2 April 2014

Sedikit Cerita tentang Temanggung



Temanggung memang tidak cukup terkenal seperti beberapa kota lain di dekatnya, Wonosobo (di sebelah barat), Magelang (di sebelah tenggara), Semarang (di sebelah timur laut) dan Kendal (di sebelah utara). Namun, bagi mereka yang pernah mendaki ke dua gunung kembar legendaris, Sindoro-Sumbing, pasti sedikit banyak tahu kota ini, karena akses paling nyaman untuk mendakinya ada di Kledung, salah satu kecamatan di Kabupaten Temanggung. Juga bagi para pecinta tembakau, Temanggung setidaknya menempati posisi cukup penting di hati mereka. Ya kali, ini menurut saya. :D.
Kota ini memiliki semboyan BERSENYUM -yang juga kurang familiar kita dengar, karena memang tidak terdapat di kamus bahasa Indonesia, kita lebih banyak mendengar kata SENYUM dan TERSENYUM, bukan?. Namun, filosofi kata BERSENYUM sangat boleh kita telusuri. BERSENYUM merupakan akronim dari kata-kata BERsih Sehat Elok Nyaman Untuk Masyarakat, yang jika kita cermati, kata-kata tersebut adalah doa, agar kota kecil ini selalu senantiasa bersih, sehat, elok dan nyaman untuk masyarakat. Tidak heran jika Temanggung sudah beberapa kali mendapat penghargaan Adipura karena kebersihannya yang terjaga.
Selain kotanya yang kurang terkenal dan semboyannya yang cukup absurd di telinga, objek wisata di Temanggung juga kurang banyak terekspos. MAKA DARI ITU, saya sebagai warga asli Temanggung yang sudah sejak lahir bercokol di kota paling nyaman versi saya ini, akan mengenalkan sedikit objek wisata yang ada di kota ini.
Akhir-akhir ini, saya banyak menyimak berita tentang beberapa tempat bersejarah di Facebook Seputar Temanggung dan twitter @Temanggungan. Dan tanggal 30 Maret 2014 kemarin, saya menyempatkan diri untuk pergi ke beberapa objek wisata bersejarah di Temanggung.
Tujuan pertama saya adalah Situs Liyangan, terletak di Dusun Liyangan Desa Purbosari Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung. Tiket masuk ke objek wisata ini hanya lima ribu rupiah. 

 
tiket masuk yang diberikan warga sekitar

Berdasar obrolan singkat dengan petugas yang sedang berjaga di lokasi, puing situs Liyangan pertama kali ditemukan oleh warga sekitar yang menambang pasir di daerah tersebut pada tahun 2008. Lalu, pada tahun 2009, pemerintah mengambil alih lokasi tersebut untuk digali lebih lanjut dan menjadikannya sebagai salah satu objek wisata di Temanggung, sampai saat ini, pemerintah sudah mengganti lahan warga seluas 8 ha untuk menggalinya lebih dalam dan menyusunnya satu persatu kembali menjadi candi.

Dahulu, Situs Liyangan merupakan salah satu kawasan peribadatan bagi umat Hindu Kerajaan Mataram Kuno. Hingga saat ini, sudah banyak akademisi yang akan menggalinya lebih dalam.

Terletak 35 km dari puncak gunung Sindoro, Situs Liyangan menjadi bukti kedahsyatan letusan Sindoro. Selain puing-puing candi, di situs tersebut juga ditemukan beberapa guci dan peralatan rumah tangga baik yang masih utuh maupun sudah berupa pecahan. 
 guci jaman Dinasti Tang


Ada juga beras yang sudah menghitam karena tersimpan di dalam guci. Menurut analisa saya (jiaah gaya banget sok sejarawan), bisa jadi beras tersebut menghitam karena suhu tinggi dari material gunung Sindoro yang menimbun guci tersebut. Sederhananya, seperti kita tahu, semakin panas suhu yang menempa, guci dari tanah liat akan semakin baik kualitasnya, tapi tidak dengan beras yang ada di dalamnya. Ia mengalami kegosongan dalam tempo waktu tertentu. Namun menariknya, beras tersebut masih berbentuk seperti beras, tidak hancur, meski sudah menghitam jadi arang.

Banyak sekali berita yang memuat cerita tentang betapa situs Liyangan merupakan bekas pemukiman dan tempat pemujaan yang cukup besar bagi masyarakat Mataram Kuno di lereng timur Sindoro. Situs Liyangan merupakan penemuan penting karena mencakup situs peribadatan, pemukiman dan pertanian sekaligus. Dalam beberapa berita, para ahli gabungan mulai dari ahli sejarah, ahli batuan hingga ahli botani diterjunkan untuk meneliti lebih Situs Liyangan jauh. Menurut cerita beberapa sesepuh di sekitar saya, Temanggung memang dulunya merupakan perkampungan besar Mataram Kuno. Dan ditilik dari paham kebatinan yang masih kental di beberapa daerah di Temanggung, sepertinya memang kerajaan besar dengan agama Hindu-nya itu pernah tumbuh di lereng Sindoro ini. 


 
jalanan batu yang nampak adalah asli bagian situs Liyangan

 
peradaban Mataram Kuno kala itu sudah besar

Selain ke situs Liyangan, saya menyempatkan mampir sebentar ke Candi Pringapus yang ada di Desa Pringapus, masih kecamatan Ngadirejo. Candi tersebut juga bagian dari tempat peribadatan umat Hindu Mataram Kuno. Di dalam candi Pringapus terdapat patung sapi berpunuk dengan posisi duduk, atau biasa disebut nandi. Selain candi dan nandi, di areal kecil tersebut terdapat yoni dan arca. Berdasar keterangan yang ada di sana, candi Pringapus ditemukan berdekatan dengan Candi Perot. Hanya saja, sayangnya candi Perot tinggal reruntuhan.
candi Pringapus

letaknya di tengah pemukiman, pas di pinggir jalan
 
 patung nandi, di dalam candi

yoni, reruntuhan Candi Perot yang masih dijajarkan di sekitar Candi Pringapus

Keluar dari area Candi Pringapus, saya menuju Dusun Sengon di Desa Banjarsari, masih di Kecamatan Ngadirejo. Di sana saya mengunjungi Waduk Sengon yang merupakan waduk kecil yang mengairi areal sawah seluas 110 Ha.


Yang menarik dari waduk tersebut adalah, mata air yang terletak di bawah waduk. Sistem perairannya unik, dengan pompa Hidram (buatan Pak Joko Susilo yang legendaris itu), air dari mata air yang ada di bagian bawah waduk dialirkan ke atas untuk ditampung di waduk, dan dilanjutkan mengairi beberapa rumah warga dan areal persawahan di sekitar.

pompa hidram

pompa hidram yang terletak di bawah waduk

tampungan air, SEGAR!

di bagian bawah ada dua pancuran, sering digunakan warga sekitar untuk cuci-cuci..

keterangan pemerintah Kabupaten Temanggung tahun 1975


keterangan rehab dari PDAM tahun 1998/1999


 keterangan rehab dari PNPM Mandiri, tahun 2013

Sekian, dalam waktu dua jam, saya mengunjungi ketiga tempat legendaris di lereng timur Gunung Sindoro. Sepulang dari perjalanan, saya yang kala itu bersama saudara, menyempatkan mampir untuk makan bakso di warung bakso Klimbungan, Ngadirejo. Ah! Ada yang khas Temanggung juga yang akan saya ceritakan.
Anda sudah sering makan bakso kan, ya? Nah, sedikit cerita, di warung bakso Klimbungan dan beberapa warung bakso lain di Temanggung, selalu disediakan ketupat sebagai pelengkap sajian bakso, selain mie kuning dan bihun, tentu. Kuliner yang terkenal yaitu bakso uleg, dimana terdiri atas bakso seperti umumnya, mie, lalu dilengkapi dengan ketupat. Yang membedakan hanya sebelum menuangkan bakso ke dalam mangkok, pedagang terlebih dahulu meng’uleg’ cabai langsung di mangkok. Cabai yang dipakai biasanya cabai rawit. Kita bisa me-request ingin berapa cabai yang disertakan. Yaa, itu sekilas cerita tentang bakso uleg. Tapi maaf, bakso di Klimbungan itu bakso biasa, rasanya lumayanlah. Haha. Dan yang perlu Anda tahu adalah, bahwa saya pernah mencari ketupat di beberapa warung bakso di Semarang (tempat saya menuntut ilmu), dan saya malah ditertawakan, terimakasih :D. THAT’S WHY, I know bakso kupat is originally from Temanggung :P.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar