13 Desember 2010

jikA bukAn kAu...

If you’re not the one then why does my soul feel glad, today
If you’re not the one then why does my hand fit yours, this way
If you are not mine then why does your heart return, my call
If you are not mine would I have the strength to stand, at all

I never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay, in your arms~?

If I don’t need you then why am I crying on, my bed?
If I don’t need you then why does your name resound, in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim, my life?
If you’re not for me then why do I dream of you, as my wife?

I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life


Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side

untuk dia yg sepertinya merasakan hal yang sama. maaf dan terimakasih.

2 Desember 2010

at your side


When the daylight's gone, and you're on your own
And you need a friend, just to be around
I will comfort you, I will take your hand

And I'll pull you through, I will understand
And you`ll know that...

I'll be at your side
There's no need to worry
Together, we'll survive
Through the haste & hurry
I'll be at your side, if you feel like you're alone
And you've nowhere to turn
I'll be at your side

If life's standing still, and your soul's confused
And you cannot find what road to choose
If you make mistakes (make mistakes)
You won't let me down (let me down)
I will still believe (still believe)
I will turn around
And you know that

I'll be at your side
There's no need to worry
Together we'll survive
Through the haste and hurry
I'll be at your side
If you feel like you're alone
And you've nowhere to turn
I'll be at your side

I'll be at your side
I'll be at your side
You know that

I'll be at your side
There's no need to worry
Together we'll survive
Through the haste and hurry
I'll be at your side, if you feel like you're alone
You've got somewhere to go
I'll be at your side

I'll be at your side
I'll be right there for you
(Together we'll survive)
Through the haste and hurry
I'll be at your side, if you feel like you're alone
You've got somewhere to go
'Coz I'm at your side
Yeeeah, I'll be right there for you
I'll be right there for you yeah
I'm right at your side

sang juara

Senang sekali (sekali lagi) melihat teman-temanku memenangkan kompetisi. Baik dari dalam dirinya maupun sekitar.
Dulu, ketika Sekolah Menengah Pertama, aku dekat dengan manusia-manusia berprestasi, dan mereka selalu gemilang, aku sangat senang. Bukan hanya karena aku diberi kesempatan untuk dekat dengan mereka, tetapi juga karena efek positifnya padaku saat ini. Ah, dan kini, aku berbahagia melihat temanku menjadi sang juara meski hanya tingkat Fakultas Peternakan UNDIP.
Meski aku tak pernah mendapat gelar juara sebaik mereka, aku merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan bahwa mereka mampu menjadikan orang-orang di sekitarnya bahagia, bahwa mereka mampu mengalahkan kekerdilan dalam dirinya, dan bahwa mereka mampu membuktikan bahwa mereka mampu.
Hmmm... tak henti-hentinya bibir ini mengulum senyum. Meski hanya ucapan terimakasih dari sang juara karena aku mau menjadi temannya, meski hanya senyum tulus darinya, semuanya melebihi harta yang pernah kumiliki. Karena pada hakikatnya, kebahagiaan sejati itu adalah kemenangan hati...
Terimakasih telah menjadikanku juara di hidupku dengan kejuaraan yang engkau raih, kawan....

30 November 2010

untuknya

Hanya demi menjaga cintaku untuknya, aku tak akan mencintai orang selain dia. Terlebih lagi, hati ini selalu bersikap membedakan antara dia dengan orang lain. Bahwa dia adalah belahan hati, bahwa dia perlu disayangi...padahal bukan siapa-siapa...

Dan kini aku terpuruk dalam kecintaan yang terlalu, meski aku tak pernah tahu dia tahu atau tidak, tetapi aku sedikit banyak yakin dia tahu akan rahasiaku padanya. Pun denganku, agaknya aku tahu bahwa dia menyimpan rasa yang sama untukku.

Biarlah semua berjalan seperti biasa. Dan dia tetap menjadi bintang di langit.

Seperti Ali pada Fatimah dan Fatimah pada Ali, tak pernah tahu satu sama lain jika mereka saling menjaga. Tak pernah paham satu sama lain jika mereka saling mencinta. Tak pernah mengerti satu sama lain jika mereka saling mengagumi. Mereka hanya menjalankan tugas sebagai manusia. Yang taat akan perintah Tuhan, dan selalu berusaha untuk menjauhi laranganNya.

Kini aku mencoba untuk menjadi Fatimah, yang menyimpan rapi semuanya di hati, sembari berharap dia secerdas dan sejantan Ali, yang mengagumi dalam hati, dan dengan penuh keyakinan menyongsong Fatimah dengan kehalalan.

Biarlah kini kami saling tak mengerti keadaan hati masing-masing, tetapi aku yakin Allah memberi kami segalanya yang terbaik. Pun jika memang kenyataan nanti kami bukanlah siapa-siapa satu sama lain,,,hanya teman, yang dulu pernah bertemu, dan pernah saling mengenal.

23 Oktober 2010

untukmu

...wahai engkau yang senantiasa teguh menghadapi jaman..
engkau yang tersenyum di kala sakit,,,
engkau yang menghabiskan waktu hanya untukNya..
engkau yang bersujud ketika yang lain terlelap...
engkau yang mengerti bahwa Dia lah tujuan tertinggi...
tersenyumlah...

16 Agustus 2010

Iris

Verse 1

And I'd give up forever to touch you
Cause I know that you feel me somehow
You're the closest to heaven that I'll ever be
And I don't want to go home right now
Verse 2

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
Cause sooner or later it's over
I just don't want to miss you tonight
Chorus

And I don't want the world to see me
Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am
Verse 3

And you can't fight the tears that ain't coming
Or the moment of truth in your lies
When everything seems like the movies
Yeah you bleed just to know your alive

Chorus

And I don't want the world to see me
Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am
Chorus

I don't want the world to see me
Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am

I just want you to know who I am
I just want you to know who I am
I just want you to know who I am
I just want you to know who I am

.....

14 Agustus 2010

tentang desa madani(ku)


Kalau pada zaman Rasulullah, bacaan dalam shalat dan doa-doa sangat panjang. Kalau di zaman sekarang, karena segalanya serba cepat, mulai dari makanan yang cepat saji, pengiriman berita yang whas whuss, pun dengan transportasi yang semakin mempersingkat waktu, bacaan dalam shalat dan doa-doa pun mengalami akselerasi, zhipp... seketika rukuk, seketika sujud, seketika salam,, pun dengan doa-doanya yang amin, amin, amin...
Ah, Ramadhan memang selalu memberi inspirasi. Pun dengan malam ini, malam pertama Ramadhan 1431 H. Usai shalat tarawih yang berakselerasi itu, aku langsung menghadap laptop. Diiringi syahdunya tadarus anak-anak sekitar rumah...
Rasa ini, campur aduk. Bahagia, kecewa, sedih, haru, dan sebagainya. Bahagia karena aku (insyaAllah) bisa menemui Ramadhan pertama esok. Kecewa karena dari dulu, dari aku masih SD hingga kini, aku berpredikat mahasiswa semester tiga, shalat di masjid kecil desaku masih sangat kilat, macam diburu binatang buas. Sedih, karena, lagi-lagi, kami menjalani Ramadhan tanpa nenek, kakek, dan pakde-pakde, karena beliau semua telah dipanggil olehNya. Haru, karena sewaktu sembahyang di masjid tadi, begitu banyak anak kecil yang meski hujan deras turun malam ini, begitu antusias menyambut Ramadhan, mengikuti shalat tarawih (meski tadi beberapa dari mereka berteriak-teriak sementara yang lain khusyuk), menyenandungkan firman Allah, dan mereka hampir semua anak kecil yang di desa kecilku...
Dan.... impianku akan sebuah desa yang religius, madani, terpampang jelas tiap detik. Jauh semakin jelas saat aku menghadapi kenyataan seperti tadi. Hingga aku hanya bisa berdoa kini, karena hampir tiap hari, aku berkutat dengan kesibukan studiku di Semarang, jauh dari desaku. Aku hanya bisa berdoa, suatu saat ketika aku kembali kemari, semua orang gembira menyambutku, anak-anak kecil antusias mempelajari ilmuNya, ibu-ibu rajin seminggu sekali ke majelis, kaum adam meramaikan masjid dengan suara dan wibawa mereka... dan mereka yang ada di usia senja, hidup damai dengan ketenangan pikir dan batinnya...
Ah, biarkan semua ini terpanjatkan setiap detik, hingga suatu saat, semuanya nyata, bukan hanya impianku, bukan pula sebatas impian pemuda desaku kebanyakan, tetapi sebuah kenyataan...

Ya Allah

Ya Allah, hamba yakin apapun yang ada adalah Engkau yang mengatur...
Bukan semua yang tampak indah itu terdiri atas benda-benda kecil yang juga indah,, seperti bangunan pun, seindah apapun, yang namanya bangunan terdiri dari bermacam barang, semen yang warnanya buruk, bau-bata yang bentuknya itu-itu saja, pasir yang kasar, air yang cair, pun cat tembok yang baunya tidak mengenakkan hidung.. Namun, mereka mampu bersatu membentuk satu bangunan yang kokoh, yang indah, mengagumkan dan bahkan mampu menjadi naungan setiap jiwa-jiwa yang membutuhkan...
Sangat banyak hal di dunia ini yang begitu indah namun terdiri dari barang-barang sepele... Sangat banyak hasil-hasil mengagumkan yang ada, dan manusia hanya menjadi penonton hasil, tanpa melihat bagaimana rumit dan berartinya proses yang terjadi sebelum hasil mengagumkan itu ada. Seperti lukisan, yang sangat indah dipandang...yang selalu dinikmati manusia melalui pandangan matanya.... Dan tidak banyak yang tahu bagaimana warna-warna dapat terbentuk dan menjadi satu. Lukisan, yang tercipta dari air dan cat, filosofinya sangatlah indah bagiku. Seperti diceritakan seorang teman...
Tentang lukisan, jadilah air dalam lukisan, yang bersatu dengan cat, menciptakan warna-warna terindah di mata manusia, merah, kuning, hijau, biru,, dan segalanya bercampur baur menjadi ia yang indah... dan ketika terbentuk satu lukisan yang mempesona, yang membuat menganga tiap mulut manusia, yang membuat setiap mata memandang seksama, air mengering,,, membiarkan cat menempel mencipta indah dunia.. air mengering, menguap bagai tak pernah ada... melayang dan terlupa, bahkan cat yang kini indah di atas kanvas, tak mau lagi mengenal air yang dulu bersama membangun keindahan... Bukan keangkuhan cat yang boleh kita tiru, tapi ketulusan air dalam lukisan...
Dan, begitulah perbuatan kecil manusia, yang mampu membangun sebuah peristiwa besar, begitulah perbuatan baik manusia, yang kadang terlupa oleh yang lain,,, Namun yakinlah, apapun yang kita lakukan dengan kebaikan, apapun yang kita lakukan dengan mengharap keindahan dariNya, akan menciptakan keindahan sejati, yang meski tak pernah dilihat manusia, meski tak teraba oleh indra insani, meski sering terlupa oleh manusia yang alpa,,,tapi selalu dicatat olehNya, selalu terekam dengan jelas padaNya, hingga tiap doa yang kita panjatkan, selalu kan terdengar olehNya...
Kini, hamba yakin ya Rabb,, hamba hanya ingin lakukan yang terbaik, bagaimanapun skenarioMu... karena hamba yakin, apapun yang ada adalah Engkau yang mengatur...

kata-kata itu...


‘Kutitipkan engkau dalam penjagaanNya, selalu...’ pesan singkat di situs jejaring sosial dari kakakku yang hingga kini selalu kuamini..
Kebanyakan pesan-pesan singkat dari beberapa orang padaku hanyalah sebuah basa-basi... yang dengan membacanya saja, aku tahu pesan tersebut sungguh dari hati atau tidak. Dan pesan dari kakakku itu, saat aku membacanya pertama kali, bergetar hati ini... meski ketika itu hanya getaran biasa, karena kakakku sangat jarang mengirimkan doanya untukku lewat tulisan...
Namun kini, ketika aku begitu merasakan penjagaanNya yang selalu, baru kurasakan, doanya begitu tulus dari hati... doanya tak hanya berupa susunan huruf yang sia-sia, yang menghabiskan pulsa, bukan, tapi susunan huruf itu datang dari hati, dan kini, ia telah turun ke hati...
Bahagia sekali rasanya, karena setelah aku berpikir dan disadarkan olehNya tentang kakak dan keluargaku, aku tahu, meski mereka tak pernah mengirimkan kata-kata indah berupa doa lewat pesan singkat di hp maupun jejaring sosial seperti kebanyakan teman-temanku lakukan,, aku sangat yakin, mereka pasti selalu menyertakanku dalam panjatan doanya, dalam setiap hembus nafas mereka, pun dalam tiap sujud mereka.
Doa tentang diriku, doa yang merupakan bukti cinta mereka padaku, doa, yang meski tak pernah aku dengar, selalu kurasakan berkahnya,,, doa tentang penjagaanNya padaku, hingga aku terhindar dari marabahaya, hingga aku tak pernah bermasalah seperti orang-orang di sekitarku,, doa yang membuatku selalu dalam ridhoNya, yang menjauhkan aku dari maksiat, yang membuatku selalu dalam naungan penjagaanNya,,,selalu..

ibu

Ibu, sosok yang selalu mengagumkan, selalu pantas untuk dikagumi... beliau selalu menginspirasi. Mulai dari cara berpikir, berbicara hingga cara beliau bertindak. Ibu adalah orang yang kreatif, sangat kreatif, sampai-sampai pusing aku dibuatnya. Sering ibu mampu memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain. Seperti ketika membangun rumah, ayah mengurusi belanja bahan-bahan bangunan, misalnya keramik. Ayah hanya memutuskan membeli keramik sesuai dengan warna yang menurut beliau menarik, dengan corak yang berbeda dari yang lain. Dan sampai di rumah, ibu menatanya satu persatu, bagaimana agar keramik tersebut indah dipandang saat dipasangkan di lantai. Ayah tak memikirkan hal itu...
Pun ketika berbicara, ibu memilih untuk diam ketika orang lain bicara, dan memulai pembicaraan dengan logat dan warna suara yang lembut, serta kepiawaiannya dalam bercerita sehingga membuat orang tertarik untuk mendengar...
Dan, ini yang paling kusuka dari ibu,,, caranya bertindak..baik di depanku, orang-orang lain, maupun di depan ayah... ibu adalah seseorang yang tidak banyak bicara,,, tapi beliau bertindak. Seperti berikut, ibu selalu tampil cantik dan rapi di depan ayah. Ibu tak pernah mengenakan daster longgar seperti ibu-ibu yang lain, ibu selalu menyisir rambut dan menatanya dengan apik di depan ayah (kebetulan ibu saya memang hanya memakai jilbab pada saat-saat tertentu), ibu menjaga tubuhnya agar tetap terlihat sehat di hadapan ayah.... ah, indahnya, beliau tidak pernah mengajari kami tabarruj.. karena beliau berusaha tampil cantik dan indah dipandang di depan ayah, bukan di depan orang lain...
Dan tindakan ibu yang tidak mudah marah, selalu tersenyum dan menganggap semuanya akan baik-baik saja ketika aku melakukan kesalahan... semuanya membuatku kagum padanya.
Dan, meski ibu bukan jebbolan pesantren, bukan wanita dengan pemahaman agama yang mumpuni seperti kebanyakan umi-umi di luar sana, ibu memiliki prinsip dan idealisme yang lurus, yang kadang, secara tidak disadarinya, merupakan implementasi dari ajaran agama Islam yang begitu indah...
Ajaran ibu untuk tidak tabarruj, untuk selalu menjaga prinsip, untuk berlaku jujur, untuk berpikir positif, untuk kreatif, untuk menyesuaikan antara perkataan dan perilaku.

Ayah


Dia bukan spiderman yang selalu siap  melawan kejahatan, bukan doraemon yang setiap waktu bisa terbang dengan baling-baling bambu, bukan Khalid bin Walid yang adalah panglima perang, pun bukan Yusuf yang rupawan, bukan Daud yang pahlawan, bukan Isa sang juru selamat, bukan pula Muhammad yang menunjukkan cahaya terang... bukan Soekarno yang lantang, bukan Bung Tomo yang semangatnya berkobar, bukan Habibie sang cendekiawan, bukan pula Hamka yang ulama, negarawan dan sastrawan...
Dia hanya seseorang dengan hati yang tulus, pikiran yang lurus, prinsip yang teguh, , meski berbadan kurus.. dia hanya seseorang dengan hidup yang mengagumkan bagiku...
Dia hanya seseorang yang terjaga ketika orang lain terlelap dan terlelap ketika semua masih sibuk dengan dunia,,, dia hanyalah orang yang pendiam ketika memang harus diam, pembicara ketika memang harus bicara.. dia, bertindak tanpa banyak cakap, maju ketika yang lain mundur, dia memperhatikan setiap hal dalam hidup orang-orang yang dicintai dan mencintainya...
Dia, ada ketika orang-orang membutuhkan... dia berani jujur meski akhirnya karir hancur,,, dia mengalah namun tak kalah...dia bertahan hidup meski keadaan payah...dia tersenyum ketika marah, dia diam ketika semua merasa bersalah... dialah seorang ayah... yang membesarkan, mendidik, membimbing, melindungi, dan mencintai anak-anaknya dengan sempurna... dialah ayah, pasangan ibu yang selalu lapang dada melihat tingkah anak-anaknya...

2 Agustus 2010

Sekali lagi, aku bersyukur bisa kuliah di Undip, meski di Peternakan.
Hari-hari ini, daripada kosong tak bermakna, lebih baik aku menulis, entah apapun yang ada dalam benakku, ingin sekali kuungkapkan semuanya..
Kembali menjadi aku yang selalu berkhayal, dan berpikir, betapa Allah Maha Sempurna, dengan segala skenario rumitNya... pun dengan aku yang sekarang bersarang di Semarang ini...
Kuingat dulu, cita-cita tertinggiku adalah menjadi guru, yang siap dengan hati lapang mendengar tiap keluhan anak-anak didikku, guru yang siap menjadi teladan bagi kaki-kaki kecil demi melangkah ke jalan yang lurus, guru, yang mampu melahirkan insan cinta agama cinta tanah air... Ah, kini, semua itu hanya cita-cita... karena kenyataannya kini aku kuliah di Peternakan. Meski tidak tertutup kemungkinan nantinya aku bisa menjadi guru, tetap saja berbeda kondisi ketika kita memang benar-benar mempelajari dan menjatuhkan diri sepenuhnya pada ilmu-ilmu keguruan san pendidikan...
Dan kini, aku terus bersyukur berada di Undip. Karena, meski cita-cita tertinggiu adalah menjadi seorang guru, keinginan keduaku adalah agar aku bisa kuliah di Undip, entah di jurusan apa... bukan keguruan dan ilmu pendidikan pasti, karena di Undip hanya ada ilmu-ilmu murni yang bisa dipelajari...
Ada dua keinginan besar saat aku SMA, menjadi guru (yang selalu aku banggakan kepada teman-teman dan saudara-saudaraku) dan kuliah di Undip (yang ketika itu hanya menjadi keinginan terpendam dalam angan). Dan pasti, Allah telah menuliskan skenario terindahNya untukku, hingga berkali-kali aku mencoba mendaftar di jurusan keguruan dan ilmu pendidikan, tak satupun aku diloloskan olehNya.. dan pilihan terakhir dari semua pilihan adalah jurusan Peternakan, Undip... entah, tapi saat itu, kalau aku tidak (lagi) diterima di jurusan pendidikan, yang penting aku bisa kuliah.
Ya, dan aku ditempatkan olehNya di Peternakan Undip. Ah, indahnya aku bisa kuliah di Undip, meski di jurusan yang kebanyakan orang meremehkannya... tapi aku akan membuktikan bahwa yang kupelajari di sini bukanlah hal-hal remeh.. karena kini, semakin aku tahu, di Peternakan aku mempelajari banyak sekali ayat-ayatNya yang terangkai dalam kehidupan... semakin aku menyadari, bahwa meski aku tidak diperuntukkan belajar tentang ilmu-ilmu pendidikan, aku ditempatkan untuk menjadi pembelajar dan pengajar sejati bagi kehidupanku sendiri...yang hingga kini, masih aku yakini, semua itu akan mampu menjadikanku yang bermanfaat bagi sesama...
Dan satu lagi, mungkin Allah akan menjadikanku salah seorang guru yang lahir dari Undip, yang belajar tentang ilmu-ilmu pendidikan melalui apapun yang ada di sekitarku, pun lewat hewan-hewan ternak yang ada... karena bagiku, mereka mampu menjadi guru yang baik, yang mengajarkan kejujuran dengan bersedia makan jika memang pakan mereka baik, yang mengajarkan kedisiplinan dengan mengeluarkan apa yang harus dikeluarkan saat waktunya tiba, yang mengajarkan bagaimana memahami kerumitan rancangan-rancanganNya lewat keunikan organ-organ yang mereka miliki...
Ah, aku membiarkan diri ini larut dan berperan sebagai ‘aku’ dalam skenarioNya yang sempurna,, karena dia membiarkanku berlaku baik dan menjadi yang terbaik dalam kehidupanku, meski segalanya sering tidak sejalan dengan pikiranku...tapi aku yakin, Dia amat sangat mengetahui.

I am HOME


Some people live in a house on a hill
and wish there were some place else...
cause nobody there when the evening is still
secrets with no one to tell..
some I have known have the ship where they sleep..
the sounds of rocks on the coast..
they sail over ocean, five fathoms deep
they can’t find what they want the most...
and even now, I’m all alone,,,
i’ve always known, with you I’m home...
Wonosobo, 13 – 19 Juli 2010, hari-hari penuh kegembiraan, dan pengalaman. Ceritanya, kami magang di suatu tempat bernama PT. Rumpinary Agro Industry, sebuah perusahaan peternakan sapi potong yang cukup besar, dengan kandang berkapasitas 1200 sapi. Di perusahaan tersebut, ada 5 divisi utama, yaitu divisi keamanan, divisi kandang, divisi gudang, divisi kompos dan divisi administrasi dan keuangan.
Banyak sekali yang bisa diceritakan disini, tapi, aku tidak akan menyinggung tentang peternakannya, karena kali ini aku hanya ingin bercerita tentang kebersamaan kami di sana. Kami, yang terdiri atas beberapa perempuan yaitu aku, iin, mbak dwi, niyun, kiky, ari serta beberapa lelaki-lelaki kecil yaitu mas isna, mas husain, mas fajri, mas farihin, mas edi, yuli, nelson, ikhwal, sulkan, dan anto, merupakan rombongan mahasiswa peternakan undip semester 4 dan 2 yang berniat menimba ilmu di sebuah kegiatan bernama magang di perusahaan tersebut.
Kami datang hari selasa dengan gembiranya, karena disambut bangunan-bangunan yang indah dan bersih. Lalu singgah di masjid sebentar untuk sembahyang dan setelah itu menuju mess.
Di mess inilah kawan, awal petualanganku. Aku menyebutnya petualangan karena memang di sini sangat menantang untukku sendiri, entah dengan yang lain.
Sebelumnya, yang ada di pikiranku, yang namanya mess di sebuah perusahaan peternakan, adalah sebuah ruang dimana hanya ada kasur di dalamnya. Ternyata anggapanku salah besar, sama sekali salah. Bayangan di kepalaku terlalu sederhana, dan kenyataannya adalah sangat luar biasa mengagumkan. Ruangan bernama mess adalah rumah tingkat 2 dengan kamar yang luas, 2 kamar mandi, lantai 1 keramik dan lantai 2 terbuat dari kayu, mulai dinding hingga lantainya. Hufh...
Yang lebih mengagumkan lagi, ruang yang kami pakai untuk tidur adalah sebuah ruang dengan ukuran 5 m x 5 m, dengan satu pintu, dua jendela, berlantai keramik. Ya, itu saja, tanpa alas, tanpa almari, tanpa ranjang, apalagi kasur.
Pertama kali kami dikumpulkan di ruangan tersebut, sakit hati ini. Karena mas Apri (lulusan undip yang bekerja di sini) menyatakan permohonan maaf pada kami bahwa kasur yang dijanjikan tidak jadi dipinjamkan karena dipakai oleh para pekerja...
Ya, aku berusaha menerima semuanya dengan ikhlas, tanpa menggerutu, karena kami beruntung sudah membawa karpet dan dua tikar dari kos,,, awalnya kami berpikir, tega sekali para laki-laki pekerja itu, tidak menghormati tamu-tamu perempuan yang datang, hanya meminjamkan kasur seminggu saja mereka enggan. Namun, setelah kupikir-pikir dan kurasakan sendiri, aku pasti mampu bertahan di dini dengan kondisi macam itu... meski dalam keadaan Wonosobo yang begitu dingin menusuk tulang..
Hari-hari terus berlalu, aku tidak mempermasalahkan sang kasur, karena meski tanpanya, aku merasakan kenyamanan. Meski suhu di Wonosobo sangatlah rendah, aku merasa baik-baik saja karena bersama teman-teman yang selalu ceria... banyak sekali hal yang bisa menjadi pelajaran baru bagiku. Bahwa Tuhan masih memberiku kemampuan untuk hidup dalam keterbatasan.
Jika mengingat rumahku yang tidak terlalu jauh dari tempat magang, yang juga sama-sama dingin saat malam, aku pasti tidak betah di sini. Karena jika kedinginan di rumah, ibu menyediakan minuman dan makanan hangat, pun selimut dan jaket tebal yang begitu hangat untuk kukenakan. Pun dengan menonton televisi bersama ayah sambil berbincang tentang masa depanku...suasana hangat yang selalu kurindukan.. namun, meski dingin menyeruak tiap detik di sini, meski makan harus membayar, minum harus mencari, tidur tanpa kasur dan selimut tebal, aku merasakan “I am home” di sini. Karena kehangatan di rumah mampu tergantikan oleh hangatnya canda teman-teman, nikmatnya minuman hangat di rumah, mampu tergantikan oleh senyum ceria mereka, dan kebersamaan ini, persaudaraan yang indah ini, ukhuwah islamiyah ini, membuatku ada, membuatku merasa “I am home”...
Untuk teman-teman magangku, terimakasih telah menggantikan kehangatan rumah, terimakasih telah mau menampung keluhanku, telah rela berbagi denganku, telah dengan ikhlas membimbingku menjadi dewasa. Mbak dwi, terimakasih atas kedewasaanmu, mas husain, mas isna, mas fajri, mas farihin, mas edi,,terimakasih atas inspirasinya.. iin, kiky, niyun, ari,, terimakasih telah menjadi teman terbaikku untuk hari-hari itu... anto, yuli, nelson, sulkan, dan ikhwal, terimakasih telah bersedia selalu terlihat gembira di depanku, meski keadaan kita semua serba sulit... (ah, lebay...). tapi, sungguh, beberapa hari bersama kalian semua, telah sangat banyak menginspirasiku, dan meski aku tinggal di mess yang ‘terlalu indah’ itu,, ingin sekali kukatakan pada kalian satu persatu... “I always know, with you I am home...”
Dan untuk bapak dan ibu di rumah,,,, wherever I am, I feel I am home... because you’re always here in my heart...
(perlu diketahui juga, sehari setelah aku menulis ini, para lelaki kecil pemberani itu dengan jantannya meminjamkan kasur agar kami bisa tidur dengan nyaman. Meski hanya dua malam,,,but that’s okay guys.... thanks for all you’ve done for me and my life)...

nilai manusia


Sebuah kekecewaan kurasakan ketika melihat nilai teori yang terpampang di kampus, kemarin. Kekecewaan karena usahaku terasa amat sangat kurang, dan tidak akan terulang, tetapi juga kekecewaan karena sebuah kejujuran.
Entah mengapa, hati ini masih belum mampu untuk mengikhlaskan angka-angka yang ada waktu itu. Namun, selalu kugaungkan pada diri sendiri, bahwa aku harus bangga dengan hasil apapun yang kuperoleh. Apalagi saat mengingat bagaimana proses yang terjadi. Bahwa semua yang kuperoleh memang telah sesuai dengan usahaku yang amat sangat kurang itu. Dan salah satu pelajaran yang dapat kupetik adalah bahwa aku harus lebih giat dalam belajar dan agar aku lebih mampu mengatur waktu-waktuku. Dan satu lagi, apapun hasilnya, dan bagaimanapun keadaan serta cara-caraku, kejujuran harus tetap kunomorsatukan..
Karena ada seorang teman, yang menceritakan temannya. Bahwa ia, dalam penampilan telah merupakan seseorang dengan pemahaman agama yang mumpuni dimana segala sesuatu yang dilakukannya adalah implementasi dari kematangan pemahamannya. Namun, ternyata, ia telah melakukan sesuatu, yang menurutku dan sebagian teman, adalah sangat tidak pantas dilakukan oleh orang dengan ilmu yang mumpuni sepertinya. Intinya, dia melakukan kecurangan, dan nyatanya hal tersebut mampu membaguskan angka-angka atau nilai teoritis baginya.
Tidak, sekali lagi, aku tidak boleh menirunya. Meniru perilakunya yang menghalalkan segala cara demi membaguskan predikat dari manusia, yang malah menjatuhkan martabat, yang mungkin, telah ia bangun selama ini. Karena sungguh, aku pun tak mengira ia akan melakukan hal tersebut, aku dan teman-teman merasa tertipu dengan penampilannya yang begitu mengagumkan, benar-benar mencerminkan seseorang dengan agama yang kuat dan iman yang begitu mantap.
Ya, meski hati ini masih belum mengikhlaskan angka-angka yang terpampang sangat jelas di dinding kampus dan jauh lebih tidak ikhlas melihat kenyataan tentang temannya temanku itu, aku masih patut bersyukur karena masih memiliki teman-teman yang selalu siap mengingatkan bahwa ada Allah yang selalu mengawasi, bahwa Dia lebih melihat proses daripada hasil, hingga aku dan teman-temanku terjaga dari perilaku menipu manusia dengan penampilan.
Bukan bermaksud menunjukkan aib seseorang, tetapi hanya mencoba untuk mengabarkan agar kita semua selalu mengingat bahwa apapun yang kita lakukan, ada Allah yang mengawasi, apapun yang kita peroleh adalah selalu sesuai dengan usaha-usaha kita dan kembali mengingatkan terutama pada diri sendiri, agar apapun yang dilakukan, benar-benar merupakan upaya untuk mencari ridhoNya, bukan popularitas dunia, atau nilai-nilai dari manusia. Dan semua hal yang setiap detik kita lakukan di dunia, akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Maka, bagi yang terkecewakan karena sebuah nilai dari manusia, ingatlah Dia yang selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Dan yakinlah, Dia selalu menciptakan cara-cara yang meski terlalu rumit untuk kita pahami, tapi merupakan kejutan yang akan mencengangkan setiap langkah yang kita usahakan.

tentang nama itu

Kau jauh melangkah
Melewati batas waktu
Menjauh dariku
Akankah kita berjumpa kembali
Sahabat kecilku,
Masihkah kau ingat aku
Saat kau lantunkan
Segala cita dan tujuan mulia
Tak ada satupun bisa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya...
Tiada, tiada lagi tawamu
Yang slalu menemani saat sedihku
Tiada lagi candamu
Yang slalu menghibur di saat ku lara...
Bila malam tiba,
Ku slalu mohonkan
Tuhan menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lagi....
Sebuah lagu dari Gita Gutawa, judulnya sahabat kecilku. Entah liriknya benar atau salah, tapi begitulah kira-kira bunyinya. Tulisan ini kubuat ketika teringat seseorang, yang dulu pernah, bahkan sering membuatku tersenyum dengan candanya yang mungkin kadang berlebihan. Yang setiap perbuatannya, selalu membuat suasana menjadi ceria.
Mungkin hanya beberapa yang mengenalnya. Namanya ada pada namaku. Dia laki-laki. Bukan apa-apa, tapi, sekarang aku dipanggil oleh beberapa teman dengan nama itu. Kadang sedih sekali mengingatnya. Namun, aku selalu akan tersenyum dengan namanya yang ada padaku, tersenyum saat mengingat caranya bercanda, hingga semua teman-temanku tersenyum,bahkan tertawa.
Namun kini, tiada lagi candanya.. yang slalu menemani saat sedihku... yang slalu menghibur di saat ku lara. Dan biar, biarlah semua itu berlalu. Aku hanya ingin mengingat kebaikannya, mengingat caranya bergembira, mengingat caranya menggembirakan orang lain, dan caranya menyembunyikan kesedihan. hingga saat aku terbiasa dengan caranya bergembira, pun menggembirakan orang lain, aku akan selalu merasa sangat gembira, bahagia. Itu saja.
Dan terimakasih telah menemaniku berbahagia sepanjang hari, meski dengan namanya yang ada padaku.
Entahlah apa maksudku menulis semua ini dan memberitahukannya padamu, tapi, agaknya kawanku ini perlu tahu, tentang nama itu. Empat huruf yang kadang membuatku agak keberatan dengannya, juga kadang selalu berbahagia karenanya. Terimakasih teman. Itu saja.

22 Juli 2010

bude

Mungkin, sakit bagi kebanyakan orang adalah tidak mengenakkan. Aku juga merasakan seperti itu kini. Meski hanya sebatas flu biasa. Namun dengan kepala pening dan hidung tersumbat, rasanya segalanya jadi tak menyenangkan. Tapi bukan itu yang akan kubahas di sini. Dalam sakit ini, dalam keadaan agak menyebalkan ini, aku merasakan syukur yang tak terkira. Syukur tentang hidup ini.
Berawal dari bangun dan shalat subuh, Sabtu ini kujalani dengan lunglai karena flu. Kemudian aku disibukkan dengan aktifitas pagiku. Dan sekitar pukul setengah tujuh, entah mengerti atau tidak dengan yang kurasakan ini, ibu menyuruhku pergi ke rumah Pakde, untuk meminta beliau membayarkan pajak mobil ayah. Karena ayah juga sedang kurang enak badan. Sempat aku menanyakan, kenapa tidak SMS saja. Namun, yang punya HP adalah sepupuku, anak-anak Pakde. Dan mereka pasti membawa serta HPnya ke kampus dan sekolah. Akhirnya aku beranjak pergi. Kalau badan sedang fit, bukan masalah aku pergi ke rumah Pakde. Namun kali ini, badanku lemas. Meski rumah pakde tidak terlalu jauh, aku harus mengumpulkan tenaga untuk pergi ke sana, karena rumah beliau yang berada di ‘bawah’. Dan aku harus melewati tanjakan panjang menujunya, dengan jalan kaki. Maklum, anak ingusan sepertiku masih agak-agak takut mengendarai motor, meski berulang kali berlatih.
Sampai rumah Pakde, Bude sedang sibuk menyapu lantai, sementara Embah Putriku sedang sarapan. Usai aku menyampaikan maksudku kesana, aku duduk bersama Embah dan Bude. Bersiap mendengarkan cerita-cerita Bude yang selalu saja ada setiap kami bertemu. Embah Putriku adalah seorang yang pendiam, seperti halnya aku, yang tidak suka banyak omong, tapi lebih suka mendengarkan. Diawali penanyaan kabar, Bude memulai ceritanya. Mulai dari sepupuku yang kemarin masuk rumah sakit, keponakan-keponakannya yang akan ujian akhir nasional, tetangganya yang sibuk mencari kuliahan, tetangganya yang kecelakaan hingga patah tulang kakinya dan selalu ditemani pacarnya (yang adalah saudara jauh kami), tetangganya yang masih muda tapi sudah menikah karena ‘kecelakaan’, hingga anak-anak kebanggaannya yang menyentuh hati. Dan perlu diketahui, yang beliau ceritakan itu adalah teman-teman lamaku. Kasihan sekali mendengar nasib mereka kini. Sama halnya denganku, anak Bude yang pertama, yang sekarang juga mahasiswa semester dua, hanya bisa mengelus dada melihat fenomnea remaja kampung kami.
Namun, keluarga besar kami patut bersyukur karena nasib kami cenderung baik. Meski ada beberapa yang juga punya cerita unik, tapi anggota keluarga kami masih dipandang baik oleh orang lain. Bude menceritakan keadaan anak pertamanya padaku. Bahwa sekarang dia rajin shalat berjamaah dan mengajak serta adik laki-lakinya. Bahwa dia, di Semarang, tempat ia menuntut ilmu, tinggal di rumah kontrakan bersama dengan para ‘anak baik’ yang mendapat bimbingan agama rutin.
Inilah yang akan menjadi pelajaran tentang syukurku. Sebuah pelajaran, bahwa tanpa HP, bukanlah kesusahan, malah bisa menjadi ajang silaturahmi yang jauh lebih membahagiakan hati..

idealisme dan idealis

Idealisme dan idealis. Selalu membuat semua orang yang memilikinya terlihat berbeda dengan orang lain. Di bidang apapun, termasuk bidang keilmuan. Pun begitu denganku dan beberapa teman. Memang sebagai penuntut ilmu, kami diwajibkan membagi ilmu pada orang lain. Namun, apapun yang kita lakukan juga terpaut dengan waktu. Begitu pula dengan pembagian ilmu ini. Aku,memiliki sebuah idealisme –atau lebih ringan disebut prinsip- tentang pembagian ilmu ini. Bilapun memang sudah waktunya dan memang tepat waktu dan dalam keadaan yang baik, aku akan dengan sukarela membagikan ilmuku, yang tidak banyak ini.
Namun, yang jadi permasalahan bukan hanya karena waktu dan tempat yang kurang tepat, tetapi juga karena aku dianggap kurang boleh membagi ilmu pada sesama serta memang belum ada kesiapan. Padahal di mata teman-teman, katanya, aku adalah orang yang cukup mampu di bidang keilmuan. Terbukti dengan nilai-nilaiku, yang juga kata teman-teman cukup tinggi. Padahal, nyatanya aku lebih mengerti tentang diriku sendiri daripada mereka, bahwa aku belum cukup ilmu dan kemampuan. Hanya saja, mungkin waktu itu aku adalah salah satu orang yang beruntung.
Bukan bermaksud egois dengan mengatakan bahwa aku lebih mengerti diriku dibanding mereka. Namun, kadang manusia salah mengartikan sikap seseorang sebelum mereka mengetahui pribadi orang tersebut dan tujuan mengapa orang tersebut melakukannya. Sekarang, aku berada dalam posisi yang membingungkan. Satu sisi, aku harus memegang teguh prinsipku. Namun di sisi lain, aku tertuntut oleh keadaan agar mau dan mampu mengerti keadaan orang lain, bahwa ketika mereka sedang membutuhkan bantuan, saat itu pula mereka harus dibantu. Aku pun begitu jika sedang memerlukan bantuan, kadang tak terpikir apakah dia yang kumintai bantuan sedang dalam keadaan siap atau tidak, yang penting permintaanku terpenuhi.
Namun, kembali mencakup bidang keilmuan, jika memang aku tidak memberikan suatu informasi karena sedang dalam keadaan tertentu, aku juga tidak akan meminta informasi tersebut dari orang lain. Karena masalah keadilan. Dan kurasa, sah-sah saja bila kita menjaga sebuah keadilan dalam keilmuan... bilapun memang pengetahuan kita harus disebarluaskan dan selama tidak merugikan orang banyak, pengetahuan tersebut HARUS dibagikan. Namun, selain keadilan, asas yang berhubungan dengan keilmuan yaitu kejujuran. Bila kejujuran sudah tidak lagi dijunjung tinggi, untuk apa pengetahuan tersebut dilestarikan? Adalah baik jika kita tidak mengetahui pengetahuan orang lain, tetapi kejujuran tetap dijunjung tinggi. Namun akan jauh lebih baik jika kita memberi dan meminta suatu pengetahuan atau ilmu atau informasi dari orang lain dengan kejujuran.
Entahlah, aku menulis ini karena ‘sedang’ dianggap pelit oleh beberapa orang. Padahal, apakah salah jika kita hanya ingin memberikan sesuatu ketika memang diminta dan punya? Apakah jika kita tidak punya dan tidak mampu memberikan, pun anggapan kita tidak ada yang membutuhkan apa yang kita punya, kita akan memberikan sesuatu itu? Rasanya abstrak dan malah akan menjerumuskan. Karena lebih baik kita diam pada sesuatu yang memang kita tidak tahu daripada menyesatkan orang lain.
Memang susah hidup dengan prinsip yang ‘agak berbeda’ dengan orang lain. Saat kita nyaman dengan prinsip-prinsip hidup kita, tidak semua orang mengerti dan memahami. Sehingga kita diharuskan memilih berada dalam keadaan yang ‘berbeda’ dengan mereka atau malah mengikuti arus dengan berada di zona nyaman dan aman bersama mereka, yang tentu dengan melepas prinsip hidup yang telah teguh dalam diri kita secara paksa.

15 Februari 2010

yang tertinggal hanya mbah...

Yang tertinggal hanyalah mbah-mbah tua yang berbincang-bincang di depan rumah, bergantian antara rumah yang satu dan yang lain. Atau mungkin mbah-mbah tidak terlalu tua tapi mukanya terlihat lebih tua dari umurnya, yang terus tegang karena harus terus menerus mengawasi cucu-cucu bandelnya yang ditinggal orang tua pergi mencari nafkah. Itu, itu yang tertinggal di desa kami kini. Bukan para pemuda yang siap mengguncang desa ini dengan pemikiran kreatif dan briliannya. Sungguh, aku prihatin. Meski aku tak memiliki andil apa-apa di desa ini. Namun, kali ini, ketika berhadapan langsung dengan keadaan ini, aku ingin memberikan ‘sesuatu’ pada desa ini…
Selama bertahun-tahun aku menuntut ilmu. TK hingga SMA, dan sekarang kuliah, aku jarang menghabiskan waktu di rumah. Karena memang di sekolah dan kampus jauh lebih memberi manfaat pada perkembangan ilmuku. Namun kini, saat aku merasakan kejenuhan di kos dan kampus, dan memang ini hari-hari libur, aku ‘terpaksa’ berkutat dengan kesibukan orang libur di rumah. Yang kulakukan ‘hanya’ membantu pekerjaan ibu di rumah, baca buku, bantu ayah, kakak, dan berinteraksi dengan para tetangga… dan yang kulihat terus menerus,,, ibu-ibu yang menggendong anaknya, mbah-mbah dengan masa tuanya, bapak-bapak dengan pekerjaannya, dan anak-anak kecil dengan keramaiannya..
Kini, aku malah bertemu kembali dengan para pemuda di desaku lewat dunia maya. Facebook. Dengan khayalanku, ingin sekali bersama-sama mereka membangun desaku agar jauh lebih maju dari saat ini. Kebanyakan dari para pemuda ini merantau. Entah ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri, bekerja. Yan aku renungkan saat menyadari semua ini adalah, bahwa aku, sebagai mahasiswa, yang nantinya menjadi pionir pembangunan negeri ini, harus mampu mengatasi masalah-masalah bangsa ini, paling tidak masalah di sekitarku, meski selama ini aku hanya belajar dan belajar, tanpa mampu memberikan kontribusi nyata untuk bangsa ini (maupun desaku). Namun, aku membayangkan, jika para pemuda, setelah aku lulus nanti, dapat kembali ke dunia nyata, ke desa ini, bersama-sama membangun dan memajukannya, paling tidak lewat dunia pertanian (kebetulan aku mengambil konsentrasi peternakan, yang masih menjadi rumpun pertanian di universitas), agar generasi berikutnya tertarik untuk menetap di desa, dan tidak menjadi pesuruh di negeri orang. Dan juga, agar desa ini tidak hanya dipenuhi dengan mbah-mbah yang renta, ataupun setengah tua yang tiap hari harus tegang menghadapi cucu-cucunya..

13 Februari 2010

Pelajaran hidup


Selalu kagum dengan apapun yang Allah ciptakan. Udara yang dingin dan panas, air tawar dan asin, dan segalanya yang berbeda namun sangat indah. Seperti pengalamanku seminggu kemarin.
Hari senin aku di rumah, membantu kakak ipar menyiapkan tanah untuk menyemai cabai. Hari Selasa pergi ke Bank untuk membayar uang kuliah dan bablas ke Semarang untuk mengurusi daftar ulang. Hari Rabu pulang ke rumah bersama teman yang selalu penasaran dengan rumahku. Hari kamis sampai Jumat di Dieng, berlibur di tempat temanku. Hari Sabtu pulang ke Semarang karena ada acara, dan hari Minggu istirahat.

Senin, di desa ini, hanya sedikit yang mau melakukan penyemaian dulu sebelum menanam cabai. Hingga tak banyak yang memanen cabai dengan baik. Pelajarannya adalah, bahwa semua itu perlu pengetahuan.
Selasa, Bank, teller yang dulu berulang kali membantuku di Bank, saat itu sudah ganti. Lebih menarik, lebih cantik, tapi tetap sama ramahnya. Pelajaran pentingnya yaitu bahwa dalam hidup, kita juga harus memperhatikan penampilan agar orang lain simpati pada kita, bukan apa-apa, tapi ketertarikan seseorang itu akan membuat kita dan orang lain sama-sama nyaman, dan mengurangi kemungkinan satu sama lain berpikir negative.
Rabu, agendaku adalah mengambil KRS dan pulang ke rumah. Ternyata pagi itu KRS belum bisa diambil, bisanya siang hari, padahal aku harus pulang dengan dua temanku karena memang sudah dijadwalkan begitu. Akupun pulang, dan memutuskan untuk mengambil KRS kapan-kapan saja. Kami naik angkot dua kali dan bis menuju kota kecilku. Bis yang kami tumpangi melaju begitu lambat, lain dari biasanya. Dan di tengah perjalanan, kami dipaksa untuk pindah pada bis yang lain karena bis yang tadi kami tumpangi akan pergi entah kemana. Pelajarannya adalah, bahwa hidup ini perlu kesabaran dan rencana yang matang.
Kamis, kami merencanakan untuk pergi ke Dieng, sebelumnya kami menunggu teman yang memang akan kami singgahi rumahnya sembari menunggu, kami mampir sejenak ke toko busana di dekat pemberhentian bis. Banyak sekali yang mampu kami beli di sana. Namun, kami juga harus berpikir tentang uang saku kami… setelah kami selesai memilih dan membeli barang yang kami perlukan, kami keluar untuk menunggu teman kami. Lama sekali, hampir setengah jam kami menunggu. Namun akhirnya dia dating bersama satu temannya. Kamipun berangkat ke Dieng. Pelajarannya lagi adalah, bahwa hidup itu memerlukan kemampuan untuk memilih mana yang benar-benar penting untuk kelangsungan hidup.
Jumat, kami telah menginap semalam di Dieng, yang udaranya, airnya, apapun di sana dingin. Kecuali api dan air panas. Bahkan badanku yang biasanya hangat, di sana sama saja dingin. Jumat pagi kami meluncur ke Bank terdekat untuk mengantarkan teman kami mentransfer uang. Sungguh, jauh sekali bank itu dibandingkan dengan kota kecil kelahiranku. Pun jumlahnya hanya satu. Dan katanya, uang transferan tadi baru akan sampai tiga hari kemudian. Dan kami mencari lagi bank lain yang ‘dianggap’ punya kemampuan yang lebih canggih dari bank pertama. Jaraknya pun jauh sekali, melewati perbukitan dengan cuaca mendung dan dingin… lalu kami melanjutkan berpetualang ke tempat tempat wisata yang memang menjadi tujuan kami di sana. Benar-benar indah ciptaan Allah. Ada saja yang bisa menarik hati ini. Mulai dari Telaga warna, yang satu telaga warnanya ada tiga. Lalu Candi Hindu yang masih kokoh berdiri meski telah berabad umurnya. Mengagumkan. Meski agama Hindu tidak dibenarkan menurut Islam. Namun yang mengagumkan adalah bahwa orang zaman dahulu sudah mampu membuat karya seni seindah itu. dan bagaimana cara menyatukan batu-batu itu hingga menjadi sesuatu yang enak dilihat??hufh,, Subhanallah… kami juga pergi ke sebuah kawah, yang bau, tapi tetap saja indah… dan pelajaran hati itu adalah, bahwa dalam hidup, kita harus banyak-banyak bersyukur. Adakalanya kita memandang ke atas untuk memotivasi diri kita supaya lebih baik. Namun adakalanya kita menunduk ke bawah untuk merenungi, betapa masih banyak orang-orang atau ciptaanNya yang kurang beruntung daripada kita…
Sabtu, pulang. Kami bertiga pulang kembali ke Semarang. Rencanaku, Sabtu siang sampai di Semarang, Minggu istirahat setelah berkeliling ke berbagai kota. Kemudian Senin adalah acara yang sesungguhnya, yaitu mengisi KRS dengan dosen wali. Hari Sabtu, lima jam lebih perjalanan dari Dieng ke Semarang. Sungguh sangat melelahkan. Dan tak dinyana tak disangka, di dalam bis, kami bertemu dengan seorang nenek-nenek. Beliau bercerita pada beberapa orang bahwa beliau dari Purwokerto, akan kembali ke Kudus. Berangkat sendiri dari Kudus, untuk menemui anak semata wayangnya yang hidup bersama suaminya di Purwokerto. Beliau hanya membawa serta uang sebanyak 70 ribu rupiah. Untuk berangkat dari Kudus ke Purwokerto saja menghabiskan uang kira-kira 40 ribu. Sesampainya di Purwokerto, beliau tidak menemui anaknya. Ternyata sang anak sedang pergi ke Jakarta bersama suaminya, dan rumahnya kosong. Jadilah beliau terlantar di Purwokerto. Beliau –katanya- menginap selama dua malam di terminal. Dan selama itu beliau tidak makan apapun. Mungkin demi menghemat uang untuk kembali ke Kudus, karena jika diasumsikan biaya transportasi adalah 40 ribu, maka uangnya hanya tinggal 30 ribu. Akhirnya beliau naik bis jurusan Semarang, dan bertemu dengan kami. Aku dan kedua temanku duduk terpisah. Aku besebelahan dengan seorang ibu yang baru saja menjenguk saudaranya di Banjarnegara, beliau membawa serta cucu satu-satunya. Dari beliaulah aku tahu cerita tentang nenek-nenek tadi. Sementara satu temanku duduk di bangku belakangku, tepat berseberangan dengan sang nenek, dan temanku yang satu lagi duduk di belakang sang nenek. Ibu di sebelahku menceritakan sang nenek kembali, bahwa sang nenek kehabisan uang, karena sudah dipakai untuk membayar ongkos bis. Nenek itu meminta bantuan kepada setiap orang yang beliau beri tahu agar memberikan sedikit uang untuk beliau kembali ke Kudus. Ibu sebelahku hanya mampu membantu membelikan beliau satu botol air minum dan dua buah arem-arem (makanan yang terbuat dari nasi yang dibungkus daun pisang), karena ibu itu tahu bahwa sang enek belum makan apapun selama dua hari di Purwokerto. Aku mengirim sms pada temanku yang duduk di belakang sang nenek, menceritakan semuanya. Kami hanya bingung, karena uang kami juga mepet. Namun sempat kami memutuskan untuk iuran dan menyumbangkan uang kami pada nenek tersebut. Namun urung karena kami tidak mendengar cerita dari nenek itu secara langsung. Lama bis berjalan, aku sudah beberapa kali terlelap karena lelah yang tak tertahankan, ibu di sebelahku turun dan bangku sebelahku kosong. Teman yang duduk di belakangku pindah posisi dan duduk di sampingku. Tiba-tiba dia bercerita tentang nenek tadi. Dan aku, sayup-sayup mendengar sang nenek yang bersuara, membeli dua bungkus tahu. Aku tanyakan pada temanku, memangnya beliau punya uang? Katanya habis? Malah temanku bilang, punya, karena dia memberikan uangnya. Sungguh, mulia sekali hati temanku yang cantik itu. setahuku, ongkos angkutan ke Kudus adalah tujuh ribu. Temanku memberikan uang 10 ribu pada sang nenek. Namun nenek tersebut minta 5 ribu lagi, katanya untuk naik becak. Ya sudah, akhirnya temanku memberikan 5 ribu lagi. Bodohnya aku, kenapa melewatkan kesempatan untuk bersedekah barang sejimpit uang pada sang nenek. Namun, aku bersikap begitu karena beberapa alasan, -yang menurutku masuk akal, tetapi mungkin tidak nalar sama sekali-. Beliau, dilihat dari mukanya adalah orang berada. Kalung yang cukup besar melingkar di lehernya, mengintip dari sela-sela kerudung yang dipakainya, dan di tangan kanannya, tepatnya dua jari tangan kanannya, melingkar empat cincin emas. Melihat keadaan beliau yang seperti itu, memang tidak meragukan jika dia memang kaya. Namun, baru sekarang aku sadar. Seberapapun kayanya seseorang, kalau memang beliau sedang tidak memiliki uang, apalagi dalam keadaan terdesak, sepatutnya harus kita tolong. Apalagi seorang wanita renta seperti nenek-nenek tadi. Mungkin kalau yang memiliki masalah itu adalah ibu-ibu atau bapak-bapak dengan keadaan mirip dengan sang nenek, kita boleh berpikir dua kali. Mungkin beliau memiliki kartu ATM dan bisa mengambil uang sesuka hati. Namun ini, nenek-nenek… bodohnya aku… namun, dari peristiwa menjengkelkan itu, aku mendapat pelajaran yang amat berharga, bahwa aku tak boleh lagi berprasangka buruk terhadap orang lain, siapapun itu. Jadilah orang yang lebih peka, apalagi terhadap seorang yang lanjut usia. Dan jangan pernah lewatkan kesempatan untuk berderma, seberapapun harta yang kita punya.

21 Januari 2010

istirahat?


Selama kurang lebih empat hari aku berada di rumah. Menenangkan pikiran dan sedikit mengistirahatkan badan yang begitu lelah dengan aktifitas kampus. Dua hari pertama, aku berbaring untuk meringankan sakit di leher yang kata orang jawa ‘gondong’, yaitu bengkak pada kelenjar getah bening yang ada di leher. Meski tidak sepenuhnya berbaring di atas tempat tidur, aku merasakan pegal-pegal di seluruh tubuh, seperti orang kebanyakan tidur. Hari ketiga, aku berpikir tentang kegiatanku di rumah yang tidak produktif sama sekali. Hanya terbayang wajah-wajah orang-orang besar di seluruh dunia. Dan aku berpikir, apa yang mereka lakukan dalam waktu senggang mereka. Aku yakin, mereka tak pernah ‘beristirahat’ seperti yang kulakukan saat ini. Aku yakin, sangat yakin, bahwa orang-orang besar, yang ada dalam bayanganku itu, selalu melakukan hal-hal penting dalam tiap detik hidupnya. Itulah yang membuat mereka menjadi orang besar.
Dalam masaku ‘istirahat’ ini, dengan alasan aku ingin, setidaknya, seperti ‘orang-orang besar’, aku banyak membaca buku yang berisi berbagai pengetahuan. Orang-orang di rumahku termasuk yang doyan membeli buku. Namun, untuk membacanya, kadang mereka tidak sempat karena kesibukan masing-masing. Ayah, sosok yang senang membeli buku tentang pertanian, termasuk peternakan. Ada banyak buku yang beliau beli. Tentang budidaya cabai, kaktus, kentang, maupun cara memelihara ayam petelur. Sapi potong, maupun kelinci. Semua buku-buku beliau sangat berguna untukku menambah pengetahuan. Kebetulan, aku satu-satunya anak beliau yang masuk jurusan peternakan di universitas di Jawa Tengah. Aku membaca sedikit buku-buku ayah, dan mendapat sedikit ilmu serta pencerahan tentang hidup.
Lain ayah, lain lagi kakak-kakakku. Mereka yang semuanya perempuan, kebetulan sudah menamatkan sekolahnya di perguruan tinggi dan sekarang Alhamdulillah sudah bekerja. Mereka gemar membeli buku tentang agama. Mulai dari buku-buku saku, hingga buku-buku tebal yang kadang untuk melihatnyapun malas. Namun, saat-saat seperti ini, alangkah berharganya jika kugunakan untuk menimba ilmu yang belum dan mungkin tidak akan aku dapatkan di bangku kuliah.
Sedikit buku-buku koleksiku, ayah, ibu, dan kakak, tertata rapi di sebuah rak di ruang tengah. Karena memang waktu itu aku berniat untuk beristirahat, aku hanya duduk-duduk saja di ruang tengah. Namun dalam hati aku membatin, aku harus mengisi waktu ini. Paling tidak dengan mencari ilmu melalui buku-buku yang sedari tadi hanya aku pandangi. Akhirnya kuputuskan untuk membaca buku ‘karangan’ Syeikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury, judulnya Sirah Nabawiyah. Di dalam buku itu diceritakan lengkap soal perjalanan hidup Rasulullah Muhammad SAW, mulai beliau lahir hingga wafat. Memang tebal buku itu, tapi aku telah membaca separuhnya waktu liburan kemarin. Jadi sekarang tinggal melanjutkan.
Salah satu pelajaran yang dapat kutangkap dari buku tersebut adalah kisah Rasulullah pada masa-masa awal beliau diangkat menjadi nabi. Ketika itu, beliau sedang berada dalam situasi yang cukup sulit. Beliau diharuskan Allah untuk menunggu waktu turun ayatNya untuk kedua kalinya, setelah pertama kali wahyu Allah yaitu ayat 1-6 surat Al-Alaq turun. Dalam waktu-waktu tersebut, seperti digambarkan dalam Sirah, Rasulullah memiliki sedikit daya untuk hidup. Dan beliau hanya melakukan perjalanan ke gunung, untuk kemudian mati di sana. Namun, sungguh Allah begitu mencintai makhlukNya yang satu ini. Rasulullahpun urung melakukan bunuh diri karena Allah mengutus malaikat Jibril ke hadapannya. Dan dalam tiap-tiap Rasulullah mencoba untuk bunuh diri, karena tidak hanya sekali, Allah selalu melakukan hal yang sama, hingga beliau urung melakukannya.
Sungguh, pelajaran yang dapat kuambil adalah, Allah begitu menyayangi hambaNya, bagaimanapun keadaannya. Seperti cintaNya padaku, bahwa Dia tak menginginkanku untuk membuang waktu dalam hidupku. Maka bukan hanya karena buku-buku yang telah aku baca dalam masa ‘istirahat’-ku, tetapi juga karena cintaku yang besar pada ayah, ibu, kakak, semuanya, juga pada Rabb-ku, aku bertekad bahwa aku tak akan membuang waktuku dengan hanya duduk-duduk atau istirahat, meski pada saat ‘istirahat’ seperti ini.