
"Waalaikumsalam, lagi apa?"
"Lagi sarapan ini, sama Fathan juga, sarapan sama kerupuk"
"Sehat2 kan? Fathan gimana jalannya?"
"Alhamdulillah sehat, ya gitu masih pincang sedikit. Mas lagi apa?" anak kami habis keseleo kaki, jadi masih dalam proses penyembuhan..
"Oh ya wes alhamdulillah.. Baru balik ini.. Semalem SMS ga ada apa-apa kan?"
"Balik dr Tegal? Ngirim semalem? Nggak papa.. Ya pengen tahu kabar aja gimana"
"Iya kemarin siang sampe sore sortir ikan, baru kirim malem sama Mas Awal. Belum ngaso ini.."
"Walah ya wes to ngaso dulu aja.. Udah sarapan?"
"Iya,, belum sarapan, baru banget balik ini.."
"Ohh.."
"Ya wes lanjut aja sarapannya ya, sehat2 di situ.."
"Iya Mas, hati2 ya.. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Singkat, tapi bagi saya jelas dan terklarifikasi.. Jadi tidak ada pikiran macam2 kenapa tidak segera mengabari, kenapa ini kenapa itu. Salah satu yang penting ketika berkomunikasi adalah kondisi hati, jangan gampang 'kemrungsung', jangan utamakan emosi..

Komunikasi dengan anak juga begitu, tapi kalau polah anak sedang di luar batas kemampuan saya mengendalikan emosi, kadang saya juga naik suara. Pagi ini setelah selesai telepon, saya sarapan di depan tiga anak kecil. Anak saya Fathan usia 1,5 tahun; anak kakak saya alias keponakan, Afnan usia 2,5 tahun dan keponakan jauh, anak saudara saya, Aya usia 5,5 tahun. Mereka subhanallah ributnya minta ampun. Saya sedang konsentrasi sarapan, anak saya minta kerupuk, saya ladeni, tapi tiap akan makan, tiba-tiba teriak dan menangis. Begitu sampai tiga kali. Afnan naik sepeda roda tiga, berputar-putar di ruang keluarga, digoda oleh Aya, ribut pakai teriak-teriak.
"Fathan kenapa sih?" tanya saya pada anak saya, sambil menggendong dan mendudukkan di sebelah saya.
Sementara Afnan dan Aya, saling menggoda, Afnan memukul Aya. Lalu sepeda dibanting, rodanya dimainkan layaknya setir mobil.
"Afnan, sepeda adek jangan dibanting nanti rusak.."
Lalu diberdirikannya lagi. Aya menggoda lagi, ribut lagi. Fathan ikut melempar kerupuk dan menangis.
"Sepedaaa.." kata Fathan..
"Emooh ora oleh (tidak boleh).." kata Afnan, masih dengan digoyang-goyang..
Lalu saya ambil alih,
"Sampun ya.. Sepeda nya disimpan aja ya.. Afnan nanti ambil punya sendiri ya.."
Mereka diam, saya singkirkan sepeda ke belakang. Akhirnya mereka tenang. Dan mencari mainan lain, yaitu R*ma malkist, untuk lalu dimakan sama-sama. Subhanallah..
Afnan masih termangu dan agak-agak takut dengan intonasi saya saat itu. Ditambah lagi Aya melenggang pergi setelah habis satu malkist, mau mandi katanya.
Sedih sebenarnya harus bernada tinggi di depan bocah-bocah kecil ini.. Tapi masyaAllah, ributnya seperti never ending..
Meski setelah itu Afnan dengan manis mengambilkan malkist untuk Fathan.
"Nah gitu kalo sama adek, yang sayang, pelan-pelan, ya.."
"He'em.."

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

6 September 2018

KomProd Day 1 #Ganti Perintah dengan Pilihan dan #Choose The Right Time


Alhamdulillah aktivitas hari ini lumayan padat. Jam 6 pagi saya sudah harus ke kandang di kampus untuk pelaksanaan penelitian, belum mandi karena akan kotor-kotoran. Selesai dari kampus, jam 8.30 saya sudah di rumah lagi untuk selesaikan tugas-tugas rumah, terutama mencuci. Namun sebelum itu saya berbincang dengan anak dan suami terlebih dulu. Kebetulan beberapa hari ini kaki anal saya terkilir, jadi agak-agak manja dengan ibunya. Padahal kegiatan saya sedang padat-padatnya. Jadilah tiap ada waktu bertemu, kami seperti tidak ingin terpisahkan. Dan anak kami alhamdulillah pintar mengungkapkan keinginannya lewat binar matanya di usia 19 bulan.
"Fathan ngantuk? Yuk mimik Ibuk trus bobok.."
Lalu saya nenenin dia, tapi dia masih berbinar-binar ingin 'ngobrol' sama saya. Okelah kami haha hihi dulu, ngemil-ngemil dulu beberapa saat, lalu setelah ngemil saya sodorkan gelasnya yang masih berisi susu kedelai sisa tadi pagi waktu saya tinggal. Setelah habis, dia sodorkan gelasnya
"Nya.. Habiss.."
"Alhamdulillah sampun habis, sekarang bobok ya, Ibuk kelonin yuk.."
Lalu dia beranjak ke tempat tidur, memeluk saya dan tertidur :)
Setelah anak tertidur, ayahnya mengambil alih waktu. Lalu kami mengobrol ringan sebelum saya mandi dan mencuci baju.
"Mas, kemarin aku baca-baca tulisan, fiksi sih, tapi tentang pelakor.."
"Oh ya? Terus?"
"Ya serem aja gitu loh, di ceritanya sih pasangannya baik-baik ga ada masalah keluarga, tapi ya namanya godaan,,"
"Ya intinya harusnya takut sama Allah aja sih. Bukan takut sama pasangan. Kalo takut sama istri, pas istrinya ga ada ya berani macem2. Gitu juga kalo takut sama suami.."
"Iya sih.."
"Ya semoga kita dijauhkan dari hal-hal kayak gitu, saling mengingatkan aja.."
"He'em"
"Udah sana nyuci.."
"Ealah.."
#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

8 Agustus 2018

Pesan Angin Agustus

Kalau ada yang memandang rendah kamu, biarkan saja.. Kamu juga tidak perlu sibuk membuktikan kemampuanmu. Tidak perlu juga mencari-cari kelemahan orang yang memandang rendah dirimu. Karena orang yang tidak menyukai kamu, tidak akan mau mendengarkan atau melihat penjelasanmu. Sementara mereka yang mencintaimu, tidak perlu penjelasanmu, kamu sudah cukup jelas pantas mereka cintai, dengan apapun yang ada pada dirimu.

Dan di saat-saat genting ketika kamu membutuhkan support, mereka yang benar-benar mencintaimu akan tetap setia di sampingmu, mendukungmu dengan segenap daya dan upaya mereka. Sementara mereka yang merendahkanmu, yang tidak peduli denganmu, akan tetap dengan ketidakpeduliannya. Hingga suatu saat kamu kembali cemerlang, bersinar, tetap saja orang yang mencintaimu akan berada di sampingmu, dan mereka yang merendahkanmu, bisa jadi akan terbuka matanya, atau bisa jadi, akan tetap, mencari segala kelemahan untuk selalu merendahkanmu, atau bisa jadi juga biasa saja...

Intinya, berenergilah untuk menang hari ini, esok dan seterusnya. Dan jangan pernah buang energimu itu untuk menyenangkan orang yang tidak senang denganmu. Kamu baik, kamu bisa membaikkan, dan kamu bisa membagi energi kebaikan itu pada orang yang mencintaimu, yang kamu cintai, dan banyak orang di luar sana, ya kan?