2 Agustus 2010

I am HOME


Some people live in a house on a hill
and wish there were some place else...
cause nobody there when the evening is still
secrets with no one to tell..
some I have known have the ship where they sleep..
the sounds of rocks on the coast..
they sail over ocean, five fathoms deep
they can’t find what they want the most...
and even now, I’m all alone,,,
i’ve always known, with you I’m home...
Wonosobo, 13 – 19 Juli 2010, hari-hari penuh kegembiraan, dan pengalaman. Ceritanya, kami magang di suatu tempat bernama PT. Rumpinary Agro Industry, sebuah perusahaan peternakan sapi potong yang cukup besar, dengan kandang berkapasitas 1200 sapi. Di perusahaan tersebut, ada 5 divisi utama, yaitu divisi keamanan, divisi kandang, divisi gudang, divisi kompos dan divisi administrasi dan keuangan.
Banyak sekali yang bisa diceritakan disini, tapi, aku tidak akan menyinggung tentang peternakannya, karena kali ini aku hanya ingin bercerita tentang kebersamaan kami di sana. Kami, yang terdiri atas beberapa perempuan yaitu aku, iin, mbak dwi, niyun, kiky, ari serta beberapa lelaki-lelaki kecil yaitu mas isna, mas husain, mas fajri, mas farihin, mas edi, yuli, nelson, ikhwal, sulkan, dan anto, merupakan rombongan mahasiswa peternakan undip semester 4 dan 2 yang berniat menimba ilmu di sebuah kegiatan bernama magang di perusahaan tersebut.
Kami datang hari selasa dengan gembiranya, karena disambut bangunan-bangunan yang indah dan bersih. Lalu singgah di masjid sebentar untuk sembahyang dan setelah itu menuju mess.
Di mess inilah kawan, awal petualanganku. Aku menyebutnya petualangan karena memang di sini sangat menantang untukku sendiri, entah dengan yang lain.
Sebelumnya, yang ada di pikiranku, yang namanya mess di sebuah perusahaan peternakan, adalah sebuah ruang dimana hanya ada kasur di dalamnya. Ternyata anggapanku salah besar, sama sekali salah. Bayangan di kepalaku terlalu sederhana, dan kenyataannya adalah sangat luar biasa mengagumkan. Ruangan bernama mess adalah rumah tingkat 2 dengan kamar yang luas, 2 kamar mandi, lantai 1 keramik dan lantai 2 terbuat dari kayu, mulai dinding hingga lantainya. Hufh...
Yang lebih mengagumkan lagi, ruang yang kami pakai untuk tidur adalah sebuah ruang dengan ukuran 5 m x 5 m, dengan satu pintu, dua jendela, berlantai keramik. Ya, itu saja, tanpa alas, tanpa almari, tanpa ranjang, apalagi kasur.
Pertama kali kami dikumpulkan di ruangan tersebut, sakit hati ini. Karena mas Apri (lulusan undip yang bekerja di sini) menyatakan permohonan maaf pada kami bahwa kasur yang dijanjikan tidak jadi dipinjamkan karena dipakai oleh para pekerja...
Ya, aku berusaha menerima semuanya dengan ikhlas, tanpa menggerutu, karena kami beruntung sudah membawa karpet dan dua tikar dari kos,,, awalnya kami berpikir, tega sekali para laki-laki pekerja itu, tidak menghormati tamu-tamu perempuan yang datang, hanya meminjamkan kasur seminggu saja mereka enggan. Namun, setelah kupikir-pikir dan kurasakan sendiri, aku pasti mampu bertahan di dini dengan kondisi macam itu... meski dalam keadaan Wonosobo yang begitu dingin menusuk tulang..
Hari-hari terus berlalu, aku tidak mempermasalahkan sang kasur, karena meski tanpanya, aku merasakan kenyamanan. Meski suhu di Wonosobo sangatlah rendah, aku merasa baik-baik saja karena bersama teman-teman yang selalu ceria... banyak sekali hal yang bisa menjadi pelajaran baru bagiku. Bahwa Tuhan masih memberiku kemampuan untuk hidup dalam keterbatasan.
Jika mengingat rumahku yang tidak terlalu jauh dari tempat magang, yang juga sama-sama dingin saat malam, aku pasti tidak betah di sini. Karena jika kedinginan di rumah, ibu menyediakan minuman dan makanan hangat, pun selimut dan jaket tebal yang begitu hangat untuk kukenakan. Pun dengan menonton televisi bersama ayah sambil berbincang tentang masa depanku...suasana hangat yang selalu kurindukan.. namun, meski dingin menyeruak tiap detik di sini, meski makan harus membayar, minum harus mencari, tidur tanpa kasur dan selimut tebal, aku merasakan “I am home” di sini. Karena kehangatan di rumah mampu tergantikan oleh hangatnya canda teman-teman, nikmatnya minuman hangat di rumah, mampu tergantikan oleh senyum ceria mereka, dan kebersamaan ini, persaudaraan yang indah ini, ukhuwah islamiyah ini, membuatku ada, membuatku merasa “I am home”...
Untuk teman-teman magangku, terimakasih telah menggantikan kehangatan rumah, terimakasih telah mau menampung keluhanku, telah rela berbagi denganku, telah dengan ikhlas membimbingku menjadi dewasa. Mbak dwi, terimakasih atas kedewasaanmu, mas husain, mas isna, mas fajri, mas farihin, mas edi,,terimakasih atas inspirasinya.. iin, kiky, niyun, ari,, terimakasih telah menjadi teman terbaikku untuk hari-hari itu... anto, yuli, nelson, sulkan, dan ikhwal, terimakasih telah bersedia selalu terlihat gembira di depanku, meski keadaan kita semua serba sulit... (ah, lebay...). tapi, sungguh, beberapa hari bersama kalian semua, telah sangat banyak menginspirasiku, dan meski aku tinggal di mess yang ‘terlalu indah’ itu,, ingin sekali kukatakan pada kalian satu persatu... “I always know, with you I am home...”
Dan untuk bapak dan ibu di rumah,,,, wherever I am, I feel I am home... because you’re always here in my heart...
(perlu diketahui juga, sehari setelah aku menulis ini, para lelaki kecil pemberani itu dengan jantannya meminjamkan kasur agar kami bisa tidur dengan nyaman. Meski hanya dua malam,,,but that’s okay guys.... thanks for all you’ve done for me and my life)...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar