16 April 2015

Cereal Grains, Concentrate dan Complete Feed



Cereal Grains
           
Grains atau bijian merupakan biji yang dapat dimakan dari jenis rumput yang spesifik dan termasuk ke dalam famili Poaceae atau masuk ke dalam famili Gramineae. Beberapa contoh bijian dalam famili Poaceae  adalah gandum, oat, padi, jagung, barley, sorghum dan millet (Grains and Legumes Nutrition Council, 2014). Biji-bijian merupakan pensuplai energi pada ternak dan sebagian besar energi yang dapat dicerna dari adalah pati. Bijian umumnya mengandung air, karbohidrat, protein termasuk enzim, lemak, mineral dan vitamin. Kandungan nutrien tersebut menyebabkan bijian sebagai bahan pakan yang mudah tercemari terutama cendawan (Ahmad, 2009). Karakteristik nutrisi yang umum pada bijian adalah kandungan energi yang tinggi, kandungan serat dan protein yang rendah, kandungan kalsium yang juga rendah. Bentuk energi yang dapat diperoleh dari bijian adalah dalam bentuk lemak, pati dan gula (Ishler et al., 1994). Hasil penelitian Sitompul (1997) menunjukkan bahwa kandungan asam amino dan protein kasar pada biji-bijian relatif lebih rendah dibandingkan pada kacang-kacangan. Oleh karena itu dalam ransum unggas, biji-bijian tidak dipergunakan sebagai sumber protein melainkan sebagai sumber energi.
Metode pengolahan bijian berpengaruh pada laju dan perluasan kecernaan dalam rumen. Bijian yang digiling dengan baik, memiliki tingkat kecernaan yang tinggi karena luas permukaannya lebih besar sehingga bakteri rumen dapat lebih banyak mendegradasikannya. Pati dalam bijian dengan kandungan air tinggi akan mudah difermentasikan di dalam rumen dibanding dengan pati dalam bijian kering. Selain itu, bijian yang telah mengalami proses pemanasan seperti pengukusan, akan memudahkan pati dalam bijian mudah dicerna. Hal tersebut dikarenakan proses pemanasan membentuk gelatinisasi pada pati yang meningkatkan fermentabilitas dalam rumen (Ishler, 1994).
Menurut Fahrenholz (1996), biji-bijian dapat diolah dengan beberapa cara untuk memudahkan pencernaan oleh ternak, beberapa upaya pengolahan yang dapat dilakukan adalah :
1.      Grinding (penggilingan) baik menggunakan hammer mill maupun roller mill;
2.      Pengeringan, yang dapat dilakukan dengan micronizing yaitu pemanasan menggunakan pemanas infra merah pada suhu 300oF selama 25 sampai 50 detik; popping yang diperoleh dengan pemanasan yang cepat menggunakan suhu 700 – 800oF dimana bijian menjadi mengembang karena terjadi gelatinisasi yang memudahkan pencernaan oleh enzim maupun organisme; roasting atau pemanggangan dengan cara melewatkan bijian pada tabung di atas api dengan temperatur sekitar 250 – 300oF.
3.      Pemanasan, dengan menggunakan metode steam flaking dengan menggunakan tekanan atmosfer tertentu selama 15 sampai 30 menit, suhu yang dicapai sekitar 200 – 210oF dengan kandungan air sekitar 17 – 18%; pelleting dengan menguapkan bijian pada ruangan conditioning sehingga mencapai suhu dan kandungan air tertentu; extrusion dengan prinsip untuk mencapai gelatinisasi bijian dengan waktu yang cepat dan suhu yang tinggi

Concentrate

Konsentrat adalah pakan yang mengandung kepadatan nutrien yang tinggi, biasanya memiliki kandungan serat kasar yang rendah (kurang dari 18% BK) dan memiliki TDN yang tinggi. Kegunaan utama pakan konsentrat adalah untuk menyediakan nutrien yang dibutuhkan pada produksi ternak. Nutrien tersebut tidak hanya makro-nutrien yang mengandung energi dan protein, tetapi juga nutrien spesifik yang penting seperti asam amino, asam lemak, enzim, vitamin, mineral dan lainnya (FAO, 1983). Bahan penyusun konsentrat dapat dibagi ke dalam tiga kelompok dasar yaitu biji-bijian serealia, sumber protein, dan pakan hasil limbah (Ishler, et al., 1994). Konsentrat terdiri atas biji-bjian dan limbah hasil proses industri bahan pangan seperti jagung giling, tepung kedelai, menir, dedak, bekatul, bungkil kelapa, tetes dan umbi (Akoso, 1996).
Peranan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai nutrien yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal ternak untuk tumbuh dan berkembang secara sehat (Akoso, 1996). Tujuan dari pemberian konsentrat pada sapi potong adalah agar sapi dapat cepat dijual, untuk memenuhi permintaan tertentu terhadap kualitas karkas sebagai hasil penggemukan (Parakkasi, 1999).
Sebagian besar sistem produksi ternak yang menggunakan konsentrat adalah sapi perah, sapi potong, babi, ayam pedaging, dan petelur. Produksi unggas seperti itik, angsa, dan kalkun menggunakan pakan konsentrat. Selain itu, beberapa peternakan intensif yang diterapkan pada kambing dan domba di beberapa negara Eropa, Amerika dan Afrika juga menggunakan konsentrat sebagai bahan pakan peternakan kerbau di Italia dan Asia juga menggunakan konsentrat meski dalam jumlah yang relatif sedikit. Industri perikanan, terutama udang, juga merupakan pengguna konsentrat (FAO, 1983).
Baik ternak monogastrik maupun ruminan diberi pakan berupa konsentrat. Ternak monogastrik memiliki kapasitas yang terbatas untuk mencerna serat dan oleh karena itu dibutuhkan pakan dengan kepadatan nutrien yang tinggi dengan proporsi pakan konsentrat yang tinggi dan komposisi pakan hijauan yang rendah, terutama bagi ternak unggas dan babi. Sistem produksi ruminan juga menggunakan pakan konsentrat. Pada sistem intensif, konsentrat memiliki porsi yang tinggi pada pakan, sekitar 30% untuk sapi perah dan 70% untuk sapi penggemukan (FAO, 1983).
Pemberian konsentrat yang tinggi dalam pakan ruminansia menyebabkan fermentabilitas bahan pakan dalam rumen meningkat. Konsentrat mengandung lebih banyak karbohidrat yang mudah difermentasi dalam rumen sehingga proporsi asam propionat tinggi dan kandungan glukosa darah tinggi (Tillman et al., 1998; Murray et al., 2003).
Mutu konsentrat didasarkan atas kandungan zat gizi dan ada tidaknya zat atau bahan lain yang tidak diinginkan. Persyaratan mutu meliputi kandungan zat gizi, batas toleransi kandungan aflatoksin, logam berat, kandungan bahan imbuhan dan bahan berbahaya lainnya. Batas maksimum kandungan logam dalam konsentrat meliputi Hg 2 mg/kg; Pb 30 mg/kg; Cu 100 mg/kg; As 50 mg/kg; Cd 0,5 mg/kg dan Al 1000 mg/kg. Kandungan imbuhan dan bahan berbahaya dalam konsentrat seperti aflatoksin, insektisida, pestisida, formalin, hormon, dan antibiotik harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku (BSN, 2009).

Complete Feed

Complete feed atau pakan komplit adalah pakan yang cukup tinggi gizinya untuk hewan tertentu dalam tingkat fisiologi, dibentuk atau dicampur untuk diberikan sebagai satu-satunya makanan dan memenuhi kebutuhan hidup pokok atau produksi, atau keduanya tanpa tambahan bahan atau substansi lain kecuali air (Hartadi et al., 2005). Menurut Syamsu et al. (2003), pakan komplit adalah campuran bahan pakan termasuk hijauan sumber serat kasar dengan proporsi yang seimbang yang diolah dan dicampur menjadi campuran yang seragam dengan kandungan nutrien yang sesuai dengan kebutuhan ternak. Teknik pembuatan pakan dimana hijauan dan konsentrat atau limbah pertanian, perkebunan atau agondustri dicampur menjadi homogen melalui proses pengolahan dengan perlakuan fisik, kimiawi dan atau biologis serta suplementasi dengan teknik hidrolisis, fermentasi dan amoniasi untuk produksi pakan ruminansia merupakan pengembangan teknologi complete feed (Verma et al., 1998; Mathius, 2008).
Berikut merupakan contoh dari pakan komplit :
1.      Pakan komplit (complete feed) untuk domba misalnya dibuat dari lombah pertanian seperti kulit kacang, tumpi jagung, jerami kedelai, tetes tebum kulit kakao, kulit kopi, ampas tebu, pucuk tebu, tongkol jagung, bungkil biji kapuk, dedak padi, onggok kering, dan bungkil kopra yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga semua nutrisi kebutuhan ternak domba dapat terpenuhi (Mahaputra, 2003).
2.      Komposisi pakan komplit untuk sapi terdiri atas jerami padi fermentasi, corn gluten feed, singkong, dedak padi, bungkil biji kapuk, tepung kulit kopi, minyak sawit, bungkil kelapa, urea, mineral mix dan garam NaCl yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga mencapai persentase 100% dengan memperhatikan kandungan nutrien seperti bahan kering, protein kasar, serat kasar, lemak kasar, abu dan TDN (Sunarso et al., 2011).
3.      Complete feed amofer untuk domba terdiri atas pelepah sawit, daun sawit, tandan sawit kosong serta perasan buah sawit yang masing-masing telah mengalami amofer (amoniasi fermentasi), lumpur sawit, bungkil sawit, legum, jagung, dedak, onggok, molases, urea, mineral mix serta garam (Mayulu et al., 2012).
Beberapa penelitian mengenai pemberian complete feed pada beberapa ternak telah dilakukan. Formula complete feed dengan teknologi amofer dapat meningkatkan efisiensi pakan, konversi pakan, meningkatkan bobot badan juga produktivitas ternak. Complete feed amofer berbasis limbah perkebunan sawit tidak menyebabkan gangguan hematologis pada domba, sehingga pemberian complete feed tersebut cenderung aman dengan tetap memperhatikan komposisi bahan pakan dan nutriennya (Sunarso, 2003; Mayulu et al., 2008; Mayulu et al., 2012). Pemeliharaan domba menggunakan complete feed cukup menguntungkan dari segi biaya, tenaga dan waktu (Mahaputra et al,. 2003).


 DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, R. Z. 2009. Cemaran Kapang pada Pakan dan Pengendaliannya. Jurnal Litbang Pertanian 28 (1) : 15 – 22.

Akoso, B. T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.

BSN. 2009. Pakan Konsentrat – Bagian 2 : Sapi Potong. SNI 3148.2 : 2009. Badan Standardisasi Nasional.

Fahrenholz, C. 1996. Cereal Grains and By-Products : What’s in Them and Ho Are They Processed?. SmithKline Beecham, Pennsylvania.

FAO. 1983. The use of concentrate feeds in livestock production systems.  http://www.fao.org/ag/againfo/programmes/en/lead/toolbox/Refer/fcrpsec1.pdf.

Grains and Legumes Nutrition Council. 2014. Types of Grain. www.glnc.org.au/grains/types-of-grains

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo dan A. D. Tillman. 2005. Tabel Komposisi Pakan unruk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Ishler, V.A., R.S. Adams, A.J. Heinrichs and G.A. Varga. 1994. Concentrates for dairy cattle. College of Agricultural Sciences, Cooperative Extension : Pennsylvania State University.

Mahaputra, S., P. Kurniadhi, Rokhman, dan Kadiran. 2003. Analisis Biaya Pemeliharaan Domba dengan Complete Feed. Buletin Teknik Pertanian Vol. 8 Nomor 2 : 47 – 48.

Mathius, I. W. 2008. Pengembangan Sapi Potong Berbasis Industri Kelapa Sawit. Pengembangan Inovasi Pertanian 1 (3) : 206 – 24.

Mayulu, H., B. Suryanti, M. Christiyanto, F.I. Ballo dan Refa’i. 2008. Kelayakan Penggunaan Complete Feed Berbasis Jerami Padi Amofer pada Peternakan Sapi Potong. Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis 34 (1) : 74 – 79.

Mayulu, H., Sunarso, C.I. Sutrisno, dan Sumarsono. 2012. Profil Darah Domba Setelah Pemberian CF Amofer. JITP Vol. 2 No. 1 : 10 – 19.

Murray, R. K., D.K. Granner, P.A. Mayes dan V.W. Rodwell. 2003. Biokimia Harper. Edisi 25. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. UI Press, Jakarta.

Sitompul, S. 1997. Komposisi Asam-asam Amino dari Biji-bijian dan Kacang-kacangan. Lokakarya Fungsional Non Peneliti 1997. Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor.

Sunarso, L.K. Nuswantara, A. Setiadi, and Budiyono. 2011. Performance of Beef Cattle Fed by Complete Feed. International Journal of Engineering and Technology IJET-IJENS Vol 11 No. 01 : 260 – 263.

Sunarso. 2003. Pakan Ruminansia dalam Sistem Integrasi Ternak-Pertanian (Pidato Pegukuhan Guru Besar Universitas Diponegoro tanggal 10 September 2003). Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Syamsu, J. A., L. A. Sofyan, K. Mudikdjo dan E.G. Sa’id. 2003. Daya dukung limbah pertanian sebagai sumber pakan ternak ruminansia di Indonesia. Wartazoa 13 : 30 – 70.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan V, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Verma, A.K., U.R. Mehra, R.S. Dass and A. Singh. 1996. Nutrient utilization by Murrah buffaloes (Bubalus bubalis) from compressed complete feed blocks. Animal Feed Science Technology 59 : 255 – 263.



14 April 2015

Aditif, Antibiotik dan Probiotik

Additive
           
Aditif pakan merupakan pakan tambahan baik berupa bahan pakan alami, ekstrak bahan alami, mikroorganisme bermanfaat, sediaan murni alami dari hasil pemisahan atau purifikasi atau sintesis, yang ditambahkan atau diimbuhkan dalam ransum untuk memberikan fungsi-fungsi tertentu, atau memperbaiki dan meningkatkan tampilan produksi ternak, baik kualitas maupun kuantitas (Murwani, 2010). Bahan aditif pakan (feed additive) merupakan suatu bahan yang dicampurkan di dalam pakan yang dapat mempengaruhi kesehatan, produktivitas, maupun keadaan gizi ternak (Sinurat et al., 2009). Bahan aditif pakan digolongkan menjadi dua, yaitu aditif pakan nutritive dan non nutritive. Aditif pakan nutritive ditujukan untuk memenuhi nutrien gizi utama ternak, sedangkan aditif non nutritive ditambahkan pada pakan bukan untuk memenuhi gizi ternak, aditif non nutritive yang lazim digunakan pada ransum unggas yaitu flavor, pewarna (Sari et al., 2009), antibiotika, enzim, prebiotik (Rahayu dan Budiman, 2006) dan antioksidan (Sinurat et al., 2009).
Bentuk aditif pakan bermacam-macam, dapat berperan sebagai nutrisi (vitamin, mineral mikro), pemacu pertumbuhan/growth promoters, coccidiostats, aditif untuk perasa dan pewarna, maupun sebagai antioksidan (Mantovani et al., 2006). Aditif untuk memacu pertumbuhan pada ayam adalah antibiotik (antibiotics growth promoters) karena antibiotik selain dapat meningkatkan immunogenik juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan meningkatkan berat badan ayam broiler (Julendra, et al. 2010). Bentuk lain dari aditif pakan adalah enzim, dalam hal ini misalnya dapat digunakan enzim manannase yang diharapkan dapat bekerja optimal di sepanjang saluran pencernaan unggas. Syarat suatu enzim dapat diaplikasikan dalam ransum adalah enzim harus aktif dalam saluran pencernaan unggas, stabil selama penyimpanan, stabil pada suhu tinggi seperti ransum dalam bentuk pellet (Suswita, 2012)
Di negara Eropa, aditif pakan harus memenuhi beberapa prinsip kriteria penilaian, yaitu 1) otoritas pra-pemasaran; 2) prinsip daftar kepastian; dan 3) penilaian seksama mengenai kemungkinan efeknya pada kesehatan manusia dan ternak maupun lingkungan (Mantovani et al., 2006). Penggunaan feed additive pada ruminansia telah dilaporkan dapat menghambat metanogenesis secara efektif dengan beberapa tipe mekanisme, antara lain 1) berdasarkan sifat toksik terhadap bakteri metanogen seperti senyawa-senyawa derivat metana; 2) berdasarkan pada reaksi hidrogenasi seperti senyawa asam-asam lemak berantai panjang tidak jenuh; 3) berdasarkan pada senyawa-senyawa kimia yang afinitasnya terhadap hidrogen lebih tinggi dari pada CO2 seperti ion ferri dan ion sulfat; 4) berdasarkan defaunasi/penekanan populasi protozoa sepert senyawa saponin. Mix feed additive adalah suatu campuran yang terdiri dari beberapa komponen dengan multi fungsi, antara lain sebagai defaunator, inhibitor metanogenesis, faktor pertumbuhan bakteri asetogenik dan anti reduktan karbondioksida (Thalib, et al., 2010).

Antibiotik

Antibiotik adalah substansi yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain dalam konsentrasi yang sangat rendah (Jatmiko et al., 2014). Antibiotik umumnya digunakan pada unggas untuk tujuan pengobatan atau encegahan bahkan sebagai pemacu tumbuh untuk meningkatkan kinerja ternak (Haryanti, 2010)
Salah satu contoh antibiotik adalah dari jenis tetrasiklin yang dapat digunakan sebagai alternatif pencegahan dan pengobatan penyakit yang berspektrum luas dan murah. Tetrasiklin sering diterapkan pada ayam. Jika antibiotik digunakan secara berkelanjutan dan bahkan berlebihan, dapat membahayakan tubuh karena menyebaban mikroorganisme menjadi resisten terhadap antibiotik tertentu. Penggunaan antibiotik dapat menghambat absorpsi kalsium dengan tingatan sangat bervariasi (Mulyono dan Wahyono, 2011). Antibiotik lain yang biasa digunakan masyarakat adalah AGP (additive growth promoters) yang berperan membantu menjaga nutrisi dari destruksi bakteri, membantu meningkatkan absorbsi nutrien karena membuat barier di dinding usus, menurunkan produksi toksin dari bakteri saluran pencernaan dan menurunkan kejadian infeksi saluran pencernaan subklinik, sehingga dapat memacu pertumbuhan dan mengefisiensikan konsumsi pakan. Namun, AGP yang digunakan dalam waktu lama akan menimbulkan efek resistensi pada bakteri patogen sasaran. Selain itu, antibiotik dapat menimbulkan dampak kesehatan bagi manusia yang mengkonsumsinya (Julendra et al., 2010). Penggunaan streptomycin, sulfadiazine dan tetracycline pada suplemen pakan terbukti menyebabkan resisten terhadap Escherichia coli (Khachatryan et al., 2006).
World Health Organization (WHO) menyarankan pada semua negara untuk mengembangkan bahan alami pengganti antibiotik. Beberapa bahan alami yang dapat digunakan sebagai antibiotik adalah tepung cacing tanah, benalu teh,  dan mengkudu (Julendra et al., 2010; Murwani, 2008).
Antibiotik di dalam tubuh ayam akan dimetabolisir dan diekskresi keluar tubuh, sehingga bila dilakukan penghentian pemberian antibiotik sebagai feed additive, maka kadar residu di dalam jaringan tubuh ayam diharapkan akan menurun. Pemakaian antibiotik dalam bidang peternakan perlu diperhatikan waktu hentinya pemberian antibiotik tersebut, yaitu jarak antara pemberian antibiotik terakhir sampai dengan produk ternak tersebut (daging, telur dan susu) boleh dikonsumsi manusia (Kusumaningsih et al., 1996).

Probiotik

            Probiotik berasal dari bahasa Latin yang artinya untuk hidup dan didefinisikan sebagai substrat mikroorganisme yang diberikan kepada ternak lewat pakan dan memberikan efe positif dengan cara memperbaiki keseimbangan alami di dalam saluran penceranaan. Probiotik juga mengandung komponen-komponen yang dibutuhkan ternak seperti vitamin dan enzim seta nanoligosakarida yang dapat meningatkan sistem kekebalan tubuh ternak (Dian et al., 2013). Salah satu alasan penggunaan probiotik pada ternak adalah untuk menstbilkan mikroflora pencernaan dan berkompetisi dengan bakteri patogen, maka strain probiotik yang digunakan harus mencapai usus dalam keadaan hidup dalam jumlah yang cukup. Berbagai jenis mikroorganisme yang digunakan sebagai probiotik diisolasi dari usus, mulut, dan kotoran ternak atau manusia. Pada saat ini, mikroorganisme yang banyak digunakan sebagai probiotik yaitu strain Lactobacillus, Bifidobacterium, Bacillus spp., Streptococcus, yeast dan Saccharomyces cereviseae. Mikroorganisme tersebut harus memiliki beberapa kriteria yaitu non-patogen, gram positif, strain yang spesifik, anti E. coli, tahan terhadap cairan empedu, hidup, melekat pada mukosa usus, dan minimal mengandung 3 x 1010 cfu/g (Pal et al., 2006; Salminen et al., 1996).
Persyaratan yang harus dimiliki probiotik antara lain adalah 1) merupakan flora normal usus yang non patogenik, dapat mempertahankan aktivitasnya pada kondisi lingkungan yang tinggi keasamannya yaitu lambung, dan pada konsentrasi garam yang tinggi di usus halus; 2) dapat tumbuh dan melakukan metabolisme dengan sangat cepat dan terdapat dalam jumlah yang tinggi; 3) mengkolonisasi bagian tertentu saluran pencernaan dimana diperlukan kemampuan untuk menempel pada permukaan epitelium; 4) dapat memproduksi secara efisien asam-asam organik dan kemungkinan mempunyai sifat antimikroba spesifik terhadap bakteri yang membahayakan dan 5) mudah untuk diproduksi, bertahan hidup pada skala besar dan dapat mempertahankan viabilitas selama penyimpanan (Haryati, 2010). Konsep tentang probiotik didasarkan pada terbentuknya kolonisasi mikroba yang menguntungkan yang masuk ke dalam saluran pencernaan, mencegah perkembangan bakteri patogen, netralisasi racun pada saluran pencernaan, mengatur aktivitas enzim bakteri tertentu dan menguatkan pengaruh substansi yang merangsang sintesis antibodi pada sistem kekebalan (Cruywagen et al., 1996).
Satu faktor utama dalam menyeleksi starter probiotik yang baik yaitu kemampuannya untuk bertahan dalam lingkungan asam pada prosuk akhir fermentasi secara in vitro dan kondisi buruk dalam saluran pencernaan atau in vivo. Ketahanan probiotik pada kondisi in vitro dapat dipengaruhi oleh pembentukan metabolit oleh starter seperti asam laktat, asam asetat, hidrogen peroksida dan bakteriosin (Saarela et al., 2000)

DAFTAR PUSTAKA

Cruywagen, C. W., I. Jordan and L. Venter. 1996. Effect of Lactobacillus acidophillus supplementation of milk replacer on preweaning of calves. J. Dairy Science. 79 : 483 – 386.
Dian, H., Hartutik dan Marjuki. 2013. Pengaruh Penambahan Probiotik dalam Pakan terhadap Konsumsi, Produksi Susu, dan Kadar Gula Darah pada Sapi Perah Peranakan Freisein Holstein (PFH) Laktasi. Universitas Brawijaya, Malang.
Haryanti, T., Suprijati K., dan Susana I. W. R. 2010. Senyawa Oligosakarida dari Bungkil Kedelai dan Ubi Jalar sebagai Prebiotik untuk Ternak. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2010.
Jatmiko, N., E. Widodo dan O. Sofjan. 2014. Pengaruh Penambahan Jus Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum) sebagai Imbuhan Pakan dalam Pakan terhadap Kondisi Mikroflora Usus Halus Itik Pedaging Hibrida. Universitas Brawijaya, Malang.
Julendra, H., Zuprizal dan Supadmo. 2010. Penggunaan Tepung Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) sebagao Aditif Pakan terhadap Penampilan Produksi Ayam Pedaging, Profil Darah, dan Kecernaan Protein. Buletin Peternakan Vol. 34 (1) : 21 – 29.
Kusumaningsih, A., T.B. Murdiati, S. Bahri. 1996. Pengetahuan Peternak tentang Waktu Henti Obat dan Hubungannya dengan Residu Antibiotika pada Susu. Media Kedokteran Hewan, FKH Universitas Airlangga, Surabaya. 12 : 260 – 267.
Mantovani, A., F. Maranghi, I. Purificato and A. Macri. 2006. Assessment of Feed Additives and Contaminants : An Essential Component of Food Safety. Ann Ist Super Santa 2006 Vol. 42, No. 4 : 427 – 432.
Mulyono, dan F. Wahyono. 2011. Pengaruh Oxytetracycline dan Berbagai Sumber Kalsium terhadap Produktivitas dan Kualitas Telur Puyuh. Laporan Penelitian Vol 15 No. 1, Juni 2011.
Murwani, R. 2008. Aditif Pakan : Aditif Alami Pengganti Antibiotika. Unnes Press, Semarang.
Murwani, R. 2010. Broiler Modern. CV. Widya Karya, Semarang.
Pal, A., L. Ray and P. Chattophadhyay. 2006. Purification and immobilization of an Aspergillus terreusxylanase: Use of continuous fluidized column reactor. Ind. J. Biotechnol. 5: 163 – 168.
Rahayu, I. dan C. Budiman. 2006. Pemanfaatan tanaman tradisional sebagai feed additive dalam upaya menciptakan budidaya ayam lokal ramah lingkungan. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hal. 126 – 131.
Saarela, M., G. Mogensen, R. Fonde, J. Matto and T. M. Sandholm. 2000. Probiotic bacteria : Safety, functional and technological properties. J. Biotechnol. 84 : 197 – 215.
Salminen, S., E. Isolaurui and E. Salminen. 1996. Clinical uses of probiotics for stabilizing the gut mucosal barrier. Successfull strains and future challenges. Antonie van Leeuwenhoek 70 : 347 – 358.
Sari, A.I., S.P. Syahlani dan F.T. Haryadi. 2009. Karakteristik kategori adopter dalam adopsi inovasi feed additive herbaluntuk ayam pedaging. Bul. Pet. 33 (3) : 196 – 203
Sinurat, A.P., T. Purwadaria, I.A.K. Bintang, P.P. Ketaren, N. Bermawie, M. Raharjo dan M. Rizal. 2009. Pemanfaatan kunyit dan temulawak sebagai imbuhan pakan untuk ayam broiler. JITV. 14 (2) : 90 – 96.
Suswita. 2012. Peningkatan Mutu Ransum Broiler dalam Bentuk Pellet Berbasis Apmas Kelapa dengan Enzim Manannase Thermostabil. Atikel Ilmiah Program Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.
Thalib, A., Y. Widiawati, dan B. Haryanto. 2010. Penggunaan Complete Rumen Modifier (CRM) pada Ternak Domba yang Diberi Hijauan Pakan Berserat Tinggi. JITV 15 (2) : 97-104.

Balanced Ration, Protein Supplement and Total Digestible Nutrient

Balanced Ration
Balanced ration atau ransum seimbang adalah pakan dengan kandungan nutrisi dalam jumlah dan proporsi yang memenuhi kebutuhan fisiologis, reproduksi dan produksi ternak. Balanced ration dapat mensuplai zat-zat gizi yang berbeda secara proporsional bagi ternak yang mengkonsumsinya bila diberikan dalam jumlah yang tepat. Ransum untuk pakan ternak dikatakan seimbang apabila diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan hidup ternak yaitu kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan hidup produksi tanpa menimbulkan gangguan kesehatan bagi ternak yang mengkonsumsinya. Penyusunan ransum yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap periode pertumbuhan dan produksi dipengaruhi oleh nilai gizi dan bahan-bahan makanan yang dipergunakan. Untuk memilih bahan-bahan pakan yang akan dipergunakan dalam ransum, harus diketahui dahulu kandungan zat-zat makanan dalam bahan pakan tersebut. Dengan demikian kekurangan salah satu zat pakan dapat saling menutupi dengan menggunakan pakan yang mengandung zat pakan tersebut. Standar kebutuhan pakan harus yang digunakan sebagai acuan kebutuhan ternak disesuaikan dengan kondisi ternak dan dengan tabel komposisi pakan yang menyediakan informasi berhubungan dengan komposisi nutrisi pakan yang digunakan dalam balance ration (Cullison,1979).
Ransum seimbang harus menyediakan protein, energi, mineral dan vitamin dari beberapa sumber pakan seperti fodder, konsentrat, suplemen mineral dan lain-lain, jumlah yang tepat memungkinkan performa ternak mencapai optimal dan menjamin kesehatannya (Garg, 2012). Untuk mencapai ransum yang seimbang, peternak harus mengerti kebutuhan nutrisi ternak, kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan dalam ransum, dan perhitungan matematis yang dibutuhkan sehingga ransum tersebut mencapai kebutuhan ternak. ransum yang seimbang mensuplai nutrien dalam jumlah dan proporsi yang tepat untuk mencapai kebutuhan ternak (Endecott dan Mathis, 2006).
Penyusunan ransum tidak boleh merugikan peternak, misalnya meningkatan berat badan yang tidak dapat memenuhi target, salah pemberian pakan karena terlalu banyak dalam memperkirakan kandungan nutrien pakan ataupun karena adanya zat anti nutrisi. Penyusunan ransum seimbang diperlukan tahapan sebagai berikut 1) Menyiapkan tabel kebutuhan zat nutrien; 2) Menyiapkan tabel komposisi/kandungan nutrien bahan pakan; 3) Penyusunan formula ransum; 4) Pencampuran bahan pakan (Ibrahim, 2013).
 

Protein Supplement

Protein Suplemen merupakan bahan pakan yang mengandung protein diatas 20% misalnya tepung kedelai (SBM-soy bean meal) (Prawirokusumo, 1994). Apabila pakan mengandung protein kasar kurang dari 7%, pemberian suplemen protein dapat meningkatkan status energi dan protein pada ternak dengan meningkatkan konsumsi dan pencernaan pakan. Suplementasi protein tersedia dalam berbagai bentuk. Bahan pakan dan ransum mengandung sekitar 10 – 60% PK tersedia. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa protein kasar dapat berasal dari sumber protein alami, sumber non protein nitrogen (NPN), atau campuran keduanya. Pertimbangan tambahan adalah mengenai rasio RDP (ruminally degredable protein) dengan protein bypass. Salah satu contoh penggunaan NPN adalah penggunaan urea. Tetapi penggunaan urea sangat dibatasi mengingat sejatinya urea dapat mengganggu kesehatan ternak apabila dosisnya tidak sesuai (Mathis, 2003). Ternak ruminansia dapat memanfaatkan senyawa nitrogen bukan protein sebagai sumber protein karena bantuan mikroorganisme dalam rumen dan retikulum. Mikroorganisme tersebut dapat mengubah nitrogen bukan protein menjadi protein mikroba. Jumlah pemberian nitrogen bukan protein ini, misalnya urea tidak boleh lebih dari 3 % dari seluruh bahan kering yang dikonsumsi. Suplementasi protein biasanya diberikan pada ternak dalam masa pertumbuhan. Ketika suplementasi protein harus diberikan, biasanya suplementasi energi juga dibutuhkan. Oleh karena itu, pakan suplemen yang mengandung protein tinggi, juga harus mengandung energi yang tinggi (Wahlberg, 2009)
Sebagian besar ransum bijian untuk ternak mensuplai protein yang cukup untuk kebutuhan protein sebesar 10 – 12%. Tetapi, saat ternak dalam kondisi diberi pakan kurang protein seperti jerami jagung atau jerami padi saja, suplementasi protein sangat dibutuhkan. Pada unggas, defisiensi protein yang hebat atau sebuah asam amino tunggal ternak akan mengalami kehilangan pertumbuhan rata-rata 6 – 7%, pada ayam petelur dapat menyebabkan molting yang hebat dan produksi telur berhenti (Ranjhan,1980). Dari jenis asam amino esensial tersebut, metionin dan lisin yang lebih banyak defisien. Asam amino lisin dan metionin biasanya dipakai dalam jumlah 0,1 hingga 0,2% tergantung banyaknya pemakaian protein nabati. Semakin banyak protein nabati yang digunakan, maka penambahan asam amino tersebut semakin dibutuhkan (Soetanto, 2002). Pakan yang mengandung asam amino yang seimbang akan mempunyai nilai biologis protein yang lebih baik. Protein dapat dicerna sehingga asam amino dapat diserap tubuh dan lebih banyak diretensi oleh tubuh ternak.

TDN

TDN atau Total Digestible Nutrient merupakan sebuah pengukuran kecernaan pakan dalam skala laboratorium, berhubungan dengan nilai energi pakan tersebut. Sebagai contoh, seekor sapi yang mengkonsumsi hijauan dengan nilai TDN sebesar 57 %, diharapkan akan mencerna sekitar 57% hijauan yang dikonsumsinya (Endecott dan Mathis, 2006). TDN biasanya merupakan porsi terbesar dalam pakan ternak. Nilai TDN pakan seringkali sulit untuk ditentukan karena beberapa sebab, 1) Kandungan TDN pda pakan pabrikan tidak dicantumkan dalam label; 2) Kandungan TDN diperoleh dari analisis hijauan atau pakan yang diestimasi menggunakan persamaan prediksi; dan 3) Nilai TDN untuk beberapa pakan berubah sesuai dengan perubahan jumlah pada pakan, khususnya saat hijauan diganti dengan konsentrat, dan pati diganti dengan bagian besar pakan konsentrat (Wahlberg, 2009).
Namun, penggunaan TDN sebagai satuan energi memiliki kelemahan yaitu tidak menghitung hilangnya zat-zat nutrisi yang dibakar saat metabolisme dan energi panas yang timbul saat mengkonsumsi pakan (Anggorodi, 1994). Total Digestible Nutrient (TDN) merupakan suatu asumsi bahwa selisih antara zat gizi yang dikonsumsi dengan zat gizi yang terdapat di dalam faeces merupakan nilai zat gizi yang tercerna dan dapat diubah menjadi energi. Oleh karena itu nilai TDN dapat dihitung dari konversi nilai DE (digestible energy) atau nilai ME (metabolizable energy). Padahal kenyataannya energi tidak dapat dicerna atau dimetabolisir, melainkan hanya akan diubah sesuai dengan hukum kekekalan energi. TDN secara umum dipakai untuk ruminansia dan sedangkan unggas memakai DE (Digestible Energi) dan ME (Metabolisme Energi).

 DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Cullison. A. E. 1979. Feeds and Feeding. 2nd Ed. Reston Publishing Co. Inc. Reston, Virginia.
Endecott, R. L. dan C. P. Mathis. 2006. Ration Balancing on the Ranch. NM State University.
Garg, M. R. 2012. Balanced Feeding for Improving Livestock Productivity – Increase in milk production and nutrient use efficiency and decrease in methane emission. FAO Animal Production and Health Paper No. 173. Rome, Italy.
Ibrahim, T.M. 2013. Formulasi Ransum pada Usaha Ternak Sapi Penggemukan. Sinar Tani Edisi 4-10 September 2013 No. 3522 Tahun XLIV, Badan Litbang Pertanian.
Mathis, C.P. 2013. Protein and Energy Supplementation to Beef Cows Grazing New Mexico Rangelands. Cooperative Extension Service, New Mexico National University.
Prawirokusumo, S. 1994.  Ilmu Gizi Komperatif. BPFE, Yogyakarta.
Ranjhan, S. K. 1980. Animal Nutrition in Tropics. 2nd Ed. Vikas Publishing House PVT Ltd., New Delhi.
Soetanto, H. 2002. Kebutuhan gizi ternak ruminansia. Jurusan Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan – Universitas Brawijaya, Malang
Wahlberg, M. L. 2009. Alternative Feeds for Beef Cattle - Virginia Cooperative Extension Publication 400-230, Virginia State University.