10 September 2015

Temanggung Meat Rabbit



Terakhir saya berpanjang cakap dengan Mas Asep adalah ketika saya masih menjadi staffnya di Himpunan Mahasiswa S1 Peternakan UNDIP, bertahun yang lalu, pun cakap kami adalah tentang perdebatan AD ART HM yang kurang jelas, begitu ingatan saya. Dan lalu, kami bertemu kembali, 8 September 2015 saat beliau sudah menyelesaikan Master nya di UNDIP, sudah mengelola peternakan kelinci di Mudal, Temanggung, yang adalah terbesar se-Jawa Tengah, sementara saya masih menyandang gelar mahasiswa.
Saya sengaja menemui beliau karena diajak teman saya, Riri, untuk kepentingan penelitiannya yang menggunakan kelinci sebagai objek.
Pagi itu, sekitar pukul 9 kami sampai di Temanggung, singgah sebentar di alun-alun untuk istirahat setelah perjalanan kami dari Semarang. Usai mengirim beberapa pesan pada Mas Asep, kami diberi arah menuju peternakan, yang ternyata tidak sulit untuk dicari karena terletak di sebuah pemukiman persis di depan jalan masuk menuju Pikatan Waterpark, wahana air yang cukup terkenal seantero Temanggung.
Kami disambut di ruang tamu sederhana di depan peternakan kelinci, yang lokasinya jadi satu juga dengan budidaya ikan air tawar. Menyenangkan sekali mengingat Temanggung memiliki air melimpah dan udara yang sangat sejuk, cocok untuk budidaya ikan maupun pengembangan peternakan.
Obrolan kami pun bermula, membincangkan apa saja, terutama tentang genetika karena objek penelitian Riri adalah tentang hal tersebut, yang saya sendiri tidak begitu paham.
Mas Asep menjelaskan secara singkat bahwa kelinci yang beliau kelola sekarang berjumlah kurang lebih 600 ekor. Hasil utamanya adalah Tamara (Temanggung Meat Rabbit) yang merupakan persilangan kelinci New Zealand dan kelinci lokal.
Saya dan salah satu kelinci New Zealand

Awal mulanya, beliau mengembangkan kelinci dari penelitian untuk gelar master. Semakin lama, ada investor yang menawarkan kerjasama. Lalu Mas Asep memulai dengan mengimpor tujuh ekor kelinci New Zealand dari California, Amerika.
“Satu ekor dulu jatuhnya jadi sepuluh juta, karena impor itu. Dan agak susah perijinannya” kata mas Asep.
“Pas dulu juga pernah mati tiga ekor, karena cukup sulit adaptasi” lanjutnya.
“Itu kena apa aja mas kok bisa mati?” tanya saya polos :D
“Ya Cuma susah adaptasi aja sih. Pakannya kan aku ga gitu ngerti di sana dikasih apa, tapi untungnya dibawain sedikit. Terus cuacanya juga..”
“Eman-eman ya.. Ya tapi sekarang kan sudah berhasil..” timpal saya kemudian.
“Haha iya..”
“Terus mas, Tamara itu gimana sih maksudnya?” kembali saya bertanya.
“Ya hasil kawin silang, F3 nya. Jadi kan awalnya new zealand dikawinkan sama lokal. Trus anakannya kan F1, 50:50. Nah dari F1 ini dikawinkan sama induk yang new zealand, jadi 75:25 gitu”
“Ooh ya ya..”
“Tamara itu strain aja sih, yang aku jual kemana-mana itu. Jadi kelinci potong”
“Jualnya udah kemana aja mas?”
“Ya Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur.. alhamdulillah sih pasarnya udah ada.. Kalo bibit aku ya jual, kemarin ada pesanan ke Salatiga, udah beberapa kali sih. Harganya kalo bibit, induk, 600 ribu per ekor. Kalo potong, 37 ribu per kilo”
“Wehehee..”
“Ya sampe sekarang juga indukannya masih pada inden, saking banyaknya pesanan”
Obrolan kami berlanjut sampai tentang teman-teman mahasiswa peternakan UNDIP yang asli Temanggung, sudah pada dimana, dan lain sebagainya. Sampai akhirnya kami diajak ke kandang kelinci yang ada di belakang ruang tamu dan mess. FYI, di lingkungan itu selain ada kandang kelinci, kolam ikan, gudang pakan, mess, ruang tamu, juga tersedia mushola dan toilet dengan air yang melimpah, jadi jangan khawatir.
Oke lanjut ya.
Saya takjub, gumun, kagum. Ya iyalah saya adik kelas Mas Asep dari jaman SMP, ndilalah SMA juga, sampai pun masuk peternakan UNDIP, kenal beliau sebagai sosok yang diam dan (maaf mas, bullyable oleh teman-temannya), sekarang sudah mengelola peternakan kelinci sampai beratus-ratus begitu. Heheee.. Maafkeun ya suka heboh.
Oke paragraf di atas bisa di skip.
Mas Asep sedang menuliskan pesan rahasia :D

Peternakan kelinci ini terdiri atas dua kandang besar, satu kandang berisi para pejantan, satu kandang berisi induk, anakan, sekaligus kelinci potong siap panen. Beberapa kelinci tampak masih dijadikan satu, karena baru melahirkan, ataupun kelinci yang belum disapih. Untuk yang baru-baru disapih, disiapkan kandang yang berhimpitan dan dilengkapi pintu kecil pemisah dengan induknya.
kandang dan barisannya

Bangunan kandang terbuat dari besi yang cukup kuat, saya tidak jeli berapa jumlah tiap barisnya. Hanya saja yang sempat terekam adalah masing-masing baris dilengkapi dengan tempat pakan, galon, selang dan nipple untuk saluran minum, tempat kotoran, dan lis pralon yang digunakan untuk menampung urine.
satu set kandang kelinci
selang dan nipple
“Mas ini kotorannya diapain?”
“Dijual to, semua aku jual, urinnya juga aku jual”
“Ohiya? Dijual kemana? Diolah dulu juga?”
“Kalo fesesnya dicampur pucuk tebu dulu, kalo urin dijual gitu aja, nanti ada yang ambil”
 
feses yang sudah dicampur pucuk tebu
 “Dijualnya kemana mas? Petani ya?”
“Ke pabrik pupuk, di Sragen (atau Klaten gitu-nurul lupa)”
“Wah seru ya.. Oiya kalo pakannya bikin sendiri juga ya?”
“Iya itu ada mesinnya juga..”
“Bahannya apa mas? Bran gitu, bungkil kedele, sama apa aku lupa formulasinya..”
“Pakai hijauan gitu?”
“Pakenya sumber serat sih, pake kulit kacang. Kalo dulu pake rumput meksiko, pernah pake hijauan lain juga, tapi harus ngeringin, cacah, ga efisien jadinya. Ya udah aku cari alternatif lain yang murah juga..”
pakan dalam bentuk pelet
“Ooo.. terus, formulasinya gimana itu mas?”
“Aku sih ga njelimet pakenya, asal fesesnya bagus ya lanjut, kalo fesesnya terlalu lembek berarti kurang serat, kalo terlalu keras, gede-gede gitu, berarti seratnya harus dikurangi..”
pakan untuk masing-masing fase fisiologis
“O gitu.. itu kan bentuknya pelet ya mas, pengeringnya pake apa?” kepo deh saya ya..
“Itu keluar mesin langsung kering..”
“Oo yaa.. keren, keren” Emang gumunan..
Anak kandang yang ada waktu kami berkunjung hanya dua orang, selebihnya sedang mengurusi panen tembakau, maklum, bulan-bulan ini adalah panen raya bagi para petani di Temanggung. Namun, dua orang tersebut cukup untuk mengelola sekian ratus ekor kelinci, salah satu kelebihan peternakan kelinci ya..

dirigen penampung urine

kumpulan kotoran, uang!
Selain perhatian pada kandang, pakan, pengolahan limbah, yang menjadi catatan penting bagi kami adalah bahwa Mas Asep benar-benar memperhatikan recording perkawinan semua kelincinya.
“Itu catatan apa mas?” tanya saya sambil menunjuk papan tulis besar di dalam kandang yang penuh tulisan kecil-kecil (sayang saya lupa mengambil gambarnya)
“Recording, tiap kelinci punya nama. Biar gampang kalo mau kawinin”
Nah! Ini juga salah satu keunggulan para peternak ‘terdidik’, tidak tanggung-tanggung dalam mengelola peternakan. Benar-benar diperhatikan bahkan perkara nama masing-masing ternaknya.
Di meja dalam kandang juga terdapat beberapa buku catatan produksi, riwayat penyakit dan sebagainya.
Kalau sudah begini saya ingat betul perkataan orang-orang yang meragukan para pengambil jurusan peternakan.
induk dan anak-anaknya
“Buat apa sih sekolah peternakan? Wong Pak Ini Pak Itu yang gak sekolah aja pinter angon wedhus (melihara kambing) dan sukses. Apa kamu ternak tuyul aja biar cepet kaya” Kata salah seorang komentator ketika semester awal saya kuliah di peternakan dulu.
Dengan sekolah peternakan, setidaknya kami tahu bagaimana memuliakan makhluk hidup, terutama hewan. Bagaimana menjadikannya bukan hanya pemenuh kebutuhan, tapi juga teman, tapi juga partner, meski ujung-ujungnya dimatikan. Hehe. Tapi setidaknya kami jadi tahu bagaimana mengatur peternakan dengan baik sehingga lebih menguntungkan baik untuk pribadi maupun lingkungan sekitar.
Sudah ah, jangan malah marah-marah. Hehee.
Lanjut sedikit lagi cerita tentang Mas Asep. Dalam waktu dekat, beliau sedang berusaha memformulasi pakan kelinci yang lebih efisien dan terjangkau. Beliau ingin memproduksi pakan untuk dapat dikomersilkan, tentunya untuk menambah penghasilan dan memperluas jaringan usaha.
Akhirnya setelah sekian waktu merusuhi mas Asep and his Tamara, kami pamit pulang.
“Kami pamit dulu ya Mas.. makasih sudah mau direpotkan..”
“Ya puas-puasin dulu lihat-lihatnya. Oiya prof Edy diajak kesini aja to Ri.. biar lihat kelincinya..”
“Haha iya mas kapan-kapan deh”
“Lha iya wong Prof Edjeng aja pernah nginep di sini kok..”
“Oow oke oke mas.. Siap lah”
NB : Prof Edy dan Prof Edjeng adalah dua dari sekian profesor kami di kampus UNDIP tercinta. 

Ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan saya bersama Riri dalam bertemu mas Asep. Bahwa sebagai insan peternakan, sebisa mungkin memang harusnya kami berkecimpung di bidang peternakan, toh jika kita dapat memanfaatkan peluang dengan baik, rejeki ga kemana. (Semoga ga omdo ya neng cantik). Selain itu, terutama bagi para mahasiswa baru di jurusan peternakan, jangan berkecil hati, we can feed them who doubt of our future! :D. Ah dan satu lagi khususnya, bahwa Temanggung masih amat sangat potensial untuk pengembangan peternakan, iklimnya, sumber dayanya, dan tentu harus, manusianya... 

Nantikan succes story tentang peternakan di Temanggung ya! Bisa jadi kita yang jadi pemeran utama.. Aamiin.

2 komentar:

  1. Kak kira kira kalo buat magang usaha ini cocok gak ya? Saya cari peternakan di temanggung tapi belum tahu peternakan mana yang kira kira bisa dibuat magang.
    Mohon bantuannya kak siapa tahu kakak punya informasi tentang peternakan yang lumayan besar di temanggung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sayang sekali anonim ya.. Maaf sy lama tidak buka blog, Dan maaf saya sudah lama jg tdk kontak dg Mas Asep, beliau juga sekarang lagi ambil S3 di Jepang.. Kalau di Temanggung sih ada peternakan sapi perah di Rowoseneng atau di Kedu Susu juga setahu saya bisa.. Atau kalau mau di ayam kampung di maron jg bisa..

      Hapus