23 Februari 2013

Habibie Ainun dan Kesamaan Frekuensi


Saya habis nonton film Habibie Ainun, tanggal 22 Februari 2013. Telat banget, memang!
Tapi ya saya memang begini, lebih memilih telat tapi mengalami sendiri daripada mendengarkan cerita orang.
Kemarin-kemarin, teman-teman saya sudah bercerita bahwa setelah menonton film ini, mereka banjir air mata. Dan memang begitulah adanya, banjir air mata waktu berakhir filmnya..dengan ending yang menyedihkan..T.T
Saya tidak ingin banyak berkomentar mengenai isi film itu, karena pasti sudah banyak yang menceritakan kembali, menonton sendiri, atau membaca bukunya..
Memandang dari sudut pandang yang berbeda, saya malah membayangkan, dan memikirkan bagaimana orang-orang hebat itu berumah tangga.. selain Pak Habibie dan Bu Ainun, pasangan-pasangan di dunia ini pasti punya kisah cinta yang menarik..
Dan mengapa cinta mereka bisa menarik, karena ya memang ada campur tanganNya..
Dan intinya, memang, untuk mendapatkan seorang pangeran, kita (karena saya wanita) harus menjadi seorang putri..
Namun bukan berarti kita mengharuskan diri kita kaya untuk mendapatkan pasangan yang juga kaya, bahkan kita tidak harus cantik untuk mendapatkan pasangan yang tampan..yang semestinya adalah memang, jika ingin mendapatkan suami sholeh, ya kita harus menjadi wanita sholehah.. perempuan baik dapat laki-laki baik lah..
Begitu juga dengan kecerdasan. Jika kita ingin memperoleh pendamping yang cerdas, kita juga harus berani menjamin diri kita cerdas.. TAPI, tidak usah dipaksakan minta dijodohkan sama teman kita yang sekiranya memiliki kecerdasan yang sama...
Saya jadi kepikiran, memang ya, kita tidak akan pernah cocok ketika dihadapkan dengan ‘mereka’ yang frekuensinya tidak sama.. entah mereka terlalu tinggi, maupun, mohon maaf, terlalu rendah..
Coba saja kita yang tidak secerdas bu Ainun ini, dihadapkan dengan orang sejenius Pak Habibie, pasti akan ngos-ngosan... begitu pula jika tiba-tiba, kemampuan kita setara dengan bu Ainun, dan harus selalu hidup berdampingan dengan orang yang pemalas, kurang cerdas dan kurang kritis, pasti kita akan lebih banyak mengalamii tekanan batin..
Dan yang saya pelajari dari film itu adalah, bahwa bagaimanapun keadaan kita, Allah pasti akan memasangkan kita dengan pasangan terbaik yang sesuai dengan dirii kita, tanpa kita harus memaksakan...
Waktu SMA dulu, Pak Habibie menyatakan kalau Bu Ainun gendut, hitam, dan kayak gula jawa, bukan? Tapi nyatanya Allah mempertemukan mereka kembali dalam ikatan pernikahan sampai terpisah oleh maut...
Kalau mereka tidak jodoh, bisa saja kan ejekan ‘gula jawa’ itu hanya akan menjadi kenangan yang ‘hanya’, tanpa ada kenangan lain berupa ‘gula pasir’?
Tapi rencana Allah memang yang terbaik, dua insan yang baik itu dipertemukan sehingga mencatatkan sejarah..
Begitu pula kisah hidup kita,, (terutama untuk yang masih lajang), ejekan-ejekan teman-teman tentang kita pasti hanya sambil lalu.. tapi jika kemudian kita dipertemukan dalam suatu ikatan olehNya, kita pasti akan mengingat-ingat kembali setiap kenangan bersama.. jikapun diikatkan dengan orang yang bukan ‘teman sekolah’, pasti kita akan selalu ingat kapan, bagaimana, dimana, dalam situasi apa kita dipertemukan dengan orang yang akhirnya berikat dengan kita...
Aih, dan Dia pasti mempertemukan kita dengan yang terbaik untuk kita, tanpa kita harus memaksakan jalan cerita..
Dan tentang kesamaan frekuensi itu, saya boleh kan memastikan, bahwa setiap kita pasti memiliki frekuensi yang ‘hampir sama’ dengan teman-teman kuliah, atau teman sekolah kita dulu, atau teman bermain, atau teman satu organisasi, atau teman satu tempat kerja, karena memang hal-hal yang dibicarakan di dalamnya adalah hal-hal yang masih berhubungan dengan pemikiran di masing-masing tempat.,, Masalah jodoh, kita memang pasti akan mendapatkan yang frekuensinya sama, tapi kan tidak pasti juga ada di dalam kesamaan-kesamaan wadah dimana kita ‘menemukan’ kesamaan frekuensi itu..
Maka memang tidak ada yang bisa memaksakan,,, pasrahkan saja semua pada Sang Pencipta Frekuensi, agar Dia yang menentukan, dimana, bagaimana, kapan, dan mengapa kita harus dipertemukan dengan si pemilik frekuensi yang sama... ;)

3 komentar:

  1. Pernah saya mendengar ceramah langsung dari seorang hafidz. Waktu SMA, dia benci banget ama Rohis. Sampai-sampai dia sabotase acaranya. Dia juga pernah ikut geng berandalan.

    Singkat cerita, orang ini mendapat hidayah. Hingga setelah banting tulang, peras otak, ia bisa jadi penghafal Qur'an.

    Setelah itu ia dijodohkan oleh gurunya ke seorang akhwat. Akhwat ini mengiyakan karena tahu sang guru tidak sembarangan memilihkan jodoh untuknya. [setahu saya, si Akhwat juga hafal qur'an]

    Mereka belum ketemu hingga hari pernikahan. Setelah menikah, sang istri kaget kalau ternyata suaminya adalah orang yang sama dengan penyabotase acara Rohis waktu SMAnya dulu.

    Ya, akhwat ini adalah salah seorang anggota Rohis yang dulu acaranya ia sabotase.

    BalasHapus
  2. saya juga pernah denger cerita dari temen, ada ikhwan-akhwat yg dijodohkan via kelompok halaqah, dan entah kenapa, mrk tdk cocok dan setelah punya anak 1, malah bercerai, ternyata si ikhwan punya 'akhwat idaman lain'.. sudah menikah pun, bukan jaminan jodoh...

    *btw, saya kok gak bisa buka blog ente ya?

    BalasHapus